LINTASSRIWIJAYA.COM — Krisis bahan bakar yang kian parah di Jalur Gaza mengancam kelumpuhan total operasional Rumah Sakit Al-Shifa, pusat layanan medis terbesar di wilayah tersebut.
Para dokter memperingatkan, jika pasokan bahan bakar tidak segera dipulihkan, rumah sakit itu bisa berubah menjadi “kuburan sunyi”. Situasi ini terjadi di tengah agresi militer Israel yang telah berlangsung selama sembilan bulan berturut-turut.
Baca Juga: Bayi Kembar Gaza Korban Kelaparan: Satu Tewas, Satu Bertahan Hidup
Baca Juga: Brigade Al-Qassam Klaim Tewaskan Tentara Israel dan Rebut Senjata dalam Serangan di Gaza Selatan
Sementara itu, perhatian dunia tertuju pada pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—yang kini menjadi buronan Pengadilan Kriminal Internasional—dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, untuk membahas nasib para sandera Israel di Gaza.
Namun di balik panggung diplomasi itu, di lorong-lorong RS Al-Shifa, para tenaga medis bergulat dengan kenyataan lebih mengerikan: kelangkaan bahan bakar yang secara langsung mengancam nyawa pasien.
“Ancaman terbesar bagi kami bukanlah peluru atau misil, tapi pengepungan yang melarang masuknya bahan bakar,” ujar Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza.
“Ini mencabut hak pasien untuk mendapatkan pengobatan, dan perlahan-lahan mengubah rumah sakit ini menjadi kuburan yang sunyi,” tambahnya lirih.
Dr. Al-Bursh menggambarkan kondisi memilukan di jantung Kota Gaza, tempat RS Al-Shifa berada, yang kini berdiri di ambang antara hidup dan mati.
“Setiap detik sangat berarti. Kami menyaksikan kematian merayap di setiap lorong rumah sakit ini,” ujarnya dengan nada penuh kepedihan.
Direktur RS Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, juga menyampaikan kekhawatiran mendalam. Ia menekankan bahwa krisis bahan bakar tidak hanya melumpuhkan aktivitas medis, tetapi juga merusak sistem desalinasi dan distribusi air bersih yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Baca Juga: Israel Gagal Capai Target Darat di Gaza, Beralih ke Serangan Udara Brutal
Baca Juga: Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera, Gencatan Senjata Gaza Kian Dekat?
Abu Salmiya menuding otoritas Israel sengaja menyalurkan bahan bakar ke fasilitas kesehatan secara tidak konsisten, memperburuk situasi kemanusiaan di lapangan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 600 serangan terhadap fasilitas kesehatan sejak awal ofensif militer Israel ke Gaza.
Meski tidak secara eksplisit menunjuk pihak yang bertanggung jawab, WHO menegaskan bahwa sistem kesehatan di wilayah terkepung itu kini “berada di ambang kehancuran”.
Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan bahan bakar, minimnya pasokan medis, serta gelombang korban yang terus berdatangan dalam jumlah besar. ***
Baca Juga: Skandal Kekerasan Seksual Guncang Militer Israel di Tengah Sorotan Dunia atas Genosida Gaza
Baca Juga: Gaza Darurat! 50 Ribu Ibu Hamil Tak Makan, Bayi Mati dalam Kandungan
