LINTASSRIWIJAYA.COM – Di tengah blokade berkepanjangan dan gempuran tanpa henti, anak-anak di Gaza perlahan kehilangan hidup mereka. Bukan hanya karena bom, tetapi akibat runtuhnya sistem kesehatan: ketiadaan obat-obatan, kerusakan alat medis, dan hilangnya harapan.
Rumah Sakit Al-Rantisi, satu-satunya rumah sakit spesialis anak yang tersisa di Jalur Gaza, kini menjadi saksi bisu penderitaan generasi yang terluka. Jumlah pasien anak terus meningkat, sementara kemampuan medis untuk menolong mereka nyaris tidak ada.
Baca Juga: Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Kehancuran Total, Wabah Penyakit Ancam Ribuan Pengungsi
Baca Juga: Spekulasi Normalisasi Suriah-Israel Menguat di Tengah Ketegangan Gaza dan Iran
Mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging) hancur akibat serangan udara. Pasokan obat-obatan dan alat diagnostik kian langka. Para tenaga medis bekerja di bawah tekanan tinggi, tanpa alat memadai, tanpa kepastian pasokan, dan dengan nyawa anak-anak sebagai taruhannya.
Dalam tayangan Suara dari Gaza oleh Al Jazeera, terekam kepiluan para orang tua yang berjuang tanpa daya. Seorang ibu menuturkan tentang putranya yang selamat dari serangan di Kamp Nuseirat, namun kini menderita sakit kepala parah dan sering pingsan.
“Anak saya butuh MRI. Tapi alat itu tidak tersedia di Gaza,” ucapnya lirih.
Seorang ayah lain membawa anaknya yang mengalami pembengkakan seluruh tubuh, tapi gagal menemukan obat karena seluruh klinik kehabisan stok.
Sementara itu, Shohaib, seorang anak yang dulunya sehat, kini lumpuh total. Ibunya menyebut Shohaib tak lagi bisa menggerakkan tangan dan kaki, dan terus kesakitan. Dokter mencurigai gejala mirip polio, namun tak dapat memastikannya karena fasilitas diagnostik tidak tersedia.
Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan
Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target
“Saya merawat semuanya sendiri. Tapi saya sudah kehabisan tenaga. Bahkan untuk makanan dan popok pun sulit,” keluh sang ibu.
Nasib serupa dialami seorang ibu dari bayi perempuan berusia empat bulan. Bayinya mengalami diare berkepanjangan, nyeri perut, dan berat badannya turun dari lima menjadi tiga kilogram. Susu formula yang cocok tak tersedia, dan alat untuk mendiagnosis kondisinya pun nihil.
“Saya takut kehilangan anak ini, seperti saya kehilangan anak sebelumnya,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Seorang dokter di RS Al-Rantisi menyatakan bahwa fasilitas medis kini berada di ambang kehancuran total. Lonjakan pasien terjadi akibat gelombang pengungsian dari Gaza utara dan barat. Kini, musim panas memicu lonjakan kasus meningitis dan risiko kelumpuhan yang lebih tinggi.
Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza
Baca Juga: Perlawanan Palestina Guncang Militer Israel, Analis: Medan Tempur Gaza Kian Terbuka
“Kami kekurangan segalanya—dari alat pencitraan hingga perlengkapan medis paling dasar,” tegasnya.
Di balik deretan cerita itu, Gaza tak hanya kehilangan infrastruktur kesehatan—ia kehilangan generasi masa depannya. ***

