MURATARA, LINTASSRIWIJAYA.COM – Drama keluarga yang harusnya berakhir di meja musyawarah malah pecah jadi tragedi berdarah. Seorang pria, MN (55), jadi korban bacokan keponakannya sendiri, HN (42), gara-gara masalah klasik: rebutan tanah warisan.
Insiden horor itu terjadi Minggu (24/8) di Kecamatan Rawas Ilir, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumsel. Saat itu korban lagi chill istirahat di tempat penampungan buah sawit. Tiba-tiba, pelaku datang dengan emosi memuncak, langsung ngamuk tanpa basa-basi.
Baca Juga: Polemik Tapal Batas Muba-Muratara Memanas, Permendagri Jadi Sumber Sengketa
Baca Juga: Bupati Empat Lawang Advokasi Konflik Lahan Hingga ke Kementerian ATR/BPN
Belum sempat ngeh apa yang terjadi, korban langsung dihajar bacokan membabi buta. Parahnya, korban kena sembilan luka serius di tubuhnya.
Warga yang panik langsung gotong korban ke rumah sakit. Kondisinya kritis. Sementara pelaku kabur, tapi polisi berhasil mengamankannya cuma dua jam setelah kejadian.
“Korban kena bacok sembilan kali oleh pelaku, masih dirawat intensif karena rata-rata lukanya sangat parah,” tegas Kapolsek Rawas Ilir, Iptu Andri Firmansyah, Senin (25/8).
Dari penyelidikan awal, ternyata pemicunya adalah konflik tanah warisan yang udah lama jadi bom waktu di keluarga mereka. Meski begitu, detailnya masih terus didalami polisi.
“Dugaannya karena masalah tanah, tapi masih kita perdalam lagi,” lanjut Andri.
Kini, pelaku harus siap-siap masuk jeruji besi. Ia dijerat Pasal 351 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berat dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Barang bukti berupa sebilah pisau yang sempat dibuang ke sungai juga sudah diamankan penyidik. ***

