100 Tewas, Anak-Anak Jadi Korban: Gaza Kembali Dibombardir, Dunia Masih Diam

100 Tewas, Anak-Anak Jadi Korban: Gaza Kembali Dibombardir, Dunia Masih Diam

100 Tewas, Anak-Anak Jadi Korban: Gaza Kembali Dibombardir, Dunia Masih Diam. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Pagi yang biasa di Gaza berubah menjadi neraka. Sedikitnya 100 warga Palestina dilaporkan gugur akibat rentetan serangan udara Israel sejak Selasa (9/7/2025) pagi waktu setempat.

Ledakan demi ledakan mengguncang langit Gaza—dan menghancurkan puluhan nyawa tak berdosa dalam hitungan detik.

Baca Juga: Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza

Baca Juga: KEJAM!, Menteri Sayap Kanan Israel Serukan Penghentian Bantuan Gaza: “Biarkan Mereka Kelaparan”

Malam harinya, teror belum usai. Pasukan Israel menyerbu kamp pengungsian di wilayah barat Khan Younis—tempat terakhir yang masih dipercayai keluarga-keluarga sebagai “aman”.

Tapi bahkan tenda-tenda lusuh itu tak luput dari rudal. Artileri Israel juga menghantam Kamp Shati di barat Kota Gaza. Hujan peluru mengguyur, meninggalkan puing, darah, dan suara jeritan anak-anak.

Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!

Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut

Media lokal membagikan video memilukan: tubuh-tubuh mungil yang tak lagi bergerak, wajah-wajah kecil penuh debu dan luka, serta tangan-tangan kecil yang tak sempat bermain lagi. Dunia melihat—tapi masih bisu.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 57.500 jiwa telah hilang dari bumi Gaza. Mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak. Mereka tak sedang di medan perang—mereka sedang mencoba bertahan hidup.

Di tengah kehancuran total infrastruktur, kelaparan akut, dan mewabahnya penyakit, Gaza kini benar-benar nyaris mati.

Baca Juga: PBB Sebut 1 dari 3 Warga Gaza Tak Makan Berhari-Hari, Israel Diduga Halangi Bantuan

Baca Juga: Kapal Hanzala Siap Berlayar ke Gaza: Misi Kemanusiaan untuk Anak-anak yang Terluka

Sementara itu, suara diplomasi dunia masih terjebak di meja perundingan, terlalu lambat untuk menyelamatkan mereka yang sudah keburu pergi.

Gaza sedang berdarah. Dan dunia masih menatapnya… lewat layar. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *