LINTASSRIWIJAYA.COM – Di tanah yang kini hanya menjadi bayang-bayang kemanusiaan, Jeritan Gaza semakin lirih—nyaris tak terdengar dunia. Di tengah kehancuran menyeluruh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina, Dr. Munir Al-Barsh, mengeluarkan pernyataan yang mengguncang nurani:
“Gaza telah berubah menjadi panggung terbuka bagi kematian.”
Baca Juga: Ribuan Warga Palestina Kehilangan Penglihatan Akibat Serangan di Gaza
Di sela-sela reruntuhan rumah sakit dan teriakan anak-anak yang terluka, Al-Barsh mengutuk dunia yang diam membisu. Ia menyebut lembaga-lembaga internasional tak ubahnya “mitra kejahatan dan saksi palsu atas pembantaian” yang tak kunjung usai.
“Apa lagi yang harus kami tunjukkan? Mayat? Anak-anak tak bernyawa? Ibu yang menggenggam jenazah bayinya di tengah puing?” seru Al-Barsh dalam wawancara pilu dengan Al Jazeera.
Setiap Detik Adalah Nyawa yang Hilang
Gaza kini tercekik. Pasokan bahan bakar dipangkas, listrik padam, dan rumah sakit runtuh secara perlahan—bukan karena bom, tapi karena kehabisan tenaga.
Jika sebelumnya bensin untuk generator datang mingguan, kini hanya setetes sehari—cukup untuk membuat alat bantu napas berhenti dan ruang inkubator jadi ruang kematian.
“Kami dipaksa memilih siapa yang harus mati lebih dulu,” katanya getir.
“Mesin ICU berhenti. Operasi tak bisa dilakukan. Bahkan satu menit keterlambatan berarti satu nyawa terenggut.”
Baca Juga: Israel Kesulitan Kendalikan Gaza, Pakar Prediksi Gencatan Senjata Bersyarat
Baca Juga: Israel di Persimpangan Gaza: Krisis Arah, Tekanan Internasional, dan Pertaruhan Politik
Pada Senin (1/7), sebuah serangan brutal Israel menghantam kawasan Pelabuhan Gaza. Puluhan warga sipil tewas seketika, tubuh mereka mengambang tak bernyawa di lautan yang dulu penuh kehidupan.
Sedikitnya 44 orang tewas. Puluhan lainnya luka dan hilang.
Wabah dan Kelaparan: Kematian Kini Datang dalam Banyak Wujud
Namun, maut tak hanya datang lewat rudal dan peluru. Kini wabah meningitis menyapu anak-anak Gaza. Rumah Sakit Al-Nasr mencatat lebih dari 300 kasus, dengan fasilitas minim dan tanpa obat yang memadai.
Dr. Ragheb Agha, Kepala Departemen Anak di rumah sakit tersebut, mengatakan:
“Kami kewalahan. Kami hanya bisa menyaksikan anak-anak meregang nyawa karena sistem yang tak lagi mampu berdiri.”
Kelaparan, dehidrasi, sanitasi buruk, dan penampungan sesak membuat Gaza jadi ladang sempurna bagi kematian massal. Lebih dari dua juta orang kini bertahan hidup di 12 persen wilayah Gaza yang masih tersisa.
Baca Juga: Norwegia Desak Tekanan Internasional terhadap Israel, Krisis Gaza Mengarah ke Mahkamah Internasional
Baca Juga: Gugur dalam Serangan, Direktur RS Indonesia di Gaza Jadi Korban Kekerasan Terhadap Tenaga Medis
Dunia Membisu, Anak-anak Mati
Kemarahan Al-Barsh pun memuncak. Ia menyebut organisasi-organisasi internasional sebagai “penonton berdarah dingin”.
“Di mana UNICEF? Di mana badan-badan yang katanya melindungi anak-anak dan perempuan? Lebih dari 17.000 anak telah gugur sejak awal perang, dan dunia masih bicara soal diplomasi?”
Israel, menurutnya, dengan sengaja memperpanjang penderitaan, menahan masuknya bahan bakar, menghancurkan rumah sakit, dan memastikan mereka yang lolos dari bom akan tetap mati karena tak ada layanan kesehatan.
Sementara itu, PBB sendiri mengakui kegagalan misi bantuan terbaru. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut distribusi bantuan oleh AS dan Israel sebagai “secara inheren tidak aman” dan mengkritik “militerisasi bantuan” yang justru memperburuk penderitaan warga Gaza.
UNRWA bahkan menyebut sistem distribusi saat ini sebagai “ladang maut” setelah sejumlah warga sipil ditembak saat berebut makanan.
Gaza Tidak Butuh Simpati, Butuh Tindakan
Baca Juga: Ketika Obat Tak Lagi Ada, Anak-Anak Gaza Menunggu Ajal dalam Sunyi
Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target
Ketika dunia hanya mengirim doa dan menggelar rapat, warga Gaza mengubur anak-anak mereka setiap pagi. Ketika pemimpin dunia berdebat soal strategi politik, tenaga medis di Gaza memutus infus pasien karena listrik mati.
“Kami tidak butuh belas kasihan. Kami butuh oksigen, obat, makanan, bahan bakar. Kami butuh hidup,” tegas Al-Barsh.
Dan sementara dunia menunggu, Gaza perlahan mati. ***
