Duka Mendalam di Gaza, Komedian dan Aktivis Kemanusiaan Mahmoud Khamis Sharab Gugur dalam Serangan Udara. (Poto: ist/dok aljazeera.net)
LINTASSRIWIJAYA.COM — Kesedihan mendalam menyelimuti warga Gaza, khususnya di Khan Younis, Sabtu (21/6/2025), ketika mereka mengantar kepergian salah satu sosok paling dicintai di tengah krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan.
Mahmoud Khamis Sharab, seorang komedian sekaligus aktivis kemanusiaan, gugur bersama anggota keluarganya dalam serangan udara Israel yang menghantam tenda mereka di wilayah al-Mawasi.
Baca Juga: The Economist, Pekan Depan Uji Batas Kemampuan Militer Israel, Iran Mulai Bangkit
Baca Juga: Iran Eksekusi Mata-Mata Mossad: Majid Mosayebi Dihukum Gantung karena Tuduhan Spionase
Sharab dikenal luas karena kepeduliannya terhadap para pengungsi dan warga yang terdampak perang. Ia bukan sekadar pelawak—di tengah kehancuran yang terus berlangsung sejak perang pecah pada Oktober 2023, ia menjelma menjadi simbol harapan bagi banyak orang.
Dengan aksi-aksi sederhana dan selera humor yang membumi, Sharab berusaha menyebarkan senyum di wajah anak-anak dan orang dewasa yang kehilangan segalanya.
Bermula dari kecintaannya pada dunia komedi, ia kemudian berinisiatif membuat konten yang menyuarakan sisi kemanusiaan dari tragedi Gaza. Ia juga kerap membagikan air bersih, membantu para pengungsi, dan tak jarang tampil dengan semangat tinggi meski hidup dalam keterbatasan.
Menurut sumber-sumber lokal, serangan udara Israel yang menyasar tenda tempat tinggal Sharab juga menewaskan ibu mertua dan iparnya, Mohammad Saeed Shubeir.
Baca Juga: Usai AS Serang Iran, “Tel Aviv Menangis! Rudal Iran Menghantam, Kota Jadi Lautan Puing
Baca Juga: AS Serang Situs Nuklir Iran, Khamenei, Kerugian Amerika Akan Lebih Besar
Warga sekitar menyebut tragedi ini sebagai bagian dari “perang pemusnahan” yang menargetkan siapa saja, tanpa pandang bulu.
Kabar kematian Sharab langsung memicu gelombang duka dan kemarahan di media sosial. Dua fotografer Palestina, Aladdin Sadeq dan Abdullah Al-Attar, membagikan momen menyayat hati saat jenazah Sharab tiba di Rumah Sakit Nasser.
Dalam salah satu video yang beredar, sang adik tampak menangis pilu sambil menggenggam tangan kakaknya yang terbujur kaku.
“Tangan ini yang selalu berbuat baik. Tanganmu yang dulu menopang para pengungsi dan mereka yang kelaparan. Semoga Allah merahmatimu, ya Mahmoud,” ucapnya lirih.
Tak lama sebelum wafat, Sharab sempat menulis unggahan terakhirnya di media sosial.
“Alhamdulillah, selama seminggu ini—meskipun tak ada koneksi internet—kami berhasil mendistribusikan 15 gerobak air. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Insya Allah, pekan ini kami bisa melayani lebih banyak lagi yang membutuhkan,” tulisnya.
Kehilangan Mahmoud Khamis Sharab hanyalah satu dari ribuan kisah pilu di Gaza, yang sejak 7 Oktober 2023 dilanda kehancuran akibat agresi militer Israel.
Baca Juga: Iran Ungkap Rudal Hipersonik “Fattah 2”, Klaim Salah Satu yang Tercanggih di Dunia
Baca Juga: Iran Pastikan Tiga Situs Nuklir Aman dari Paparan Radiasi
Perang ini telah menewaskan dan melukai lebih dari 185.000 warga Palestina—mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Lebih dari 11.000 orang dinyatakan hilang, sementara ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Di tengah blokade yang memperparah krisis kemanusiaan, kerusakan infrastruktur dan kelaparan terus merenggut nyawa, termasuk banyak anak-anak. ***

