LINTASSRIWIJAYA.COM – Derita Gaza kembali menganga lebar. Dalam gelombang serangan brutal yang dilancarkan sejak Kamis dini hari (3/7/2025), sedikitnya 92 nyawa warga Palestina melayang—sebagian besar adalah warga sipil tak bersenjata yang hanya berharap pada sebutir roti dan seteguk air bersih.
Laporan memilukan dari kantor berita resmi Palestina, Wafa, mengutip sumber medis, mengungkap bahwa 45 dari korban tewas adalah warga sipil yang sedang mengantre bantuan kemanusiaan—mereka tak pernah menyangka antrean itulah yang menjadi antrean terakhir dalam hidup mereka.
Baca Juga: Bom Buatan AS Tewaskan 33 Warga Gaza: Seorang Bayi, Seniman, dan Petinju Perempuan Jadi Korban
Baca Juga: Gaza Menjerit: Rumah Sakit Lumpuh, Anak-anak Mati, Dunia Diam
Di Khan Younis, Gaza bagian selatan, terjadi pembantaian lain: setidaknya tujuh warga sipil gugur dan puluhan lainnya terluka saat pasukan Israel menargetkan kerumunan di sekitar kawasan Tahlia.
Tubuh-tubuh bersimbah darah berserakan di jalan, sementara jeritan para korban membelah langit Gaza yang kelam.
Serangan udara juga mengguncang Gaza City dan Deir al-Balah di wilayah tengah. Sedikitnya 13 jiwa melayang di bawah reruntuhan, sementara jumlah korban luka belum dapat dipastikan—karena tim medis sendiri kini bergulat dengan keterbatasan dan ancaman serangan lanjutan.
Neraka dari udara tak berhenti di situ. Sebuah drone Israel menghantam kendaraan sipil di dekat bundaran Al-17, sebelah barat Deir al-Balah.
Baca Juga: Ribuan Warga Palestina Kehilangan Penglihatan Akibat Serangan di Gaza
Empat warga sipil tewas seketika, hanya menyisakan serpihan harapan dan tangisan keluarga yang menunggu mereka pulang.
Di lingkungan Al-Ghafari, Jalan Yafa, Gaza timur, serangan udara kembali merenggut empat nyawa lainnya.
Korban diidentifikasi sebagai Mohammad Saeed Ghazal, Amjad Khalil al-Bahtini, dan Mohammad Khalil al-Bahtini—nama-nama yang kini menjadi simbol luka mendalam rakyat Palestina.
Tak berhenti di sana, satu orang lagi dilaporkan tewas dan beberapa lainnya luka-luka akibat gempuran artileri Israel di bagian timur Gaza City.
Gaza seakan berubah menjadi kuburan terbuka, tempat peluru dan bom menjadi bahasa yang paling sering terdengar.
Baca Juga: Norwegia Desak Tekanan Internasional terhadap Israel, Krisis Gaza Mengarah ke Mahkamah Internasional
Baca Juga: Ketika Obat Tak Lagi Ada, Anak-Anak Gaza Menunggu Ajal dalam Sunyi
Setiap dentuman bukan hanya menghancurkan bangunan, tapi juga menghantam nurani kemanusiaan. Gaza menangis, dunia masih diam. ***

