LINTASSRIWIJAYA.COM – Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Jumat (18/7/2025), menyatakan bahwa faksi-faksi perlawanan Palestina siap menjalani “perang atrisi jangka panjang” melawan Israel.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Al-Qassam, Abu Ubaidah, melalui sebuah rekaman suara—penampilan publik pertamanya sejak 6 Maret 2025.
Baca Juga: 88 Persen Wilayah Gaza Hancur, Hampir 59.000 Tewas: Laporan 650 Hari Serangan Israel
Baca Juga: UNRWA Desak Israel Cabut Larangan Media Internasional Masuk Gaza: Disinformasi Mengganas
“Dalam beberapa pekan terakhir, para pejuang kami telah mencoba melakukan beberapa operasi penculikan terhadap tentara Zionis. Beberapa di antaranya nyaris berhasil,” ungkap Abu Ubaidah.
Namun, ia menyebut upaya tersebut digagalkan oleh militer Israel yang menggunakan taktik ekstrem, termasuk menargetkan tentaranya sendiri yang diduga diculik.
Ia menyinggung penerapan protokol Hannibal, kebijakan militer Israel yang mengizinkan penggunaan kekuatan mematikan untuk mencegah tentaranya jatuh ke tangan musuh—meski berisiko membunuh sandera itu sendiri.
Ratusan Tentara Israel Tewas, Trauma Meluas
Lebih lanjut, Abu Ubaidah menyebutkan bahwa selama berbulan-bulan konfrontasi berlangsung, “ratusan tentara musuh telah tewas dan terluka, sementara ribuan lainnya mengalami gangguan psikologis dan trauma.”
Ia juga menyinggung meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel sebagai dampak tekanan mental dan perlawanan sengit yang mereka hadapi di medan perang.
“Para pejuang Al-Qassam terus mengejutkan musuh dengan taktik dan metode baru yang beragam, setelah belajar dari konfrontasi terpanjang dalam sejarah rakyat Palestina,” tegasnya.
Baca Juga: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 10 Warga, Termasuk Anak-Anak dan Ibu
Baca Juga: Satu Kelas Anak Hilang Tiap Hari di Gaza: Fakta Mengguncang Dunia dari PBB
“Setelah 21 bulan sejak dimulainya Operasi Banjir Al-Aqsa dan perang Zionis-Nazi terhadap rakyat kami, kami menegaskan kesiapan penuh untuk terus melanjutkan perang atrisi jangka panjang melawan penjajah, apa pun bentuk agresi mereka,” ujarnya.
Kritik Terhadap Komunitas Internasional
Abu Ubaidah juga menyoroti diamnya komunitas internasional terhadap kekerasan yang terjadi di Gaza.
“Genosida ini tak akan terjadi di depan mata dunia tanpa adanya impunitas, pembiaran, dan pengkhianatan. Tidak ada pihak yang kami bebaskan dari tanggung jawab atas pertumpahan darah ini,” ucapnya.
Tanggapan Soal Perundingan Gencatan Senjata
Terkait proses perundingan gencatan senjata, Al-Qassam menyatakan dukungan terhadap delegasi Palestina yang terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan Israel.
Abu Ubaidah juga mengkritik keras pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dianggapnya tidak serius memperjuangkan nasib tawanan mereka.
“Mereka tidak benar-benar peduli terhadap nasib tawanan mereka karena kebanyakan dari mereka adalah tentara,” katanya.
Baca Juga: INH Kembali Kirim Bantuan ke Gaza, 600 Keluarga Dapat Paket Pangan
Baca Juga: Slovenia Nyatakan Dua Menteri Israel Sebagai Persona Non Grata Imbas Tragedi Gaza
Apresiasi untuk Houthi dan Kritik ke Negara-Negara Arab
Dalam pernyataan yang sama, ia menyampaikan apresiasi kepada kelompok Houthi di Yaman atas dukungan mereka terhadap Gaza.
Ia menyebut aksi Houthi sebagai “pukulan telak terhadap pihak-pihak Arab dan Islam yang diam atau tunduk, termasuk mereka yang telah menjadi perpanjangan tangan penindasan dan penenang bagi rakyat dan pemuda yang merdeka.”
Situasi Terkini di Gaza
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan ofensif militer besar-besaran ke Jalur Gaza. Hingga pertengahan Juli 2025, serangan ini telah menewaskan hampir 59.000 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
Selain korban jiwa, serangan juga menyebabkan kehancuran infrastruktur, kelangkaan pangan, dan meluasnya wabah penyakit.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Baca Juga: PM Italia: Serangan Israel ke Gereja Katolik Gaza Gak Bisa Ditolerir!
Baca Juga: Gereja Katolik Satu-satunya di Gaza Diserang Israel, 2 Tewas dan Pastor Terluka
Sementara itu, Israel masih menghadapi gugatan genosida yang diajukan oleh beberapa negara di Mahkamah Internasional (ICJ). ***
