Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza

Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza

Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza. (Poto: ist/ilustrasi)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Duka di Tanah Terjajah, Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Udara Israel.

Tangis kembali pecah di Jalur Gaza, Selasa (8/7/2025). Enam mantan tahanan Palestina dilaporkan tewas mengenaskan dalam serangan udara brutal yang dilancarkan oleh jet tempur Israel.

Baca Juga: KEJAM!, Menteri Sayap Kanan Israel Serukan Penghentian Bantuan Gaza: “Biarkan Mereka Kelaparan”

Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!

Menurut keterangan sumber medis setempat, para korban menjadi sasaran ketika tenda-tenda pengungsian di Kota Al-Zawayda (Gaza Tengah) dan Al-Mawasi (sebelah barat Khan Younis) digempur tanpa ampun.

Mereka bukan sembarang warga. Lima di antaranya adalah sosok-sosok yang pernah merasakan dinginnya penjara Israel sebelum dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan tahun 2011, kesepakatan yang kala itu disambut dengan air mata haru karena berhasil membebaskan prajurit Israel, Gilad Shalit.

Korban keenam adalah seorang warga Palestina yang terasingkan sejak pengepungan berdarah Gereja Kelahiran di Betlehem pada tahun 2002 — pengepungan selama 39 hari yang meninggalkan luka sejarah bagi Palestina.

Gereja yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan doa, justru menjadi medan kepungan. Setelah berhari-hari hidup dalam ketakutan, sebanyak 38 warga Palestina kala itu diasingkan ke Gaza dan Eropa, sebagai hasil dari negosiasi penuh tekanan antara Israel dan Otoritas Palestina.

Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut

Baca Juga: PBB Sebut 1 dari 3 Warga Gaza Tak Makan Berhari-Hari, Israel Diduga Halangi Bantuan

Kini, mereka yang selamat dari pengasingan dan penjara, justru menemui ajal dalam pengungsian. Tempat yang seharusnya menjadi pelindung, berubah menjadi kuburan massal.

Abdel Hakim Hanini, tokoh senior Hamas, tak kuasa menahan kemarahan dan duka. Ia menyebut pembunuhan ini sebagai “bukti nyata dari kebencian yang membara dalam hati para penguasa Israel.”

“Pembunuhan para mantan tahanan ini adalah kebijakan balas dendam yang kejam. Mereka diburu, bahkan setelah menjalani hukuman dan terusir dari tanah kelahiran mereka,” ujar Hanini pilu.

“Apa yang dilakukan Israel hari ini hanyalah bagian dari rangkaian panjang pembantaian terhadap rakyat kami—baik di Gaza, di pengasingan, maupun di Tepi Barat,” imbuhnya.

Lebih dari 57.500 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan para pengungsi. Serangan demi serangan tak hanya merenggut nyawa, tapi juga menghancurkan rumah, mimpi, dan masa depan.

Krisis kemanusiaan kian memburuk. Kelaparan melanda, penyakit mewabah, dan dunia seolah hanya menonton.

Baca Juga: Kapal Hanzala Siap Berlayar ke Gaza: Misi Kemanusiaan untuk Anak-anak yang Terluka

Baca Juga: Ribuan Bayi Gaza Lapar dan Tak Punya Ibu: Setiap Menit Bisa Jadi Nafas Terakhir Mereka!

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serta mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Di saat yang sama, Mahkamah Internasional (ICJ) tengah mengadili gugatan genosida terhadap negara tersebut.

Namun, serangan belum berhenti. Dan Gaza, sekali lagi, berduka. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *