LINTASSRIWIJAYA.COM — Di tengah puing-puing kehancuran dan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza, Aayat al-Sardi, seorang ibu muda Palestina, berdiri dengan mata sembab di rumahnya di lingkungan Sabra, Gaza City.
Di hadapannya, dua boks bayi. Satu kosong—bayinya, Ahmed, meninggal dunia empat hari lalu karena kelaparan. Di boks satunya, saudara kembarnya, Mazen, masih bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Baca Juga: Brigade Al-Qassam Klaim Tewaskan Tentara Israel dan Rebut Senjata dalam Serangan di Gaza Selatan
Baca Juga: Israel Gagal Capai Target Darat di Gaza, Beralih ke Serangan Udara Brutal
Ahmed dan Mazen lahir prematur pada April 2025, buah dari perjuangan panjang sang ibu yang sebelumnya mengalami empat kali keguguran dan bertahun-tahun perawatan medis.
Kelahiran keduanya sempat menjadi cahaya harapan di tengah kegelapan konflik. Namun, harapan itu cepat sirna dihantam agresi militer Israel dan blokade total yang menutup semua akses kehidupan.
Mati karena Kelaparan
Akibat krisis kemanusiaan dan buruknya kondisi gizi di Gaza, al-Sardi terpaksa melahirkan di usia kandungan tujuh bulan. Kedua bayi dirawat intensif selama 40 hari di RS Al-Helou dan Al-Rantisi. Namun selama masa perawatan, sang ibu tak bisa menjenguk karena tak ada transportasi dan risiko keamanan tinggi.
“Setiap hari saya takut menerima kabar terburuk,” tutur al-Sardi. Ketakutan itu menjadi kenyataan—Ahmed meninggal dunia karena kelaparan. Tubuh kecilnya tak sanggup bertahan akibat kurangnya susu formula dan suplemen bayi yang seharusnya tersedia.
Baca Juga: Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera, Gencatan Senjata Gaza Kian Dekat?
Baca Juga: Skandal Kekerasan Seksual Guncang Militer Israel di Tengah Sorotan Dunia atas Genosida Gaza
Blokade Israel yang dimulai sejak 2 Maret 2025 menyebabkan terputusnya bantuan kemanusiaan dan menjerumuskan Gaza ke dalam kelaparan massal. Anak-anak menjadi korban pertama dan paling rentan.
Tidak Ada Susu, Tidak Ada Harapan
Setelah keluar dari rumah sakit, keluarga Ahmed tak mampu memperoleh susu formula khusus untuk bayi prematur. “Kalau pun ada, satu kaleng susu terapi bisa mencapai 200 shekel atau sekitar Rp1 juta,” kata al-Sardi kepada kantor berita Anadolu.
Awal Juni lalu, pusat-pusat kesehatan mengonfirmasi bahwa stok susu bayi benar-benar habis, akibat penutupan perbatasan dan penghentian pengiriman bantuan medis. Al-Sardi mencoba berbagai alternatif, tapi tubuh Ahmed menolak semuanya.
“Terakhir kali ia minum, susunya keluar lewat hidung,” kenangnya, menahan isak. “Dia tidak kuat lagi.”
Perjalanan Terakhir Ahmed
Dalam kondisi tanpa transportasi, al-Sardi berjalan kaki sebagian besar dari Gaza City ke Deir al-Balah demi mencari bantuan. Ketika sedang beristirahat di rumah kerabat, ia melihat kulit Ahmed mulai menguning lalu membiru. Napasnya terdengar seperti siulan.
Baca Juga: Gaza Kembali Berdarah: 57.680 Tewas, Israel Digugat atas Dugaan Genosida
Baca Juga: Gaza Darurat! 50 Ribu Ibu Hamil Tak Makan, Bayi Mati dalam Kandungan
Panik, ia menggendong bayinya dan berlari beberapa kilometer ke RS Martir Al-Aqsa. Tapi semuanya sudah terlambat. “Dia tiba dalam keadaan tak bernyawa,” ucapnya lirih.
Mazen Masih Bertahan
Mazen, kembaran Ahmed, kini berusia tiga bulan. Ia hanya mendapat susu untuk bayi usia satu tahun—satu-satunya yang tersedia. Setiap hari, al-Sardi terus memandangi wajah Mazen dengan cemas, takut kehilangan anaknya lagi.
Kehamilan yang dilalui al-Sardi pun penuh derita—perpindahan berulang, suara bom yang tak pernah reda, dan kelangkaan gizi yang hampir merenggut nyawanya dan anak-anaknya.
Kini, ia berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar Mazen—popok, makanan, dan harapan.
“Apa salah anak-anak ini, sampai harus hidup seperti ini dan mati karena kelaparan?” tanyanya pilu.
Gaza di Ujung Kehancuran
Kisah al-Sardi hanyalah satu dari ribuan tragedi kemanusiaan di Gaza. Sejak Oktober 2023, setidaknya 66 anak dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi. Awal Juli lalu, seorang pria berusia 29 tahun juga dilaporkan meninggal karena kelaparan—korban dewasa pertama yang tercatat.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut kematian ini sebagai titik balik krisis kemanusiaan yang makin mengkhawatirkan. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sejak Januari, rata-rata 112 anak dirawat di rumah sakit Gaza setiap hari karena kekurangan gizi.
Militer Israel telah menewaskan hampir 57.700 warga Palestina sejak Oktober 2023, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Serangan udara dan darat yang tiada henti telah menghancurkan sistem kesehatan, memperparah kelaparan, dan memicu wabah penyakit.
Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!
Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). ***

