Gaza di Ambang Kehancuran: Tangisan Ibu dan Ratapan Anak Jadi Saksi Malnutrisi Terburuk dalam Sejarah

Gaza di Ambang Kehancuran: Tangisan Ibu dan Ratapan Anak Jadi Saksi Malnutrisi Terburuk dalam Sejarah

Gaza di Ambang Kehancuran: Tangisan Ibu dan Ratapan Anak Jadi Saksi Malnutrisi Terburuk dalam Sejarah. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM – Dalam bayang-bayang reruntuhan dan suara dentuman yang tak kunjung henti, Gaza kini tak hanya dihantam perang, tapi juga dilanda krisis kemanusiaan paling memilukan yang pernah tercatat.

Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders mencatat lonjakan tertinggi kasus malnutrisi akut sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki untuk misi kemanusiaan di wilayah terkepung itu.

Baca Juga: Khamenei Kecam Israel: Genosida Murahan Terjadi di Gaza

Baca Juga: 74 Warga Palestina Tewas, Israel Serang Pusat Medis di Gaza

Dalam laporan pedih yang dirilis Jumat (11/7), MSF menyatakan kondisi gizi di Gaza telah mencapai titik nadir—krisis yang menyayat hati.

Lebih dari 700 perempuan hamil dan menyusui, serta 500 anak-anak, kini berjuang bertahan hidup di tengah kelaparan yang menggigit.

Mereka mendapatkan perawatan seadanya di dua pusat rawat jalan MSF yang masih berdiri di tengah puing-puing Gaza. Wilayah itu kini bukan lagi tempat tinggal, melainkan penjara terbuka tanpa jalan keluar.

“Ini pertama kalinya kami melihat skala malnutrisi sebesar ini di Gaza,” ujar Muhammad Abu Mughaisib, Wakil Koordinator Medis MSF untuk Gaza.

Dengan nada getir, ia menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah bencana alam atau musibah tak terduga, melainkan kelaparan yang sengaja diciptakan.

“Ini adalah kelaparan yang dirancang. Itu bisa dihentikan besok jika otoritas Israel membuka akses masuk makanan secara luas,” tandasnya.

Baca Juga: Lima Tentara Cadangan Israel Tolak Bertugas, Tuduh Netanyahu Perpanjang Perang Gaza Demi Kekuasaan

Baca Juga: Pedro Sánchez Tuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza, Bandingkan Netanyahu dengan Putin

Kelaparan yang Disengaja, Derita yang Dibiarkan

MSF menuding bahwa penderitaan ini adalah hasil dari pilihan sadar dan sistematis: Israel membatasi suplai makanan, mengontrol ketat distribusi bantuan, dan menghancurkan seluruh kapasitas Gaza untuk bertahan hidup secara mandiri.

Di tengah infrastruktur yang luluh lantak, warga Gaza kini hidup tanpa air bersih, karena sistem sanitasi telah porak-poranda.

Limbah mencemari air minum, bahan bakar langka, dan kamp-kamp pengungsian yang sempit menjadi tempat penyebaran penyakit—semua memperparah tubuh-tubuh yang sudah melemah oleh kelaparan.

“Karena kelaparan di kalangan ibu hamil dan buruknya sanitasi, banyak bayi lahir prematur,” kata dr. Joan Barry dari MSF.

Tangisan Ibu, Inkubator yang Harus Dibagi

Ia melukiskan adegan memilukan di Rumah Sakit Al-Hilal. Di sana, satu inkubator harus dipakai oleh empat hingga lima bayi yang baru lahir—nyawa-nyawa mungil yang menggantung di ujung harapan.

Baca Juga: Populasi Gaza Turun 10 Persen, Anak Muda Jadi Korban Terbanyak: Dunia Diam, Gaza Hancur Perlahan

Baca Juga: Bantuan Berdarah, 80% Korban di Gaza Adalah Anak Muda, Bukan Sembako yang Datang, Tapi Maut

“Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Gaza, dan saya belum pernah menyaksikan kondisi seperti ini. Para ibu memohon makanan untuk anak-anak mereka. Perempuan hamil enam bulan beratnya tak lebih dari 40 kilogram. Ini telah melampaui batas krisis,” ucapnya, dengan suara bergetar.

Kemanusiaan Menjerit, Dunia Harus Bertindak

MSF mendesak agar bantuan makanan dan medis masuk tanpa hambatan ke Gaza. Organisasi ini menyerukan dunia internasional untuk segera melindungi warga sipil dari kelaparan yang disengaja dan kelalaian yang mematikan.

Sejak agresi militer kembali digencarkan pada Maret 2024, lebih dari 7.300 warga Palestina telah gugur, dan hampir 26.000 lainnya luka-luka. Sebanyak 800 di antaranya adalah korban kelaparan yang ditembak mati saat mengantre bantuan—di pusat distribusi yang oleh PBB kini disebut sebagai “perangkap maut.”

Serangan tanpa henti yang diluncurkan sejak 7 Oktober 2023 dengan dukungan penuh Amerika Serikat telah menyebabkan lebih dari 195.000 korban, baik tewas maupun terluka, dan mayoritasnya adalah perempuan serta anak-anak.

Baca Juga: Anak-Anak Tertidur dalam Reruntuhan: 47 Nyawa Warga Gaza Direnggut Tanpa Ampun

Baca Juga: Bayi Kembar Gaza Korban Kelaparan: Satu Tewas, Satu Bertahan Hidup

Puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang. Ratusan ribu hidup dalam pengungsian—di bawah tenda, di tengah debu dan kehancuran—dalam kondisi yang bahkan tak layak disebut sebagai kehidupan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *