LINTASSRIWIJAYA.COM — Di balik reruntuhan dan kepulan debu di Jalur Gaza, ada jeritan yang nyaris tak terdengar—jeritan 55.000 perempuan hamil yang kini bergulat antara hidup dan mati, di tengah genosida brutal dan blokade mencekik oleh Israel.
Dalam laporan pilunya, Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) mengungkapkan bahwa puluhan ribu perempuan tersebut tengah mengandung di medan kehancuran, sementara dunia terus menatap dengan kebisuan yang nyaring.
Baca Juga: Korban Serangan Terbaru Israel di Gaza Capai 132 Orang, 94 di Antaranya Sedang Antre Bantuan
Baca Juga: Kematian Akibat Kelaparan di Gaza Meningkat, Krisis Kemanusiaan Kian Parah
Ribuan di antara mereka diprediksi akan melahirkan bulan depan, meski nyaris tak ada fasilitas yang layak untuk menampung kehidupan baru.
Sistem kesehatan di Gaza kini nyaris lumpuh total. Rumah sakit kekurangan segalanya—mulai dari pasokan dasar hingga peralatan medis vital.
Ruang bersalin berubah menjadi zona darurat permanen, dipaksa beroperasi di bawah tekanan ekstrem dan tenaga medis yang kian menipis.
Lebih mengerikan lagi, setidaknya 11.000 perempuan hamil kini berada dalam bayang-bayang kelaparan dan malnutrisi akut.
Baca Juga: UNRWA Tuding Israel Gunakan Kelaparan Sebagai Senjata Perang di Gaza
Baca Juga: Inggris Digugat karena Dinilai Lalai dan Tolak Evakuasi Medis Anak-Anak Gaza
Nyawa mereka dan bayi yang mereka kandung, digantung di ujung krisis. Risiko komplikasi kehamilan dan kematian semakin menganga lebar.
UNFPA dengan tegas menyatakan bahwa blokade Israel yang tanpa henti, serta penghalangan bantuan pangan dan medis, memperdalam luka kemanusiaan di Gaza. Organisasi tersebut mendesak dunia internasional untuk tidak lagi berdiam diri.
Seruan keras dilayangkan agar dunia segera bertindak—memastikan keselamatan ibu dan bayi, serta menjamin akses penuh terhadap layanan kesehatan dan gizi yang kini menjadi barang mewah di wilayah yang terkepung itu. ***
