LINTASSRIWIJAYA.COM — Gaza kini bukan lagi sekadar medan perang—ia berubah jadi neraka terbuka. Laporan dari Dana Kependudukan PBB (UNFPA), Selasa (8/7), mengungkap hal memilukan sekitar 50 ribu perempuan hamil dan menyusui di Jalur Gaza tidak makan sama sekali selama beberapa hari terakhir. Ya, bukan kekurangan gizi—tapi benar-benar tidak makan.
Dan ini bukan hanya tentang para ibu. Ini soal bayi-bayi yang bahkan belum sempat lahir ke dunia.
Baca Juga: 100 Tewas, Anak-Anak Jadi Korban: Gaza Kembali Dibombardir, Dunia Masih Diam
Baca Juga: Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza
Mereka kini berdiri di ambang maut—terancam lahir prematur, sakit seumur hidup, atau bahkan tidak sempat menghirup napas pertamanya.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut situasi ini “gawat darurat level maksimal.” Kelangkaan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan di Gaza bukan hanya bikin menderita—tapi membunuh. Terutama anak-anak. Satu demi satu.
Bantuan Tertahan, Nyawa Melayang
Pemerintah Inggris ikut bicara. Menteri Luar Negeri David Lammy mengecam keras sistem distribusi bantuan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang menurutnya “tidak bisa diterima”.
“Orang-orang literally sekarat saat menunggu bantuan. Kalau PBB dan agensinya nggak turun langsung, ini nggak akan kelar,” ujarnya.
Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!
Dan saat bantuan datang pun, kekacauan sudah menunggu. Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan kekerasan brutal di titik distribusi bantuan. Bukan sekali dua kali—lebih dari 21 insiden tembak-menembak massal.
Efeknya? Sistem kesehatan Gaza benar-benar kolaps. Rumah sakit lapangan ICRC mencatat 200 orang meninggal hanya sejak akhir Mei, dan lebih dari 2.200 luka-luka. Banyak dari mereka bukan pejuang. Mereka hanya rakyat sipil yang berharap bisa bertahan hidup satu hari lagi.
Klinik Ditutup, Harapan Pupus
Salah satu klinik Palang Merah di Gaza timur terpaksa ditutup total. Bukan karena kehabisan alat. Tapi karena peluru artileri Israel jatuh di sekitarnya—mengancam nyawa pasien dan tenaga medis.
Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut
Baca Juga: PBB Sebut 1 dari 3 Warga Gaza Tak Makan Berhari-Hari, Israel Diduga Halangi Bantuan
“Ribuan warga, termasuk pengungsi yang diperintahkan Israel untuk mengungsi, sekarang tidak punya akses ke layanan medis dasar,” tulis pernyataan resmi.
Warga harus jalan kaki puluhan kilometer demi imunisasi anak atau pengobatan luka. Banyak yang akhirnya menyerah. Bukan karena tak mau berjuang—tapi tubuh mereka sudah tak sanggup lagi.
Blokade dan Genosida yang Membisu
Sejak 2 Maret, Israel menutup semua perlintasan ke Gaza. Ribuan truk bantuan terparkir, tak bisa masuk. Sementara kebutuhan dasar rakyat Gaza butuh setidaknya 500 truk per hari. Yang masuk? Kadang cuma 20. Bahkan kurang.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel—dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat—meluncurkan serangan yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida.
Mereka tak hanya membunuh. Tapi mengusir. Menghancurkan. Membungkam.
Lebih dari 194 ribu korban sudah jatuh—tewas atau luka. Mayoritas? Perempuan dan anak-anak. Sebanyak 11.000 masih hilang. Dan ratusan ribu lainnya kini hidup dalam pengungsian permanen—tanpa rumah, tanpa harapan, tanpa suara.
Di antara puing-puing, kelaparan menyergap. Banyak yang mati dalam diam—balita yang belum sempat tahu rasanya dipeluk, bayi yang belum sempat mendengar suara ibunya.
Baca Juga: Kapal Hanzala Siap Berlayar ke Gaza: Misi Kemanusiaan untuk Anak-anak yang Terluka
Baca Juga: Komisi Eropa: Tidak Ada Bukti Hamas Curi Bantuan di Gaza
Apa Lagi yang Harus Mati agar Dunia Peduli?
Gaza menjerit. Tapi dunia masih sunyi.
Dan sementara itu, satu per satu nyawa kecil padam—dalam gelap, dalam dingin, dalam sunyi yang memekakkan. ***
