Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr

Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr

Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr. (Poto: ist/dok Al-Jazeera.net)

Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr. (Poto: ist/dok Al-Jazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — “Saya masih mendengar suara itu—suara ledakan roket yang menghantam bangunan di samping taman sekolah. Saya terjatuh ke tanah, memeriksa tubuh saya dengan panik. Lengan? Kaki? Apakah saya masih hidup?”

Begitulah Noor Abu Aisha membuka kesaksian pilu tentang tragedi yang dialaminya di Sekolah Al-Nasr, Gaza, pada awal Agustus 2024.

Baca Juga: Gempuran Israel di Gaza Tewaskan 51 Warga Palestina dalam 24 Jam, Total Korban Tembus 187 Ribu

Baca Juga: Lebih dari 55.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023, Serangan Israel Terus Berlanjut di Gaza

Noor bukan hanya saksi, tapi juga penyintas dari serangan brutal yang merenggut nyawa banyak muridnya. Pengalamannya ia tuangkan dalam sebuah esai pribadi yang diterbitkan oleh media independen asal Amerika Serikat, Mondoweiss.

Noor bukan guru tetap. Ia seorang relawan yang mengajar bahasa Inggris dan memberikan dukungan psikologis bagi anak-anak di sekolah yang telah diubah menjadi tempat pengungsian.

Saat mendengar kabar tentang pembantaian lain di Sekolah Al-Jarjaawi—di mana anak-anak tewas terbakar di tenda-tenda pengungsian—ingatan Noor seketika melayang kembali ke hari ketika nyawanya hampir ikut melayang.

Anak-anak yang hanya ingin makan daging

Di tengah deru pesawat tempur dan dentuman bom, Noor tetap berusaha membawa sedikit keceriaan ke dalam kelas. Dalam salah satu sesi, ia mengajak murid-muridnya berbicara tentang cita-cita. Ia mengira akan mendengar jawaban-jawaban lazim seperti “dokter” atau “insinyur”.

Namun, anak-anak di Gaza berbeda.

“Kalau aku besar nanti, aku ingin makan nasi dengan banyak daging,” ujar Aya Al-Dalou, bocah perempuan berusia lima tahun.

Jawaban itu menghantam hati Noor.

“Bukan salah anak-anak jika cita-cita terbesar mereka hanya untuk bertahan hidup dan tidak lapar,” tulisnya.

Saat itu, di Gaza Utara, daging adalah barang langka. Bahkan ikan pun nyaris tak terlihat. Putra Noor yang baru berusia tiga tahun mengira ikan sarden adalah ular—karena seumur hidupnya, ia belum pernah melihat ikan.

Baca Juga: Serangan Israel di Gaza: 70 Warga Palestina Gugur, Termasuk Anak-Anak dan Pengungsi

Baca Juga: Gelombang Protes di Eropa Desak Penghentian Serangan Israel ke Gaza

Buah-buahan? Itu kemewahan yang hanya bisa dibayangkan.

“Ayo, kembali ke orang tua kalian!”

Tanggal 4 Agustus 2024, Noor hendak mengakhiri kelas. Anak-anak bermain di taman sekolah, yang mereka anggap sebagai zona aman.

“Saya berkata, ‘Ayo, anak-anak, waktunya pulang.’ Tapi mereka memohon: ‘Bu Guru, izinkan kami bermain sebentar lagi,’” kenangnya.

Lima menit kemudian, langit bergemuruh.

Sebuah rudal menghantam bangunan tepat di sebelah taman. Dalam sekejap, tubuh-tubuh mungil beterbangan. Asap pekat menyelimuti udara. Noor tersungkur ke tanah, berteriak, berharap dirinya masih utuh.

“Sebagian anak-anak saya tewas di tempat. Sebagian lainnya selamat karena kebetulan sudah pulang,” tulisnya.

Pihak sekolah berteriak, mencari siapa saja yang masih hidup dan meminta bantuan menyelamatkan korban yang tersisa.

Noor akhirnya dijemput oleh pamannya. Dalam perjalanan pulang, mereka sempat singgah ke rumah sakit, mengantar sejumlah korban luka, termasuk putri seorang perawat yang juga menjadi korban.

Saat itu, tak ada yang tahu bahwa sang ibu masih terjebak di bawah reruntuhan.

Keajaiban dan trauma

Lebih dari dua bulan setelah tragedi itu, Noor memberanikan diri kembali ke lokasi. Ia berdiri di halaman sekolah, masih tak percaya dirinya selamat—padahal hanya berjarak 600 meter dari titik jatuhnya rudal.

“Wahai Noor, bagaimana mungkin kau selamat, sementara ada murid yang lebih jauh tapi justru meninggal? Ini benar-benar mukjizat,” ucap kepala sekolah kepadanya.

Namun, keselamatan itu datang bersama beban berat. Noor merasa ia masih hidup karena harus menjadi saksi—agar dunia tahu apa yang terjadi.

Ia masih ingat jelas muridnya, Nour Al-Din Maqdad, yang kehilangan seluruh keluarganya dalam serangan itu. Saat rudal menghantam sekolah, Nour sedang keluar membeli sesuatu. Ketika kembali, tak ada siapa pun yang menunggunya. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya telah tewas saat sedang makan bersama.

“Ibunya sering berkata padaku: ‘Nour Al-Din itu keras kepala, tapi dia pintar. Guru-gurunya sabar menghadapi dia.’ Perang telah mengubahnya,” tulis Noor.

Kini, Nour Al-Din menghabiskan hari-harinya memeluk makam keluarganya. Sendirian. Dalam sunyi. Ditinggalkan segalanya.

“Bagaimana mungkin seorang anak menanggung beban seberat itu?” tanya Noor.

Baca Juga: Duka Mendalam di Gaza, Komedian dan Aktivis Kemanusiaan Mahmoud Khamis Sharab Gugur dalam Serangan Udara

Baca Juga: Brigade al-Qassam Klaim Hancurkan Tank dan Drone Israel di Jalur Gaza

Kisah untuk dunia

Esai Noor Abu Aisha bukan sekadar catatan duka. Ia adalah jeritan yang menembus batas bahasa, negara, dan kepekaan nurani.

Ia adalah ajakan bagi dunia untuk tidak berpaling dari penderitaan Gaza—di mana anak-anak bercita-cita makan nasi dan daging, bukan bermain atau bersekolah.

“Apakah saya selamat agar bisa menceritakan semuanya?” tulis Noor di akhir esainya.

Mungkin jawabannya: ya. Agar dunia tahu bahwa di balik angka-angka dan berita kilat, ada anak seperti Nour Al-Din. Ada guru seperti Noor. Dan ada kemanusiaan yang terus menjerit dari balik puing-puing. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *