Ancaman Israel terhadap Tokoh Hamas di Luar Negeri Kian Menguat, Jelang Kunjungan Netanyahu ke AS

Ancaman Israel terhadap Tokoh Hamas di Luar Negeri Kian Menguat, Jelang Kunjungan Netanyahu ke AS

Ancaman Israel terhadap Tokoh Hamas di Luar Negeri Kian Menguat, Jelang Kunjungan Netanyahu ke AS. (Poto: ist/dok middleeasteye.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Ancaman Israel untuk menargetkan para pemimpin Hamas di luar negeri semakin menguat, bertepatan dengan persiapan kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih pekan depan.

Di tengah upaya Amerika Serikat (AS) mendorong tercapainya gencatan senjata baru di Jalur Gaza, muncul spekulasi bahwa Tel Aviv tengah mempersiapkan operasi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Hamas di sejumlah negara seperti Gaza, Aljazair, Lebanon, hingga Qatar.

Baca Juga: Kesaksian Prajurit: Ketakutan dan Trauma di Balik Operasi Militer Israel di Gaza

Baca Juga: Pelapor Khusus PBB: Blokade Gaza Harus Diakhiri, Skema Bantuan Adalah Jebakan Sadistik

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menyampaikan ancaman terhadap Khalil al-Hayya—anggota Biro Politik Hamas yang kini bermukim di Doha, Qatar. Ia juga menyasar Izz al-Din al-Haddad, komandan sayap militer Hamas di Gaza.

Situs berita Maariv melaporkan bahwa pemerintah Israel telah menyusun “daftar target” yang mencakup Hayya, Osama Hamdan (mantan juru bicara Hamas di Lebanon), dan Sami Abu Zuhri (perwakilan Hamas di Aljazair).

Kepemimpinan Hamas sendiri terbagi antara sayap politik dan militer. Basis politik mereka sempat berada di Damaskus, Suriah, sebelum hengkang pada 2012 akibat konflik dengan rezim Bashar al-Assad.

Qatar kemudian menjadi tuan rumah bagi para pemimpin eksil Hamas, atas permintaan Presiden AS saat itu, Barack Obama, pada tahun 2011. Hamas juga sempat memiliki kantor di Kairo, Mesir, dan diketahui beberapa pejabat politiknya kerap mengunjungi Turki, meskipun status kehadiran mereka di sana belum dikonfirmasi secara resmi.

Pada Kamis lalu, The Times melaporkan bahwa pemerintah Qatar telah memerintahkan sejumlah tokoh Hamas, termasuk Hayya, untuk menyerahkan senjata pribadi mereka. Nama-nama lain yang disebut antara lain Muhammad Ismail Darwish, kepala Dewan Syura Hamas, serta Zaher Jabareen, anggota biro politik. Namun, laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Potensi Eskalasi di Wilayah Sekutu AS

Jika Israel benar-benar melakukan pembunuhan terhadap tokoh Hamas di Qatar, sebagaimana diisyaratkan Katz, maka hal itu akan menjadi eskalasi signifikan dalam kampanye global Israel melawan Hamas.

Baca Juga: Elite Arab Dinilai Gagal Tanggapi Genosida Gaza Secara Strategis

Baca Juga: Hamas Gelar Konsultasi Nasional Bahas Usulan Gencatan Senjata: “Demi Rakyat, Demi Gaza”

Selama ini, Israel lebih banyak menjalankan operasi militer di Gaza, Tepi Barat, Iran, dan Lebanon. Namun, menyerang di wilayah Qatar—sekutu utama AS dan lokasi pangkalan Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) di Al-Udeid—berpotensi memicu konsekuensi diplomatik yang serius.

Pangkalan Al-Udeid sendiri sempat menjadi sasaran serangan Iran bulan lalu, sebagai balasan atas pemboman fasilitas nuklirnya oleh AS yang berkaitan dengan operasi mendadak Israel ke wilayah Iran.

Menurut laporan Middle East Eye, serangan itu didahului oleh koordinasi tidak langsung antara AS dan Iran, dengan Qatar sebagai perantara. AS bahkan sempat memindahkan sebagian pesawat tempur dan perlengkapan militer dari Qatar ke Arab Saudi.

Sejak awal konflik di Gaza pada Oktober 2023, Qatar dan Mesir berperan sebagai mediator utama antara AS, Israel, dan Hamas. Namun, pemerintahan Trump tahun ini mengambil langkah tidak biasa dengan membuka negosiasi langsung dengan Hamas—yang selama ini dianggap organisasi teroris oleh Washington—demi membebaskan warga berkewarganegaraan ganda AS-Israel.

Pola Operasi Israel dan Keterlibatan AS

Netanyahu dikenal kerap memanfaatkan momen kunjungannya ke AS untuk mengoordinasikan operasi militer terhadap tokoh-tokoh perlawanan.

Baca Juga: Laporan PBB Ungkap 60 Perusahaan Dukung Genosida Gaza, Termasuk Microsoft dan Google

Baca Juga: Gaza Membara: 92 Tewas, 45 Di Antaranya Gugur Saat Mengantre Bantuan

Pada September 2024, hanya beberapa jam setelah berpidato di Sidang Umum PBB, Israel membunuh pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Kantor Netanyahu bahkan merilis foto dirinya tengah memberi perintah operasi dari sebuah ruangan di New York.

Pada Juli 2024, mantan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dibunuh di Teheran, hanya seminggu setelah Netanyahu berpidato di Kongres AS.

Sejak konflik besar di Gaza pecah pada Oktober 2023, puluhan tokoh senior Hamas, termasuk para komandan militer, telah tewas dalam operasi Israel. Pada Mei lalu, Tel Aviv mengklaim berhasil membunuh Muhammad Sinwar, pendahulu Izz al-Din al-Haddad sebagai komandan Brigade al-Qassam.

Target paling dicari Israel sejak serangan 7 Oktober 2023 tetap Yahya Sinwar, tokoh utama Hamas di Gaza. Setelah pencarian selama hampir setahun, Sinwar dilaporkan tewas dalam baku tembak di Rafah, Gaza Selatan, Oktober 2024.

Tantangan dalam Upaya Gencatan Senjata

Di tengah operasi militer yang terus berlangsung, AS kini mendorong terwujudnya gencatan senjata 60 hari di Gaza. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Israel telah setuju dengan proposal tersebut, namun belum jelas apakah Hamas juga akan menerima.

Channel 14 Israel menyebut bahwa draf kesepakatan itu mencakup “surat sampingan rahasia” dari AS, yang memberikan izin bagi Israel untuk melanjutkan operasi militer jika diperlukan. Sebelumnya, kesepakatan serupa sempat dicapai pada Januari 2025 namun gagal dua bulan kemudian ketika Israel kembali menggempur Gaza secara sepihak.

Dua diplomat Arab yang dikutip The Times of Israel menyatakan masih ada “hambatan besar” dalam negosiasi, salah satunya adalah mekanisme distribusi bantuan.

Saat ini, bantuan dijalankan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga baru hasil kerja sama AS-Israel—yang mulai beroperasi akhir Mei setelah tiga bulan blokade total. Namun, Hamas menolak sistem ini dan menuntut agar distribusi kembali dikoordinasikan oleh PBB.

Baca Juga: Bom Buatan AS Tewaskan 33 Warga Gaza: Seorang Bayi, Seniman, dan Petinju Perempuan Jadi Korban

Baca Juga: Gugur dalam Serangan, Direktur RS Indonesia di Gaza Jadi Korban Kekerasan Terhadap Tenaga Medis

Penolakan tersebut didukung oleh lebih dari 170 LSM internasional, yang pada Selasa lalu menyebut sistem GHF sebagai “mematikan” dan menuntut PBB untuk kembali memimpin penyaluran bantuan.

Sejak GHF beroperasi, lebih dari 580 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.200 lainnya luka-luka akibat serangan saat mencoba mengakses bantuan makanan dan medis.

Perang yang kini memasuki tahun kedua telah menewaskan lebih dari 56.000 warga Palestina di Jalur Gaza, termasuk ribuan anak-anak, perempuan, dan tenaga medis. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *