LINTASSRIWIJAYA.COM — Dunia kembali diguncang oleh laporan mengguncang hati nurani yang dirilis Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese.
Dalam laporan bersejarah yang ia bacakan di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB, terungkap bahwa lebih dari 60 perusahaan internasional terlibat aktif dalam menopang apa yang ia sebut sebagai “ekonomi genosida” di Jalur Gaza—sebuah sistem berdarah yang menopang mesin perang Israel.
Baca Juga:Gaza Membara: 92 Tewas, 45 Di Antaranya Gugur Saat Mengantre Bantuan
Baca Juga: Bom Buatan AS Tewaskan 33 Warga Gaza: Seorang Bayi, Seniman, dan Petinju Perempuan Jadi Korban
Laporan ini bukan sekadar dokumen teknis. Ini adalah akta dakwaan moral global. Sebuah sorotan terang terhadap jaringan bisnis yang selama ini bersembunyi di balik tirai netralitas, namun ternyata mengucurkan darah melalui kontrak, investasi, dan teknologi.
“Lebih dari 35.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan Israel ke Gaza,” ungkap Albanese. “Itu setara enam kali daya hancur bom atom Hiroshima.”
Di balik kehancuran dan tangisan anak-anak Gaza, berdirilah korporasi raksasa dunia. Google dan Microsoft—nama yang selama ini identik dengan kemajuan teknologi—disebut ikut menyuplai sistem pengawasan dan perangkat mata-mata.
Lockheed Martin disebut sebagai penyedia bom dan peluncur. Caterpillar dan Hyundai, menurut laporan itu, menyumbang alat berat penghancur rumah warga Palestina.
Baca Juga: Gaza Menjerit: Rumah Sakit Lumpuh, Anak-anak Mati, Dunia Diam
Laporan setebal ratusan halaman ini disusun berdasarkan lebih dari 200 dokumen resmi, kesaksian negara, pakar hukum, dan organisasi HAM, membentuk peta kelam keterlibatan dunia bisnis dalam genosida modern.
“Ini bukan laporan biasa,” kata Dr. Mustafa Barghouti, tokoh Inisiatif Nasional Palestina. “Ini adalah cermin retak dari nurani dunia. Sebuah dokumen yang menunjukkan bahwa genosida bisa menjadi ladang laba.”
Teknologi Dijadikan Senjata Pemusnah
Tak hanya senjata, teknologi pun berubah menjadi instrumen penghancur. Laporan menyebut Microsoft sebagai tulang punggung digital perang ini.
Dengan sistem cloud, kecerdasan buatan, dan kontrak dengan lembaga keamanan Israel sejak 1990-an, Microsoft disebut berperan langsung dalam sistem target militer Israel.
Pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, penggunaan AI melonjak hingga 200 kali lipat. Teknologi ini, termasuk sistem yang didukung OpenAI, disebut mampu mengidentifikasi target dalam hitungan detik—menyulut lebih banyak ledakan, lebih banyak kematian.
Baca Juga: Ribuan Warga Palestina Kehilangan Penglihatan Akibat Serangan di Gaza
Baca Juga: Israel Kesulitan Kendalikan Gaza, Pakar Prediksi Gencatan Senjata Bersyarat
“Microsoft dan rekanannya telah menjadikan teknologi sebagai alat pengintai dan penindas paling mematikan abad ini,” ujar Abduh Muhammad, aktivis gerakan Don’t Buy Into Apartheid.
Bank dan Asuransi: Pendonor Perang
Nama-nama institusi keuangan global pun tak luput dari sorotan. Barclays dan BNP Paribas disebut sebagai penyandang dana utama operasi militer Israel.
Allianz, perusahaan asuransi raksasa asal Jerman, dituding menopang “ekonomi pendudukan” dengan polis yang melindungi investasi perang.
Dr. Ahmad Al-Sharifi, pakar strategi, menyebut fenomena ini sebagai kegagalan sistemik global:
“Industri senjata dibiarkan liar, tanpa kontrol etika. Di tangan kapitalisme ekstrem, senjata hanya dianggap produk, bukan alat pembunuh.”
Kritik Israel Tak Lagi Bisa Dibungkam
Di sisi lain, upaya Israel untuk terus membungkam kritik dengan label “antisemitisme” kini mulai kehilangan efektivitas.
“Label ini terlalu sering dipakai untuk menutupi kejahatan,” kata Dr. Muhannad Mustafa, pengamat politik Israel. “Dunia mulai melihat siapa korban sebenarnya.”
Efek Global: Boikot dan Gelombang Kesadaran
Para pakar menyebut laporan ini sebagai momen kebangkitan moral internasional. Barghouti bahkan menyamakannya dengan laporan-laporan awal yang memicu kejatuhan rezim apartheid di Afrika Selatan.
“Ini adalah tamparan terhadap sistem internasional yang gagal,” ujarnya. “Gerakan boikot global akan menguat. Dunia sedang dibangunkan dari tidur panjangnya.”
Israel dan AS Bereaksi Keras
Sebagaimana diduga, Israel bereaksi dengan marah, menyebut laporan itu sebagai “distorsi fakta” dan tuduhan tanpa dasar. Amerika Serikat bahkan menyebut pernyataan Albanese sebagai “klaim ofensif” dan menyerukan pemecatannya dari jabatan Pelapor Khusus PBB.
Baca Juga: Israel di Persimpangan Gaza: Krisis Arah, Tekanan Internasional, dan Pertaruhan Politik
Baca Juga: ISA Resmi Bekukan Keanggotaan Asosiasi Sosiologi Israel, Tekanan Boikot Akademik Meningkat
Namun Albanese tak bergeming. Ia pernah pula, pada Mei lalu, menyerukan agar para pemimpin Uni Eropa dimintai pertanggungjawaban atas dukungan mereka terhadap agresi Israel—termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Dunia kini berdiri di persimpangan: akankah ia memilih diam dan menjadi penonton genosida, atau bangkit melawan sistem ekonomi berdarah yang selama ini dianggap sah?
Laporan ini adalah panggilan. Untuk bertindak. Untuk tidak berkompromi. Dan untuk berdiri bersama kemanusiaan. ***

