Jurnalis Iran Ungkap Alasan Teheran Belum Balas Serangan AS ke Fasilitas Nuklir. (Poto: ist/ist)
LINTASSRIWIJAYA.COM – Di tengah pernyataan berulang dari Washington dan Tel Aviv terkait masa depan konflik dengan Iran, Teheran tetap menjadi pusat perhatian regional dan internasional.
Dunia kini menanti keputusan Iran pasca-serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yang terjadi lebih dari 24 jam lalu.
Baca Juga:Menlu Iran Kunjungi Rusia Bahas Serangan AS-Israel ke Fasilitas Nuklir
Menurut laporan Kepala Biro Al Jazeera di Teheran, Abdel Qader Fayez, hingga Minggu malam waktu setempat, Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai bentuk balasan atas serangan tersebut. Serangan itu disebut sebagai pukulan terhadap tulang punggung program nuklir Iran.
Sumber-sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Iran menyebutkan, lembaga tersebut telah meminta laporan menyeluruh dari otoritas terkait, termasuk Otoritas Energi Atom Iran dan komando militer, untuk menilai tingkat kerusakan secara objektif. Evaluasi ini ditujukan untuk merumuskan respons yang proporsional dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional.
Pendekatan Bertahap dan Terukur
Baca Juga: Iran Diduga Ketahui Rencana Serangan AS, Cadangan Uranium Dipindahkan ke Lokasi Rahasia
Baca Juga: The Economist, Pekan Depan Uji Batas Kemampuan Militer Israel, Iran Mulai Bangkit
Penundaan dalam pengumuman respons, menurut Fayez, mencerminkan kecenderungan Iran untuk menghindari aksi balas dendam yang spontan. Sebaliknya, Teheran memilih pendekatan jangka panjang yang strategis, dengan mempertimbangkan berbagai opsi, tidak semata-mata tindakan militer langsung.
Sumber yang sama juga menekankan bahwa Iran membedakan antara serangan langsung Amerika Serikat—yang secara terbuka diakui Washington—dan eskalasi yang dilakukan Israel.
Pembedaan ini dipandang penting oleh pengambil kebijakan di Teheran dalam menentukan langkah selanjutnya, terutama karena serangan AS kali ini dinilai sebagai pergeseran signifikan dalam pola konfrontasi.
Teheran memandang situasi ini sebagai transisi dari “perang bayangan” menuju konfrontasi terbuka, yang berpotensi meluas di kawasan. Namun, Iran dinilai tidak menginginkan perang total dengan Amerika Serikat.
Sebaliknya, Teheran berupaya mempertahankan ruang manuver dengan merancang respons gabungan yang mencakup dimensi militer, politik, keamanan, dan diplomatik.
Opsi Respons Terbuka
Beberapa opsi yang tengah dikaji mencakup peninjauan ulang terhadap keterlibatan Iran dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, langkah-langkah strategis di kawasan Teluk, termasuk terkait akses Selat Hormuz, turut menjadi bahan pertimbangan.
Fayez melaporkan bahwa Iran ingin meningkatkan level respons ke arah strategis guna menciptakan keseimbangan baru di kawasan, bukan sekadar aksi balasan militer terbatas. Hal ini menjadi penting, terlebih setelah Israel menyatakan bahwa tujuan serangan mereka adalah menunda program nuklir Iran selama satu dekade.
Baca Juga: Usai AS Serang Iran, “Tel Aviv Menangis! Rudal Iran Menghantam, Kota Jadi Lautan Puing
Baca Juga: Iran Ungkap Rudal Hipersonik “Fattah 2”, Klaim Salah Satu yang Tercanggih di Dunia
Sikap Israel dan Prospek Gencatan Senjata
Sementara itu, media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa para pejabat di Tel Aviv bersedia menghentikan pertempuran jika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menunjukkan sinyal untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, Israel tetap bersiap menghadapi skenario perang berkepanjangan.
Meski ketegangan masih tinggi dan potensi eskalasi terus mengintai, situasi di Teheran—menurut Fayez—menunjukkan sikap kehati-hatian strategis. Analisis mendalam atas dampak serangan tengah dilakukan untuk menghindari keputusan tergesa-gesa.
Fayez menutup laporannya dengan menyatakan bahwa beberapa jam ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan Iran. Apakah akan mengambil langkah bertahap, atau justru melancarkan balasan menyeluruh. Namun yang pasti, Teheran berupaya memastikan respons yang berdampak strategis tanpa mengorbankan ruang geraknya di masa depan. ***
