Balap Ketek Meriahkan Sungai Musi Muba, Jadi Pesta Rakyat dan Simbol Persatuan

Balap Ketek Meriahkan Sungai Musi Muba, Jadi Pesta Rakyat dan Simbol Persatuan

Balap Ketek Meriahkan Sungai Musi Muba, Jadi Pesta Rakyat dan Simbol Persatuan. (Poto: ist/ist)

MUBA, LINTASSRIWIJAYA.COM – Jika di Kota Palembang dan sekitarnya terkenal dengan perahu Bidar, maka di tepian Sungai Musi, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), juga ada lomba adu cepat perahu serupa bernama Balap Ketek.

Kompetisi yang paling ditunggu masyarakat ini rutin digelar bertepatan dengan perayaan HUT ke-80 RI.

Baca Juga: Festival Rakit Hias 2025, Ribuan Warga Lahat Tumpah Ruah di Sungai Lematang

Baca Juga: Lomba Serapungan Musi 2024 di Kabupaten Empat Lawang Berlangsung Meriah

Perahu ketek di Muba adalah perahu bermesin yang digunakan sebagai alat transportasi di Sungai Musi. Tak heran jika ketek kemudian menjadi identitas budaya bahari masyarakat setempat.

Setiap tahun, Balap Ketek selalu menghadirkan suasana meriah dan penuh antusiasme. Seperti yang berlangsung di Dusun III, Desa Lumpatan II, Kecamatan Sekayu, pada Senin (25/08/2025). Riuh sorak penonton menggema di sepanjang aliran Sungai Musi, menambah semarak jalannya perlombaan.

Sebanyak 56 perahu ketek nelayan beradu kecepatan dalam ajang Balap Ketek Bajemo Open Race Season III yang dibuka langsung oleh Bupati Muba, Toha Tohet. Ribuan warga tumpah ruah di tepian Sungai Musi, menjadikan perlombaan ini bukan hanya sekadar adu cepat, melainkan pesta rakyat sekaligus simbol persatuan.

Bupati Muba, Toha Tohet, menegaskan bahwa Balap Ketek merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat bahari Muba, sekaligus sarana membangkitkan kembali pola kehidupan bahari masyarakat nelayan. Ajang ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian Sungai Musi sebagai sumber kehidupan.

“Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut dan ditingkatkan di masa mendatang. Kepada peserta, raihlah prestasi dengan semangat sportivitas, dan kepada penonton mari kita jaga ketertiban serta keselamatan dalam menyaksikan perlombaan ini,” ujarnya.

Menurutnya, Balap Ketek bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga menjadi media sosialisasi tentang pentingnya menjaga Sungai Musi dari praktik illegal fishing, demi kelestarian alam dan keberlangsungan hidup nelayan.

“Sebagai daerah yang dikenal sebagai lumbung ikan air tawar, Muba terus berkomitmen melestarikan budaya bahari dan tradisi masyarakat nelayan. Melalui event balap ketek ini, semangat gotong royong, sportivitas, dan kebersamaan kembali hidup, sekaligus menjadi cara kreatif masyarakat Muba dalam merayakan kemerdekaan,” ungkap Toha. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *