GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM — Jerit pilu tak berujung terus menggema dari Jalur Gaza. Dalam laporan yang mengguncang nurani dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bahwa sekitar 1.500 jiwa telah meregang nyawa sejak Mei 2025—semua terjadi saat mereka hanya berusaha mencari setitik harapan berupa bantuan kemanusiaan.
Fakta memilukan ini dirilis pada Senin (4/8/2025) waktu setempat, sebagaimana dilansir kantor berita Anadolu.
Baca Juga: Profesor Australia Sentil OKI: Kuat Retorika, Lemah dalam Aksi Gaza dan Afghanistan
Baca Juga: PM Palestina Desak Hamas Serahkan Kendali Gaza, Prancis Siap Akui Negara Palestina
Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 63 Warga Gaza di Tengah “Jeda Kemanusiaan” Palsu
“Banyak orang dilaporkan terus menjadi korban tewas dan luka-luka, termasuk mereka yang sedang mencari makanan di sepanjang rute konvoi PBB dan titik distribusi yang telah dimiliterisasi,”
— Farhan Haq, Juru Bicara Deputi Sekretaris Jenderal PBB.
Tragedi seakan tak memberi jeda. Dalam lanjutan keterangannya, Haq menegaskan bahwa seorang tenaga medis Palang Merah Palestina turut menjadi korban kebiadaban. Ia gugur dalam serangan udara Israel di Khan Yunis, Gaza selatan, pada Minggu (3/8/2025).
Skema bantuan yang semula diharapkan menjadi penyelamat, kini justru menjadi pusaran kecaman. Sejak diluncurkan pada 27 Mei lalu, program bantuan kemanusiaan yang disokong oleh AS dan Israel justru dituding menjadi “jebakan maut” bagi warga sipil yang kelaparan.
Saat ditanya terkait kritik terhadap reputasi PBB dan ketidakmampuannya menghentikan tindakan Israel—termasuk rencana aneksasi lanjutan atas wilayah Palestina—jawaban Farhan Haq terasa getir, namun tetap menyala dengan harapan.
“Rekam jejak kami mencakup keberhasilan diplomatik dan bantuan kemanusiaan yang membantu menyelamatkan miliaran jiwa,”
ujar Haq, seraya menambahkan,
“kurangnya kesatuan internasional, terutama di Dewan Keamanan PBB, menjadi hambatan besar bagi efektivitas organisasi tersebut.”
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza mengungkap statistik yang menyayat hati: sejak 27 Juli, hanya 674 truk bantuan yang diizinkan Israel masuk—baru 14 persen dari kebutuhan harian Gaza yang mencapai 600 truk. Pada Minggu saja, dari 80 truk yang berhasil masuk, banyak yang justru dijarah, menggambarkan betapa parahnya “iklim kekacauan dan kelaparan yang sengaja diciptakan.”
Baca Juga: Putaran Baru Perundingan Hamas-Israel Digelar Senin, Gaza Masih Tercekik Blokade
Israel dituding menjadikan kelaparan sebagai senjata, sebuah tuduhan keras dari otoritas Gaza yang mencerminkan keputusasaan dan penderitaan kolektif rakyatnya.
Sejak dimulainya ofensif militer Israel pada 7 Oktober 2023, angka korban tewas telah menembus 60.000 jiwa lebih, dengan hampir separuhnya adalah perempuan dan anak-anak. Gaza, yang dahulu menggeliat dalam perjuangan, kini terkulai di ambang kehancuran total dan kelaparan massal. Tak hanya bangunan yang hancur, tapi juga asa dan kemanusiaan yang terus terkikis. ***
