Iron Dome Israel Kewalahan Dihujani Rudal Iran. (Poto: ist/ilustrasi)
JAKARTA, LINTASSRIWIJAYA.com — Sistem pertahanan udara andalan Israel, Iron Dome, dilaporkan kewalahan setelah mendapat serangan besar-besaran dari Iran dalam beberapa hari terakhir.
Sejak 13 Juni, Iran meluncurkan ratusan rudal sebagai aksi balasan atas serangan Israel terhadap sejumlah fasilitas strategis di negara tersebut. Serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebelumnya menargetkan instalasi nuklir utama, situs persenjataan, hingga kawasan permukiman di Teheran dan sejumlah wilayah lainnya.
Baca Juga: Serangan Proyektil di Dataran Tinggi Golan, Babak Baru Israel vs Hizbullah
Baca Juga: 210 Warga Palestina Tewas dan Ratusan Luka-luka, Israel Berhasil Bebaskan 4 Sandera
Dalam serangan baliknya, Iran diduga menggunakan berbagai jenis rudal balistik seperti Emad, Ghadr-1, serta rudal hipersonik Fattah-1. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai jenis senjata yang secara spesifik digunakan Teheran dalam serangan tersebut.
Sejumlah rudal Iran dilaporkan berhasil menghantam wilayah strategis di Tel Aviv, termasuk markas Pasukan Pertahanan Israel dan kantor Kementerian Pertahanan, serta beberapa lokasi lainnya.
Mengapa Iron Dome Bisa Jebol?
Iron Dome dikenal sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling efektif di dunia, dengan tingkat intersepsi mencapai 90 persen. Sistem ini dirancang untuk mencegat roket dan artileri jarak pendek dengan jangkauan maksimal sekitar 70 kilometer.

Cara kerja Iron Dome dimulai dari pendeteksian roket musuh, kemudian menganalisis potensi titik jatuh dan dampaknya. Jika roket terdeteksi mengancam wilayah berpenduduk atau infrastruktur vital, sistem akan menembakkan rudal pencegat Tamir untuk menghancurkannya di udara.
Iron Dome terdiri atas sejumlah baterai peluncur. Setiap baterai memiliki tiga hingga empat peluncur, dan masing-masing peluncur membawa 20 rudal pencegat.
Namun, efektivitas Iron Dome bisa menurun ketika menghadapi serangan dalam volume besar secara bersamaan. Analis senior dari Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, menyebutkan bahwa keterbatasan jumlah rudal pencegat membuat sistem ini rentan kewalahan jika diserang secara massif.
“Cara untuk mengalahkan sistem ini adalah dengan membuatnya kewalahan. Ini adalah kelemahan dari sistem pertahanan udara mana pun,” ujar Davis, dikutip dari ABC News pada Oktober 2023.
Lapisan Pertahanan Udara Israel
Iron Dome bukan satu-satunya sistem pertahanan udara Israel. Negara tersebut menerapkan skema pertahanan berlapis. Untuk menghadapi rudal jarak menengah, Israel mengandalkan sistem David’s Sling yang menggunakan metode hit-to-kill untuk mencegat rudal pada jarak hingga 299 kilometer.
Di lapisan berikutnya terdapat sistem Arrow 2 dan Arrow 3. Arrow 2 menggunakan hulu ledak fragmentasi untuk menghancurkan rudal balistik saat memasuki fase terminal (fase jatuh menuju target), sementara Arrow 3 beroperasi di luar atmosfer menggunakan teknologi hit-to-kill untuk menembak jatuh rudal sebelum memasuki atmosfer bumi.
Pejabat Israel secara terbuka mengakui bahwa tidak ada sistem pertahanan yang sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu, arsitektur pertahanan mereka dirancang untuk memprioritaskan perlindungan terhadap pusat-pusat populasi dan infrastruktur vital.
Dalam konteks tersebut, Iron Dome hanya akan diaktifkan untuk mencegat proyektil yang berpotensi jatuh di area sensitif atau padat penduduk, sementara proyektil lain yang mengarah ke wilayah kosong atau tidak strategis biasanya dibiarkan melintas. ***
(Source: CNN Indonesia)
