LINTASSRIWIJAYA.COM — Direktur Komunikasi dan Media UNRWA, Juliette Touma, menyatakan bahwa sistem distribusi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza saat ini “tidak berfungsi sama sekali”.
Ia menyerukan agar sistem lama—yang sebelumnya memungkinkan ratusan truk masuk setiap hari—segera diaktifkan kembali guna menyelamatkan jutaan jiwa di tengah kehancuran.
Baca Juga:Penulis Israel: Perang Gaza Tak Boleh Berakhir, Israel Bisa Jadi Negara Terbuang
Baca Juga: Kapal Hanzala Tiba di Italia, Siap Lanjutkan Misi Tembus Blokade Gaza
Dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera, Touma menegaskan bahwa UNRWA terus memberikan layanan vital bagi warga Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat, meski dihadapkan pada berbagai hambatan dari otoritas pendudukan Israel.
Salah satu tantangan terbesar adalah penolakan pemberian visa bagi staf internasional UNRWA.
“Ada sekitar 6.000 truk yang kini tertahan di perbatasan Gaza,” ungkap Touma.
Menurutnya, situasi Gaza kini jauh lebih buruk dibanding sebelum pecahnya perang.
Tingkat kehancuran sangat luas, rasa aman telah hilang, dan kebutuhan warga bukan hanya pangan, melainkan juga rasa aman, obat-obatan, air bersih, bahan bakar, produk kebersihan, serta gizi bagi anak-anak.
Baca Juga: Gaza di Ambang Kiamat Kemanusiaan: Rumah Sakit Kolaps, Anak-anak Terancam Nyawa
Baca Juga: Gaza Teriak: “Perang Air” Israel Bikin Anak-anak Jadi Korban!
Touma menyebut kondisi ini sebagai “runtuhnya total sistem kehidupan” di Gaza. Ia juga menyoroti kegagalan sistem distribusi bantuan baru yang dikendalikan oleh Gaza Relief Organization, sebuah lembaga swasta berbasis di Jenewa yang dibentuk pada Februari 2025 dan diduga digagas oleh Israel.
Menurut laporan media, termasuk Yedioth Ahronoth, lembaga ini bertujuan memutus aliran bantuan ke wilayah yang dikuasai Hamas dan mengisolasi Gaza dari otoritas lokalnya.
Namun, sistem ini dinilai “gagal total”, hanya mengoperasikan empat titik distribusi aktif, jauh dibanding lebih dari 400 titik yang sebelumnya dijalankan UNRWA.
“Ini tidak sebanding dengan kebutuhan riil di lapangan,” tegas Touma.
Ia mengingatkan bahwa sebelum agresi besar-besaran, meski hidup di bawah blokade lebih dari 15 tahun, warga Gaza masih bisa bertahan lewat memancing, bertani, dan bantuan makanan dari UNRWA yang menjangkau sekitar satu juta orang.
Kini, sebagian besar fasilitas telah hancur, tempat penampungan penuh sesak, dan sistem ketahanan pangan benar-benar runtuh.
Baca Juga: Israel Ajukan Peta Baru Dalam Perundingan Gencatan Senjata Gaza,Negosiasi Masih Mandul
Baca Juga: Gaza Gagal Sekolah, Dunia Gagal Manusia: Generasi yang Tumbuh Tanpa Huruf dan Harapan
UNRWA Tetap Bertahan
Meski tekanan terus meningkat, Touma menegaskan bahwa UNRWA tidak pernah berhenti menjalankan tugas kemanusiaan di Gaza.
“UNRWA tidak pernah berhenti bekerja di Gaza, tidak satu hari pun,” tegasnya.
Lebih dari 10.000 staf lokal Palestina tetap bekerja di lapangan. Tim kesehatan UNRWA melayani sekitar 15.000 konsultasi medis setiap hari di Gaza, sementara di Tepi Barat, ratusan ribu pasien masih mengakses layanan klinik.
Namun, tantangan semakin berat. Satu dari setiap sepuluh anak yang diperiksa di Gaza kini menderita malnutrisi. Selain itu, UNRWA juga masih mengelola penampungan pengungsi, menyediakan air bersih bagi separuh warga Gaza, serta mengoperasikan sistem sanitasi dan pendidikan.
“Kami menutup tahun ajaran di Tepi Barat dan memungkinkan sekitar 40.000 siswa menyelesaikan sekolah di tengah situasi genting,” ujarnya.
Namun, pembatasan Israel terhadap visa staf internasional membuat penguatan kapasitas staf lokal menjadi sangat terhambat.
Baca Juga: Haus yang Mematikan: Lebih dari 700 Warga Gaza Tewas Saat Ambil Air, Mayoritas Anak-anak
Baca Juga: Mental Tentara Israel Drop Parah, Publik Udah Nggak Percaya Lagi Sama Perang Gaza
Ribuan Truk Tertahan
Sejak Oktober 2023, Israel secara sistematis berupaya menghapus peran UNRWA, termasuk lewat undang-undang yang disahkan Knesset untuk melarang operasi lembaga tersebut di wilayah Palestina yang diduduki.
Langkah ini mencakup pencabutan kekebalan diplomatik dan perintah pengusiran staf UNRWA dari Yerusalem Timur, Gaza, dan Tepi Barat.
Di tengah tekanan tersebut, sekitar 6.000 truk berisi bantuan mendesak seperti makanan dan obat-obatan masih tertahan di perbatasan Mesir dan Yordania.
“Ada satu juta anak yang membutuhkan bantuan mendesak. Bantuan harus kembali mengalir seperti sebelum perang—antara 500 hingga 600 truk per hari, di bawah koordinasi langsung PBB, terutama UNRWA,” ujar Touma.
Sementara agresi militer Israel hampir memasuki tahun kedua, sebagian besar operasi kemanusiaan PBB di Gaza masih terhenti. Usulan Amerika Serikat untuk menyerahkan distribusi bantuan ke Gaza Relief Organization pun menuai keraguan luas, mengingat kurangnya pengalaman dan kapasitas lembaga tersebut.
“UNRWA tetap menjadi organisasi kemanusiaan terbesar di Gaza dan mampu menjalankan misinya—jika diberikan akses,” tegas Touma.
Ia menutup dengan seruan kuat: hanya kemauan politik global yang mampu membuka kembali jalur bantuan secara aman dan tanpa hambatan, untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Gaza yang kini hidup dalam reruntuhan. ***
