Belanda Larang Dua Menteri Israel Masuk, Ben-Gvir: “Saya Akan Tetap Berjuang”

Belanda Larang Dua Menteri Israel Masuk, Ben-Gvir: “Saya Akan Tetap Berjuang”

Belanda Larang Dua Menteri Israel Masuk, Ben-Gvir: “Saya Akan Tetap Berjuang”. (Poto: ist/ist)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Pemerintah Belanda secara resmi mengumumkan pada Senin malam bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, tidak akan diizinkan masuk ke negara tersebut.

“Maka dari itu, kabinet memutuskan untuk menyatakan Menteri Israel Smotrich dan Ben-Gvir sebagai persona non grata, dan berkomitmen untuk mendaftarkan mereka sebagai orang asing yang tidak diinginkan dalam sistem pendaftaran Schengen,” ujar Menteri Luar Negeri Belanda Caspar Veldkamp seperti dilansir Jerusalem Post pada Selasa (29/7).

Baca Juga: Gaza Membara: 92 Tewas, 45 Di Antaranya Gugur Saat Mengantre Bantuan

Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 63 Warga Gaza di Tengah “Jeda Kemanusiaan” Palsu

Keputusan ini diambil lantaran keduanya dinilai berulang kali menghasut kekerasan pemukim terhadap warga Palestina, secara konsisten mendorong perluasan permukiman ilegal, serta menyerukan pembersihan etnis di Jalur Gaza.

Veldkamp menambahkan bahwa Duta Besar Israel untuk Belanda akan segera dipanggil dan diminta menyampaikan pesan tegas kepada Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera mengubah arah kebijakan.

“Situasi saat ini tidak dapat ditoleransi dan tidak dapat dipertahankan,” tegas Veldkamp. Ia juga menyatakan bahwa Belanda sepakat untuk terus meningkatkan tekanan terhadap Hamas guna mencapai gencatan senjata.

Menanggapi keputusan tersebut, Ben-Gvir pada Selasa pagi menyampaikan sikapnya bahwa ia tetap akan berjuang untuk kepentingan negaranya.

Baca Juga: Putaran Baru Perundingan Hamas-Israel Digelar Senin, Gaza Masih Tercekik Blokade

Baca Juga: Tangisan Gaza: 122 Tewas Kelaparan, Anak-anak Jadi Korban Terbanyak

“Bahkan jika saya dilarang masuk ke seluruh Eropa, saya akan terus berjuang demi negara kami, menuntut pembubaran Hamas, dan mendukung para pejuang kami,” ujar Ben-Gvir.

“Para pelaku kekerasan, pembunuhan, dan pemerkosaan adalah musuh kita. Namun seperti biasa di Eropa, justru korban yang disalahkan,” tulisnya lebih lanjut.

“Di tempat di mana terorisme ditoleransi dan para teroris disambut, seorang menteri Yahudi dari Israel dianggap tidak diterima, sementara teroris dibebaskan dan orang-orang Yahudi diboikot,” tulis Ben-Gvir dalam pernyataan tertulisnya.

Ketegangan dengan Presiden Israel

Ketegangan diplomatik juga memuncak pada Senin, kali ini antara Presiden Israel Isaac Herzog dan Perdana Menteri Belanda Dick Schoof. Hal ini dipicu pernyataan keras pemerintah Belanda terkait kemungkinan penerapan sanksi Eropa terhadap Israel menyusul memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza.

Baca Juga: Anwar Ibrahim Menggugat Dunia! Desak Donald Trump Hentikan Genosida Israel di Gaza

Baca Juga: 55 Ribu Perempuan Hamil di Gaza Terjebak di Tengah Genosida dan Krisis Kemanusiaan

Dalam unggahan di media sosial, Perdana Menteri Schoof menyatakan bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan darurat bersama wakil-wakil perdana menteri, menteri luar negeri, dan menteri pertahanan Belanda, guna membahas apa yang ia sebut sebagai “situasi bencana di Gaza.”

Schoof menegaskan bahwa Belanda mendukung pengiriman bantuan kemanusiaan secara langsung dan tanpa hambatan ke Gaza.

Ia memperingatkan bahwa apabila Uni Eropa menilai Israel telah melanggar kesepakatan kemanusiaan, maka Belanda akan mendukung penangguhan partisipasi Israel dalam program riset dan inovasi Horizon Europe milik Uni Eropa.

Ia juga menambahkan bahwa jika Uni Eropa mengambil tindakan lebih lanjut, Belanda tidak menutup kemungkinan untuk mendorong kebijakan tambahan, termasuk di sektor perdagangan, bahkan secara unilateral, guna “meningkatkan tekanan” terhadap Israel.

Menanggapi pernyataan itu, Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan klarifikasinya melalui media sosial.

“Maaf, Perdana Menteri, dengan segala hormat—cuitan ini tidak mencerminkan semangat maupun rincian dari percakapan telepon kami.”

Baca Juga: Kematian Akibat Kelaparan di Gaza Meningkat, Krisis Kemanusiaan Kian Parah

Baca Juga: Inggris Digugat karena Dinilai Lalai dan Tolak Evakuasi Medis Anak-Anak Gaza

“Cuitan ini juga tidak mencerminkan posisi saya yang sangat jelas: akan menjadi kesalahan besar jika Uni Eropa mengambil langkah-langkah seperti itu, terutama mengingat upaya kemanusiaan Israel yang sedang berlangsung dan telah ditingkatkan,” tulis Herzog. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *