GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM – Siang terik di Gaza seakan menempel di kulit, panasnya tak kunjung reda. Di sebuah sudut jalan, seorang anak lelaki berdiri dalam antrean panjang, menunggu bagiannya.
Bajunya basah oleh keringat, wajahnya berdebu, bibir pecah-pecah karena dehidrasi.
Baca Juga: Mark Ruffalo: Kelaparan di Gaza Bukan Tragedi Alam, Tapi Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Baca Juga: Israel Gandeng Influencer untuk Tutupi Fakta Kelaparan Gaza, Warga Sebut Sandiwara
“Saya mau stroberi, jangan anggur lagi. Anggur rasanya seperti rumah sakit,” katanya lirih saat tiba gilirannya.
Kisah ini ditulis jurnalis Palestina, Lujain Hamdan, dalam artikel di Prism, sebuah media independen di Amerika Serikat (AS). Ia menggambarkan tragedi kecil namun sarat makna yang kini menimpa anak-anak Gaza: kerinduan pada hal sederhana seperti es krim, tetapi yang tersedia hanyalah obat yang seharusnya menyembuhkan.
Dari balik meja, seorang lelaki paruh baya dengan mata sayu dan pakaian tambalan mengulurkan tangan ke sebuah freezer kecil bertenaga surya. Ia mengeluarkan sebongkah cairan beku cacat bentuk, dibungkus plastik robek, lalu menyerahkannya seperti harta berharga.
“Lima shekel harganya,” ujarnya.
Anak itu, bernama Yusuf, menggigit sedikit.
“Rasanya seperti penyakit. Tapi kalau saya memejamkan mata, bisa saya bayangkan seperti mangga,” katanya pelan sambil menyipitkan mata.
Hamdan menulis, ia tak sempat menanyakan usia Yusuf. Sebab, di Gaza, masa kanak-kanak tidak lagi dihitung dengan tahun, melainkan dengan lamanya jeda gencatan senjata.
Belakangan ia baru tahu, apa yang tampak seperti es krim itu sejatinya hanyalah sirup antibiotik kedaluwarsa—obat untuk infeksi anak—yang dibekukan dan dijual sebagai pengganti permen.
“Mati perlahan”
Saat cerita Yusuf disampaikan kepada ibunya yang dulu seorang apoteker, sang ibu hanya terdiam.
“Itu bukan bertahan hidup. Itu mati perlahan. Anak itu menjilat dua kali lalu meninggalkannya. Begitulah bakteri belajar, dan infeksi menang,” katanya lirih.
Kekhawatiran itu beralasan. Laporan medis menegaskan, konsumsi antibiotik tanpa resep hanya memperparah resistensi bakteri. Dosis kecil dan terputus—seperti yang dialami anak-anak Gaza lewat “es krim antibiotik”—tidak cukup membunuh bakteri, justru memberi kesempatan mereka beradaptasi.
Infeksi yang seharusnya bisa disembuhkan dapat berubah menjadi penyakit mematikan tanpa obat efektif.
“Di tempat seperti Gaza, ketika rumah sakit hancur dan apotek kosong, peluang untuk sembuh hampir mustahil. Es krim antibiotik yang hari ini dinikmati anak-anak bisa jadi membuat mereka kehilangan kesempatan hidup esok hari,” tulis Hamdan, mengutip para dokter.
Es krim yang tak pernah sama
Penjual “es krim antibiotik” itu sendiri berdalih tindakannya bukan semata soal dagang.
“Saya hanya tidak ingin anak-anak melupakan rasa es krim, atau sekadar perasaan bahagia,” katanya.
Pernyataannya mengingatkan Hamdan pada toko-toko es krim ternama di Gaza—Khadzim, Glass, dan Mazaj—yang dulu ramai dengan lampu neon, namun kini hanya tinggal puing sejak pekan-pekan pertama perang.
Freezer mereka meleleh. Anak-anak yang lewat bahkan tak lagi berhenti, seakan tak pernah tahu bahwa di sana dulu pernah ada kebahagiaan.
Kini, rasa stroberi, jeruk, atau anggur yang dulu akrab di botol obat justru menjadi simbol dari kebahagiaan singkat yang tersisa.
Baca Juga: UNRWA Ngegas! Israel Diminta Stop Bungkam Soal Kelaparan di Gaza
Baca Juga: Gaza Makin Berdarah: 62 Ribu Lebih Warga Palestina Gugur, Anak-Anak Jadi Korban Kelaparan
Fenomena ini bukan satu-satunya. Anak-anak lain menyebut tahini dicampur pemanis sintetis sebagai “cokelat putih”. Ada yang mengunyah kacang arab kering, lalu meminta ibu mereka memanggangnya seolah “kacang Lebaran”.
Bahkan para ayah menggiling pakan ternak dicampur lentil untuk membuat roti keras berwarna kelabu.
Semua ini terjadi di tengah bencana kelaparan menyeluruh, ketika gizi hancur bersama reruntuhan, dan masa kecil perlahan hilang bersama puing-puing Gaza. ***
