LINTASSRIWIJAYA.COM – Di tengah reruntuhan dan debu kehancuran yang menyelimuti Jalur Gaza, kehidupan terus berusaha berjalan—meski dengan tertatih.
Di jalan-jalan sempit yang penuh lubang dan puing, warga Gaza kini hanya mencari satu hal paling mendasar: tepung.
Baca Juga: Perlawanan Palestina Guncang Militer Israel, Analis: Medan Tempur Gaza Kian Terbuka
Baca Juga: Survei Independen: Sekitar 84.000 Warga Tewas dalam Agresi Israel di Gaza
Kelangkaan bahan makanan, harga yang melonjak tajam, dan runtuhnya daya beli membuat ribuan keluarga berjuang sekadar untuk bertahan hidup.
Ahmad Muhammad Yasin, seorang mantan tukang kayu dan ayah dua anak, berdiri lemah menghadapi kelaparan yang terus menggerogoti keluarganya.
“Sudah berminggu-minggu kami tak menemukan tepung,” ucapnya lirih.
Bagi warga Gaza, kebutuhan dasar seperti makanan kini menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Maher Jamal al-Zazah, seorang pengangguran, mengungkapkan keputusasaannya dengan getir.
Baca Juga: Serangan Israel Gempur Gaza: 68 Tewas, Termasuk Korban Saat Antre Bantuan
Baca Juga: Perlawanan Palestina Hambat Agresi Militer Israel di Gaza Selatan
“Siapa yang bisa belanja di pasar sekarang, pasti seorang pencuri,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan kemarahan dan kesedihan atas harga kebutuhan pokok yang melampaui kemampuan ekonomi warga.
Di lingkungan Shuja’iyah, Muhammad Ashour—seorang pengungsi yang kehilangan rumah akibat serangan udara—menghabiskan hari-harinya menyusuri reruntuhan demi mencari makanan untuk keluarganya.
“Mendapatkan satu karung tepung sekarang seperti menempuh misi berbahaya yang bisa merenggut nyawa,” katanya.
Upaya mereka untuk meraih bantuan pun berujung tragedi. Ketiganya mencoba mengambil kantong tepung dari truk bantuan kemanusiaan Amerika di salah satu sudut Gaza. Namun sebelum sempat mengangkat karung, peluru pasukan Israel menghujani kerumunan warga yang tengah berebut bantuan.
Baca Juga: Houthi Lancarkan Serangan Rudal ke Israel, Klaim Balasan atas Aksi Militer di Gaza
Baca Juga: Kelabakan, Militer Israel Bantah Pengakuan Tentara Soal Penembakan Warga Gaza yang Antre Bantuan
Maher al-Zazah kehilangan satu mata akibat tembakan dan tergeletak berdarah selama berjam-jam sebelum tim medis berhasil menembus lokasi.
Muhammad Ashour terkena peluru di leher saat berlindung, sementara Ahmad Yasin tertembak saat mencoba menarik kantong tepung dari bagian belakang truk—terpaksa melarikan diri dengan tangan kosong.
Ketiganya mengenang kekacauan yang terjadi: mayat bergelimpangan, tubuh-tubuh terluka berserakan, dan warga yang berlarian menuju pantai—satu-satunya tempat yang mereka rasa masih aman.
Tak satu pun dari mereka berhasil membawa pulang tepung hari itu. Namun di hari-hari berikutnya, mereka tetap kembali, berulang kali, dengan harapan yang tak pernah padam: memberi makan anak-anak mereka.
Baca Juga: Hampir 100.000 Warga Palestina Tewas di Gaza, Media Israel Ungkap Angka Mengejutkan
Di Gaza, krisis bukan hanya tentang kelangkaan tepung. Yang lebih memilukan adalah harga kemanusiaan yang harus dibayar hanya untuk mencoba mendapatkannya. ***
