LINTASSRIWIJAYA.COM — Dari pelabuhan kecil di Sirakusa, Italia, secercah harapan akan kembali berlayar menuju Gaza. Sebuah kapal bernama Hanzala, akan memulai pelayarannya pada 13 Juli mendatang—membelah laut, menembus blokade, membawa lebih dari sekadar bantuan: membawa nurani dunia yang nyaris padam.
Di tengah agresi militer Israel yang belum berhenti dan telah merenggut puluhan ribu jiwa sejak Oktober 2023, kapal ini lahir sebagai simbol keteguhan, cinta, dan keberanian manusia untuk tetap peduli.
Baca Juga: Komisi Eropa: Tidak Ada Bukti Hamas Curi Bantuan di Gaza
Baca Juga: Ribuan Bayi Gaza Lapar dan Tak Punya Ibu: Setiap Menit Bisa Jadi Nafas Terakhir Mereka!
Kapal kecil, tapi suara besar
Hanzala bukan kapal biasa. Ia mengikuti jejak Madeleine—kapal pendahulu yang sempat ditahan paksa oleh pasukan Israel di laut lepas beberapa pekan lalu. Penahanan itu bukan hanya penahanan fisik, tapi juga penindasan terhadap semangat kemanusiaan.
Namun semangat itu tak padam. Ia justru tumbuh. Menyala. Membara. Terutama demi anak-anak Gaza—yang kini menjadi korban paling sunyi dan paling tak terlindungi.
Lebih dari separuh penduduk Gaza adalah anak-anak. Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.000 anak menjadi korban—tewas, terluka, atau kehilangan rumah dan keluarga. Mereka bukan statistik. Mereka manusia kecil dengan impian yang dirampas di bawah reruntuhan.
“Hanzala bukan sekadar kapal. Ia adalah jeritan hati nurani dunia yang terlalu lama membisu,” ujar Huwaida Arraf, salah satu pendiri Koalisi Armada Kebebasan, kepada Al Jazeera Net.
“Kami berlayar demi anak-anak Gaza, demi keadilan, demi hak untuk hidup tanpa rasa takut. Gaza tak boleh ditinggalkan dalam sunyi dan kelaparan.”
Mengapa dinamai Hanzala?
Nama kapal ini diambil dari sosok kartun ikonik karya mendiang seniman Palestina, Naji al-Ali. Hanzala, digambarkan sebagai bocah pengungsi Palestina yang selalu membelakangi dunia—menolak diam, menolak lupa, menolak menyerah pada ketidakadilan.
Baca Juga: Ini Bukan Film, Ini Gaza: 700.000 Ribu Warga Mengungsi, Gaza Terancam Kelaparan dan Blackout
Baca Juga: Gaza Berdarah, 57.523 Tewas, Dunia Masih Bungkam
“Roh Hanzala menyertai pelayaran ini. Ia membawa semangat anak-anak Gaza yang telah dirampas haknya atas masa depan. Yang kini ditinggalkan sendirian di tengah pembantaian yang terus berlangsung,” lanjut Arraf.
Jeritan Gaza yang tak terdengar
Sejak Israel melanggar gencatan senjata pada 18 Maret 2025, lebih dari 6.500 warga Palestina kembali tewas, dan 23.000 lainnya terluka. Bahkan lebih dari 700 jiwa tewas saat mencoba mendapatkan bantuan pangan—di lokasi distribusi milik Gaza Humanitarian Foundation yang justru menjadi “perangkap maut”.
“Yang terjadi bukan hanya pengepungan. Ini sistematisasi kejahatan kolektif. Dan diam terhadapnya, adalah bentuk keterlibatan,” tegas Arraf.
Tidak takut meski tahu risiko
Pada Juni lalu, kapal Madeleine diserang di perairan internasional. Dua belas aktivis, termasuk anggota Parlemen Eropa, dokter, jurnalis, dan relawan kemanusiaan ditangkap—diinterogasi, dilecehkan, dan akhirnya dideportasi.
Namun mereka tak gentar. Tekad mereka justru bertambah kuat.
“Peluncuran Hanzala adalah jawaban langsung atas aksi perompakan terhadap Madeleine,” kata Zaher Birawi, Ketua Komite Internasional untuk Pembebasan Gaza.
“Kami tahu risikonya. Tapi ini bukan pilihan. Ini kewajiban moral. Kami harus terus mengetuk hati dunia yang tertutup, membongkar diam yang membunuh.”
Misi kemanusiaan, dan misi membongkar kebungkaman
Sebelum mengarah ke Gaza, Hanzala telah singgah di sejumlah pelabuhan Eropa sepanjang 2023–2024. Di setiap pelabuhan, mereka menggelar pertunjukan seni, diskusi publik, hingga doa bersama. Semua demi satu pesan: Gaza tidak sendirian.
Baca Juga: Tangisan Gaza Tak Berujung: Lebih dari 57 Ribu Jiwa Terkorban dalam Serangan Brutal Israel
Baca Juga: GAZA KEHAUSAN: Krisis Air Bersih Mencapai Titik Nadir di Tengah Kepungan Perang
“Hanzala tidak hanya menembus blokade laut, tapi juga blokade informasi,” ungkap Hai Sha Weya, aktivis media dari koalisi. “Setiap pelabuhan menjadi panggung solidaritas. Kami menyaksikan Eropa mendengar kembali nama Palestina.”
Kini, kapal kecil bernama Hanzala tengah bersiap menyusuri Laut Mediterania. Di dalamnya, bukan hanya ada bantuan kemanusiaan. Tapi ada keberanian, ada kasih sayang, dan ada tekad tak tergoyahkan: untuk Gaza. Untuk masa depan yang lebih adil.
Dan untuk anak-anak yang tak pernah sempat belajar menyebut kata “damai”. ***

