LINTASSRIWIJAYA.COM — Militer Israel panik merespons pengakuan salah satu tentaranya yang menyatakan bahwa pasukan Zionis memang menerima perintah untuk menembaki warga Palestina di Jalur Gaza yang sedang mengantre bantuan kemanusiaan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Yoav Gallant (bukan Katz, jika yang dimaksud Yoav Gallant) membantah keras laporan tersebut dalam pernyataan bersama.
Baca Juga: Hampir 100.000 Warga Palestina Tewas di Gaza, Media Israel Ungkap Angka Mengejutkan
Baca Juga: Gaza Kecam Temuan Tablet Narkotika dalam Bantuan Tepung dari Pusat Bantuan AS-Israel
Mereka menyebut laporan itu sebagai “fitnah berdarah” yang diterbitkan oleh media Israel berhaluan kiri, Haaretz.
“Ini adalah kebohongan kejam yang dirancang untuk mendiskreditkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel), tentara paling bermoral di dunia,” demikian pernyataan Netanyahu dan Gallant seperti dikutip The Jerusalem Post.
Keduanya menegaskan bahwa IDF beroperasi dalam kondisi sangat sulit dan menghadapi musuh yang bersembunyi di balik warga sipil.
“Prajurit IDF menerima perintah tegas untuk menghindari menyakiti warga sipil yang tidak bersalah, dan mereka bertindak sesuai dengan perintah tersebut,” lanjut pernyataan itu.
Baca Juga: Abu Ubaidah: Selama Agresi di Gaza Berlanjut, Jenazah Tentara Israel Akan Terus Bertambah
Baca Juga: Gaza Berkabung, Nidal dan Kinda Dua Bayi Gaza yang Wafat Karena Kelaparan
Militer Israel (IDF) juga secara terpisah membantah laporan Haaretz, menegaskan bahwa mereka tidak pernah menginstruksikan pasukan untuk menembaki warga sipil yang sedang mengantre bantuan.
“Kami secara tegas membantah tuduhan yang dibuat dalam artikel tersebut. IDF tidak menginstruksikan pasukan untuk secara sengaja menembak warga sipil, termasuk mereka yang mendekati pusat distribusi bantuan,” demikian pernyataan resmi IDF.
Untuk memperjelas, IDF menyebut bahwa peraturan mereka secara eksplisit melarang serangan yang disengaja terhadap warga sipil. Mereka juga menyatakan bahwa prajurit yang diwawancara oleh Haaretz “tidak berada langsung di lapangan”.
Sebelumnya, Haaretz menerbitkan laporan eksklusif berdasarkan wawancara dengan salah satu prajurit IDF yang bertugas di Gaza. Dalam pengakuannya, sang prajurit menyebut bahwa pasukan Israel menerima perintah untuk menembaki kerumunan warga Palestina, meskipun mereka tidak menimbulkan ancaman.
“Di lokasi tempat saya ditempatkan, satu hingga lima orang tewas setiap hari,” ucap prajurit itu, menggambarkan wilayah tugasnya sebagai “medan pembantaian”.
Ia juga menambahkan bahwa warga Palestina di area tersebut diperlakukan “seperti musuh”.
“Tidak ada upaya pengendalian massa, tidak ada gas air mata—hanya tembakan langsung dengan segala cara yang memungkinkan,” ungkapnya.
Menurut laporan tersebut, Jaksa Jenderal Militer Israel telah memerintahkan penyelidikan untuk menelusuri kemungkinan adanya kejahatan perang akibat perintah penembakan yang disengaja ini.
Baca Juga: Operasi Militer di Gaza Dinilai Gagal, Seruan Damai Menguat dari Dalam Pemerintahan Israel
Baca Juga: Serangan Udara Israel Tewaskan Belasan Warga Gaza, Termasuk Pengungsi dan Pencari Bantuan
Haaretz juga mengutip juru bicara militer yang menyebut bahwa IDF terus berupaya meminimalkan gesekan antara pasukan dan warga sipil. Setelah muncul laporan tentang warga sipil yang tertembak, militer disebut telah melakukan penyelidikan internal dan mengeluarkan instruksi baru kepada pasukan darat.
Sumber anonim lain dalam laporan Haaretz menyebut bahwa satuan investigasi khusus telah ditugaskan untuk menyelidiki personel militer yang berjaga di dekat lokasi distribusi bantuan.
Sejak Gaza Humanitarian Fund (GHF) ditunjuk untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 27 Mei lalu, lebih dari 500 warga Palestina dilaporkan tewas di sekitar lokasi distribusi bantuan GHF.
Lembaga yang didukung Amerika Serikat itu telah mendapat banyak kritik atas lemahnya manajemen distribusi di lapangan.
Dalam pernyataannya kepada The Jerusalem Post, GHF menyatakan bahwa saat ini tidak ada insiden atau kematian yang terjadi di pusat distribusi. GHF bahkan memuji IDF yang disebut telah membantu menyediakan jalur aman bagi warga sipil Gaza.
Baca Juga: Serangan Udara Israel Kembali Tewaskan Puluhan Warga Sipil di Gaza, Termasuk Anak-Anak dan Perempuan
“GHF tidak mengetahui adanya insiden tersebut. Namun tuduhan ini terlalu serius untuk diabaikan. Karena itu, kami menyerukan agar Israel menyelidikinya secara menyeluruh dan mempublikasikan hasilnya secara transparan,” ujar GHF.
Lembaga itu juga mengklaim telah menyalurkan lebih dari 25 ribu paket bantuan di tiga lokasi distribusi berbeda kepada warga Gaza. ***

