LINTASSRIWIJAYA.COM – Pasukan Israel kembali meningkatkan intensitas agresi di wilayah pendudukan Tepi Barat pada Selasa (24/6), di tengah serangan militer yang masih berlangsung di Jalur Gaza.
Militer dan pemukim Israel memperluas operasi penghancuran, perampasan lahan, serta pengusiran paksa terhadap warga Palestina di berbagai kota, termasuk Yerusalem Timur.
Baca Juga: Hamas: Distribusi Bantuan oleh Israel-AS Tewaskan 454 Warga Gaza, Sebut Sebagai Jebakan Maut
Korban jiwa kembali berjatuhan. Di Kamp Pengungsi Shu’fat, Yerusalem Timur, pasukan Israel menembak mati Zahiyah Al-Ubeidi (66), seorang perempuan lanjut usia Palestina, saat penggerebekan berlangsung di kawasan padat penduduk.
Masih di Yerusalem, otoritas pendudukan menghancurkan sebuah bangunan hunian yang sedang dibangun di kawasan Ras Khamis, dengan dalih tidak memiliki izin.
Di Kifl Haris, barat laut Salfit, buldoser militer meratakan lahan pertanian, menghancurkan rumah kaca, serta peralatan pertanian. Keluarga pemilik lahan mengalami kerugian besar.
Menurut kantor berita resmi Palestina, WAFA, aksi semacam ini kerap terjadi di Area C—wilayah yang berada di bawah kendali penuh Israel—guna membatasi aktivitas pertanian dan pembangunan permukiman warga Palestina.
Serangan Sistematis di Berbagai Kota
Di Tulkarm, operasi militer Israel telah berlangsung selama dua pekan, menghancurkan lebih dari 50 bangunan. Di Desa Zeita, penggerebekan dan aksi kekerasan terjadi hampir setiap hari. Sejumlah pemuda ditangkap, sementara warga terus hidup dalam ketakutan.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Israel-Iran, Serangan Mematikan di Gaza Terus Berlanjut
Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 86 Warga Palestina di Gaza, 56 di Titik Bantuan
Dekat Ramallah, tentara Israel menggusur lahan pertanian di Desa Umm Safa untuk memperluas pos permukiman ilegal. Sebuah gubuk tani di Desa Dura Al-Qara juga dihancurkan. Di Desa Termasaya, pemukim menutup akses jalan sebagai bentuk intimidasi terhadap warga.
Di Bethlehem, militer mencabut puluhan pohon zaitun tua milik warga Desa Husan dan menggusur tanah sepanjang 600 meter. Di Desa Al-Khader, pemukim merusak ladang dan menimbun sumur air demi memperluas permukiman ilegal Daniel.
Di Desa Al-Lubban Ash-Sharqiya, selatan Nablus, pasukan Israel menyita rumah warga dan mengubahnya menjadi pos militer. Bendera Israel dikibarkan di atap, desa diblokade, dan mobilitas warga dibatasi.
Menurut WAFA, praktik militerisasi permukiman sipil kini kian masif. Rumah-rumah warga dijadikan titik pengawasan, pos penembak jitu, hingga pusat interogasi. Banyak lingkungan sipil telah berubah menjadi zona militer tertutup.
Penangkapan dan Kekerasan Meluas
Di utara Yerusalem, kota Al-Ram dan Hazma digempur gas air mata. Tiga warga Desa Al-Khader, Bethlehem, ditangkap. Di Masafer Yatta, Hebron, seorang ayah dan anaknya turut ditangkap dalam operasi penggerebekan.
Di Jenin, tentara menyerbu Desa Silat Al-Harithiya dan memicu bentrokan setelah menembaki warga. Sebuah rumah milik keluarga Al-Souqi disita dan dijadikan pos militer. Di Desa Rummana, dua bersaudara ditangkap, dan sejumlah rumah digeledah di Desa Fandaqumiya, dengan kehadiran militer yang mencolok di jalan-jalan.
Kelompok pemukim juga terus melakukan aksi kekerasan. Di Mata Air Ghazal, Lembah Yordan Utara, pemukim menduduki tanah warga dan memasang pagar di sekitar tenda-tenda mereka.
Baca Juga: Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr
Baca Juga: Lebih dari 55.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023, Serangan Israel Terus Berlanjut di Gaza
Organisasi Al-Baydar, yang memperjuangkan hak masyarakat Badui, melaporkan bahwa pemukim menyerbu Desa Arab Al-Mlihats di barat laut Yerikho, dan secara sengaja melepaskan kawanan ternak ke area penyimpanan pakan ternak milik warga, menyebabkan kerugian besar.
Konflik yang Kian Meluas
Agresi di Tepi Barat berlangsung bersamaan dengan genosida yang terus dilakukan Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Berdasarkan data otoritas Palestina, sedikitnya 981 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, telah gugur, sementara sekitar 7.000 lainnya mengalami luka-luka.
Di Gaza, serangan Israel yang didukung Amerika Serikat telah menewaskan dan melukai sekitar 188.000 warga, mayoritas perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.000 orang dinyatakan hilang, sementara ratusan ribu lainnya mengungsi dalam kondisi kelaparan akut dan kehancuran masif di seluruh wilayah. ***
