PALESTINA, LINTASSRIWIJAYA.COM — Di tengah deru bom dan jerit pilu di Jalur Gaza, jumlah warga Palestina yang dikurung di penjara-penjara Israel terus membengkak, menyisakan kisah derita yang jarang terdengar.
Hingga awal Juli 2025, setidaknya 10.800 jiwa mendekam di balik jeruji besi, menurut data gabungan dari Otoritas Urusan Tahanan Palestina, Klub Tahanan Palestina, dan Lembaga Addameer untuk Hak Asasi Manusia.
Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!
Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut
Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka, ada ayah yang direnggut dari keluarganya, ada anak-anak yang tidur di lantai dingin tanpa pelukan ibu, dan ada perempuan yang dipaksa menghadapi malam-malam panjang tanpa kepastian.
Jumlah tersebut adalah yang tertinggi sejak Intifadah Al-Aqsa tahun 2000—tanda bahwa krisis ini tak hanya belum reda, tapi semakin dalam.
Data tersebut bahkan belum mencakup ribuan warga Gaza yang kini ditahan di kamp-kamp militer, tanpa akses hukum, tanpa nama, tanpa suara. Mereka tidak tercatat secara resmi. Seolah-olah keberadaan mereka dihapus dari dunia.
Dari jumlah total, terdapat 50 perempuan, dua di antaranya berasal dari Gaza, serta 450 anak-anak. Anak-anak—yang seharusnya bermain dan belajar—kini hidup di balik kawat berduri, dalam ketakutan abadi.
Baca Juga: PBB Sebut 1 dari 3 Warga Gaza Tak Makan Berhari-Hari, Israel Diduga Halangi Bantuan
Baca Juga: Kapal Hanzala Siap Berlayar ke Gaza: Misi Kemanusiaan untuk Anak-anak yang Terluka
Yang paling mencengangkan, 3.629 orang ditahan tanpa dakwaan. Tanpa pengadilan. Tanpa kesempatan membela diri. Mereka menjadi korban dari sistem penahanan administratif yang seolah tak mengenal hukum, keadilan, atau belas kasih.
Lonjakan penahanan ini terjadi sejak dimulainya operasi militer darat Israel di Gaza pada 27 Oktober 2023. Ribuan warga sipil diciduk: perempuan, anak-anak, tenaga medis, hingga petugas pertahanan sipil—semua disapu dalam gelombang penangkapan massal.
Beberapa yang dibebaskan kembali ke rumah dalam kondisi fisik menyedihkan—kurus kering, tubuh penuh memar, mata kosong tanpa harapan. Mereka membawa luka yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Berbagai organisasi hak asasi manusia, termasuk dari dalam Israel sendiri, telah membunyikan alarm tentang praktik penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang dialami para tahanan Palestina.
Baca Juga: Komisi Eropa: Tidak Ada Bukti Hamas Curi Bantuan di Gaza
Baca Juga: Ribuan Bayi Gaza Lapar dan Tak Punya Ibu: Setiap Menit Bisa Jadi Nafas Terakhir Mereka!
Ironisnya, perlakuan ini sangat kontras dengan bagaimana warga Israel yang sempat ditahan oleh Hamas diperlakukan. Banyak dari mereka dibebaskan dalam kondisi sehat, dan bahkan mengakui diperlakukan manusiawi selama penahanan mereka di Gaza.
Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel merespons dengan kampanye militer besar-besaran yang disebut banyak pihak sebagai genosida. Pembunuhan massal, penghancuran rumah sakit dan sekolah, blokade makanan dan air, serta pengusiran paksa menjadi bagian dari realitas sehari-hari di Gaza.
Hingga kini, lebih dari 194.000 warga Palestina tewas atau terluka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.000 orang dinyatakan hilang, dan ratusan ribu lainnya terusir dari rumah mereka. Bencana kelaparan juga telah merenggut nyawa, termasuk puluhan anak-anak yang mati perlahan di pelukan ibu mereka.
Baca Juga: Ini Bukan Film, Ini Gaza: 700.000 Ribu Warga Mengungsi, Gaza Terancam Kelaparan dan Blackout
Baca Juga: Tangisan Gaza Tak Berujung: Lebih dari 57 Ribu Jiwa Terkorban dalam Serangan Brutal Israel
Semua ini terjadi di tengah dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat, serta keacuhan Israel terhadap seruan dunia internasional dan perintah Mahkamah Internasional.
Satu dunia melihat. Tapi dunia diam.
Sementara itu, Palestina terus berdarah.
Dan mereka yang bertahan, hidup dalam penjara yang tak pernah mereka pilih. ***
