LINTASSRIWIJAYA.COM — Gerakan Hamas pada Senin (1/7/2025) mengumumkan gugurnya seorang tahanan Palestina, Luay Nasrallah, yang meninggal dunia di Rumah Sakit Soroka, Be’er Sheva, setelah dipindahkan dari Penjara Negev dalam kondisi kritis.
Nasrallah diduga mengalami penyiksaan berat dan perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan Israel, yang menyebabkan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Baca Juga: Spekulasi Normalisasi Suriah-Israel Menguat di Tengah Ketegangan Gaza dan Iran
Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan
Dalam pernyataan resminya, Hamas memperingatkan bahwa para tahanan Palestina kini menghadapi “bencana kemanusiaan” akibat praktik balas dendam dan penyiksaan sistematis yang terus dilakukan oleh otoritas pendudukan Israel.
“Pembunuhan para tahanan di dalam penjara adalah kejahatan yang tidak bisa dibiarkan,” tegas Hamas.
Hamas juga menyerukan mobilisasi dari seluruh elemen—pemerintah, masyarakat, dan lembaga hak asasi manusia internasional—untuk menekan Israel dan memberikan perlindungan terhadap para tahanan yang terus mengalami kekerasan dan kekejaman yang semakin brutal.
Sementara itu, Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina dalam laporannya menyebutkan bahwa Luay Nasrallah telah ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan (tahanan administratif) selama lebih dari dua tahun. Sebelum ditangkap, ia tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.
Tragedi ini menambah panjang daftar korban penyiksaan di penjara-penjara Israel. Sejak agresi Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, puluhan tahanan asal Gaza dilaporkan meninggal dunia dalam tahanan akibat penyiksaan dan perlakuan kejam.
Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target
Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza
Sejumlah laporan dan kesaksian terus bermunculan, mengungkap berbagai bentuk pelanggaran berat yang dilakukan terhadap para tahanan Palestina.
Termasuk di antaranya penahanan di fasilitas rahasia seperti kamp militer Sde Teiman di wilayah Negev, yang dilaporkan sebagai salah satu pusat praktik pelanggaran HAM terburuk terhadap para tahanan. ***
