Brigade al-Qassam Rilis Rekaman Penyergapan Pasukan Israel di Khan Yunis, Tewaskan Dua Tentara

Brigade al-Qassam Rilis Rekaman Penyergapan Pasukan Israel di Khan Yunis, Tewaskan Dua Tentara

Brigade al-Qassam Rilis Rekaman Penyergapan Pasukan Israel di Khan Yunis. (Poto: ist/ist)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Beberapa hari lalu, sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, merilis rekaman penyergapan terencana terhadap pasukan Israel di wilayah al-Zanna, sebelah timur Khan Yunis, Jalur Gaza. Dalam serangan tersebut, satu perwira dan satu prajurit Israel dilaporkan tewas.

Meskipun militer Israel berusaha membatasi pergerakan mereka di wilayah perbatasan yang telah hancur dan dikosongkan dari penduduk demi menghindari kontak langsung dengan pejuang Palestina, penyergapan ini—beserta operasi serupa sebelumnya di kawasan timur Gaza, Jabalia, dan Beit Hanoun—menunjukkan tingkat pengintaian dan perencanaan yang matang dari pihak perlawanan Palestina.

Baca Juga: Serangan Udara Israel Gempur Gaza, 43 Warga Tewas—Al-Qassam Klaim Tewaskan Tiga Tentara Israel

Baca Juga: Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr

Serangkaian operasi terkini juga memperlihatkan bahwa faksi-faksi perlawanan di Gaza mulai menerapkan taktik baru untuk tetap menghadapi agresi militer, meski perang telah berlangsung lebih dari 21 bulan. Upaya tersebut bertujuan untuk menimbulkan kerugian maksimal di pihak militer Israel.

Tentara dalam Pengawasan Ketat

Operasi-operasi terbaru berpusat di area dekat pagar perbatasan timur Gaza—wilayah yang diklaim Israel sepenuhnya berada di bawah kontrol mereka, setelah penghancuran dan pengosongan paksa sejak awal perang.

Al-Zanna, lokasi penyergapan pada 14 Juni lalu, termasuk dalam wilayah Bani Suheila, yang mayoritas lahannya merupakan area pertanian. Wilayah ini kini hancur total dan telah ditinggalkan oleh warganya.

Pejuang Palestina di al-Zanna tercatat telah melakukan beberapa penyergapan terhadap pasukan Israel, termasuk “Penyergapan al-Abrar” yang terjadi saat Ramadan lalu. Ini menambah deretan panjang konfrontasi yang pernah terjadi di wilayah yang juga menjadi sasaran dalam agresi tahun 2014.

Seorang komandan lapangan dari faksi perlawanan Palestina mengungkapkan bahwa sejak Israel kembali melancarkan serangan ke Gaza pada 19 Maret, para pejuang telah memantau secara intensif pergerakan pasukan Israel.

Baca Juga: Gempuran Israel di Gaza Tewaskan 51 Warga Palestina dalam 24 Jam, Total Korban Tembus 187 Ribu

Baca Juga: Lebih dari 55.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023, Serangan Israel Terus Berlanjut di Gaza

Biasanya, sebelum masuk ke suatu wilayah, tentara Israel akan menghancurkan total area tersebut dan meledakkan bangunannya guna menghindari konfrontasi langsung serta meminimalkan korban di pihak mereka.

Pergerakan Lambat, Tekanan Politik Meningkat

Menurut komandan tersebut, pasukan Israel kini bergerak lebih lambat, terutama di wilayah timur Gaza. Mereka hanya menguasai wilayah dengan “kekuatan api” (wilayah tembak), terutama di zona merah yang telah mereka paksa untuk dikosongkan—mencakup lebih dari 70 persen wilayah Gaza.

Ia juga menilai bahwa motivasi tempur tentara Israel menurun drastis. Banyak wilayah telah mereka masuki berulang kali, dan kini mereka semakin enggan mengambil risiko jatuhnya korban jiwa. Fokus mereka lebih tertuju pada upaya menciptakan tekanan psikologis terhadap warga sipil, demi kepentingan politik pemerintah Israel.

Berdasarkan pengamatan tersebut, faksi-faksi perlawanan pun mengubah taktik mereka, menyesuaikan dengan pola pergerakan pasukan lawan.

Strategi “Menunggu dalam Diam”

Berdasarkan informasi dari Al Jazeera, para pejuang kini menerapkan strategi “menunggu dalam diam”. Mereka memantau pergerakan pasukan Israel selama berhari-hari, hingga pasukan merasa aman, lalu menyerang secara tiba-tiba.

Komandan tersebut menjelaskan bahwa para pejuang sangat fokus mengamati jalur logistik tentara dan memperkirakan rute pergerakan mereka. Dari situ, mereka merancang penyergapan yang terencana dengan matang.

Menariknya, mereka tidak serta-merta menyerang kendaraan militer yang melintas, karena biasanya hanya membawa sedikit personel. Sebaliknya, mereka menunggu hingga sekelompok besar tentara masuk ke dalam perangkap, untuk memaksimalkan kerugian di pihak lawan.

Setelah berbulan-bulan menghadapi perang, para pejuang kini lebih berani mendekati pasukan Israel dan bertempur dalam jarak sangat dekat. Dalam penyergapan terbaru di al-Zanna, terlihat pejuang bersenjata ringan mengejar sebuah tank Israel hingga kendaraan tersebut terpaksa mundur dari lokasi.

Keluar dari Reruntuhan

Meski Israel mengklaim telah menghancurkan sebagian besar jaringan terowongan di Gaza, rekaman video terbaru dari Khan Yunis dan sebelumnya dari Beit Hanoun membuktikan sebaliknya. Para pejuang masih memanfaatkan terowongan di sekitar perbatasan timur Gaza, beberapa di antaranya bahkan telah diperbaiki atau dibangun ulang dengan jalur baru.

Baca Juga: Serangan Israel di Gaza: 70 Warga Palestina Gugur, Termasuk Anak-Anak dan Pengungsi

Baca Juga: Duka Mendalam di Gaza, Komedian dan Aktivis Kemanusiaan Mahmoud Khamis Sharab Gugur dalam Serangan Udara

Lebih dari itu, para pejuang juga memanfaatkan reruntuhan bangunan sebagai tempat persembunyian. Puing-puing rumah yang hancur menjadi “gudang” dan “markas” baru yang tersembunyi. Dalam video yang dirilis oleh faksi perlawanan, terlihat para pejuang keluar dari balik reruntuhan, menggunakan puing-puing layaknya gua untuk berlindung dan melancarkan serangan.

Pasukan Israel mungkin mengira bahwa area-area tersebut sudah “bersih” setelah dihancurkan habis-habisan, terutama di wilayah Rafah, Gaza Utara, dan sisi timur. Namun, para pejuang yang mengenal medan dengan baik memanfaatkan keunggulan tersebut untuk bersembunyi dan bertahan dalam jangka waktu panjang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *