Lo pernah denger gak sih tentang Puyang Gadis? Ini tuh salah satu legenda paling viral se-Empat Lawang! Serius, hampir semua orang di Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati pasti tahu cerita ini.
Emang sih, versi namanya beda-beda. Tapi intinya tetep satu: ini kisah tentang cewek cantik yang nasibnya tragis tapi dikenang sepanjang masa.
Baca Juga: Tragikomedi, Ketika Tawa dan Tangis Menyatu dalam Satu Cerita
Baca Juga: Cerita Rakyat Lampung yang Wajib Kamu Tahu!
Cewek Cantik dari Desa Kupang
Dulu banget, di sebuah desa kecil bernama Kupang (yang sekarang masuk Kecamatan Tebing Tinggi, cuma 2 km dari rumah dinas Bupati Empat Lawang), lahirlah seorang gadis cantik banget. Nama dia? Ya… tergantung siapa yang cerita.
Ada yang bilang Siti Rohina, ada yang nyebut Siti Lam Jen’ah, bahkan ada yang manggil Mahina. Tapi apapun namanya, yang jelas dia Kembang Desa sejati.
Siti Rohina ini bukan cuma cantik luar doang. Dia juga baik hati, rendah diri, dan super humble. Sayangnya, dia yatim piatu dan cuma tinggal sama kakaknya, yang juga punya banyak nama.
Ada yang bilang dia Hulu Balang, ada juga yang nyebut Abdul Amaran alias Bujang Juaro. Kakaknya ini jago silat, kuat banget, dan paling sayang sama adiknya.
Baca Juga; Soekarno dan Cerita Emas 57 Ton: Antara Fakta dan Fiksi
Baca Juga: Kisah Kebijaksanaan dan Cinta, Cerita Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Tukuk Labu yang Bikin Heboh
Suatu hari, Siti Rohina dan geng cewek-ceweknya lagi seru-seruan mandi di sungai deket desa. Tapi pas pulang, dia baru sadar kalau Tukuk Labu-nya (semacam tempat alat mandi) hilang! Entah kelupaan atau hanyut ke sungai, gak ada yang tahu pasti.
Lama-lama, Tukuk Labu itu ternyata terbawa arus sampai ke Sungai Musi di Palembang. Dan… inilah awal mula semua kekacauan terjadi.
Dari Sungai Musi ke Istana Sunan Palembang
Di hari mendung yang chill, sebuah kapal besar lewat di Sungai Musi. Pemiliknya? Sunan Palembang. Kaya banget, punya kapal mewah, dan… hobi banget koleksi cewek cakep alias banyak selir. Salah satu anak buahnya nemuin benda aneh yang ngambang di sungai.
“Tuanku, itu apaan ya?”
“Cepet ambil!”
Dan benda itu ternyata… Tukuk Labu-nya Siti Rohina.
Karena penasaran, Sunan manggil dukun alias ahli nujum buat ngulik asal usul benda itu. Setelah baca mantra (yang super random dan mistis), dukun itu bilang:
Baca Juga: Eksplorasi Rasa dan Budaya Bubur Ayam, Resep Autentik dan Cerita Panorama Kuliner Global
“Ini namanya Tukuk Labu. Punya gadis cantik dari Desa Kupang bernama Siti Rohina.”
Mendengar itu, Sunan langsung auto-mode cari pacar baru ON. Besok paginya, dia tancap gas naik kapal ke Desa Kupang.
Pertemuan yang Gagal Total
Warga Kupang kaget banget liat kapal mewah mampir. Sunan langsung nyari rumah Siti Rohina, tapi… doi gak ada di rumah. Ternyata lagi nyamah (nyari ikan pake tangan). Yang ada cuma kakaknya, Bujang Juaro.
Sunan langsung nembak maksud kedatangannya: mau nikahin Siti Rohina (yang artinya jadi selir dia). Bujang Juaro, yang udah tahu reputasi playboy Sunan, langsung gak setuju.
“Datanglah lagi tiga hari lagi, Sunan.” ucap Bujang Juaro, nahan emosi.
Begitu Siti Rohina balik, Bujang cerita semuanya. Dan si Rohina auto nolak:
“Kak, aku gak mau jadi selirnya Sunan. Kakak juga pasti gak rela, kan?”
Rencana Rahasia: Operasi Sembunyi
Tiga hari kemudian, Sunan datang lagi. Tapi kali ini, Siti Rohina udah kabur duluan ke Desa Batu Pance atas saran kakaknya. Sunan makin kesal karena zonk lagi. Bahkan, sempat nyuruh anak buahnya nyerang Bujang Juaro. Tapi… sayang banget, semua pasukannya kalah telak. Bujang Juaro emang sakti banget.
Setelah itu, Sunan makin dendam dan balik ke Palembang dengan tangan kosong.
Tragedi Lubang Persembunyian
Karena gak bisa kabur terus ke Batu Pance (takut ketauan), warga desa dan Bujang Juaro punya ide: bikin lubang rahasia di belakang rumah buat sembunyiin Siti Rohina. Setiap kali Sunan datang, Rohina disembunyiin di situ.
Sampai suatu hari, Sunan datang tiba-tiba. Warga panik dan buru-buru nyembunyiin Rohina. Tapi saking buru-burunya, mereka lupa kasih bambu napas buat dia di dalam lubang!
Pas sadar, mereka langsung gali lubangnya. Tapi… lho? Siti Rohina udah gak ada! Yang tersisa cuma selembar baju dan suara gaib yang terdengar lirih:
“Kalau ada anak cucu yang cantiknya melebihi aku, dia gak akan panjang umur. Nasibnya bakal sama kayak aku…”
Warisan Mistis Puyang Gadis
Sampai sekarang, makam Puyang Gadis dan Bujang Juaro masih berdampingan dan sering diziarahi. Aneh tapi nyata, makam Puyang Gadis katanya naik terus beberapa senti tiap tahunnya. Banyak warga percaya itu tanda kalau kisahnya harus selalu dikenang.
Bahkan, kabarnya… di desa Kupang, gadis-gadis yang cantik banget sering meninggal muda, seolah kutukan Puyang Gadis masih hidup.
Baca Juga: Definisi Sejati Abad Kekosongan dan Peranannya dalam Cerita One Piece
Baca Juga: Cerita Legenda Datuk Darah Putih: Kisah Kebesaran dan Kepahlawanan dari Jambi
Penutup
Cerita ini bukan sekadar legenda, tapi jadi bagian dari identitas warga Desa Kupang. Sosok Siti Rohina alias Puyang Gadis adalah simbol kecantikan, ketulusan, dan pengorbanan. Dan sampai kapan pun, namanya akan terus hidup… di hati masyarakat.
Kalau kamu lahir di Kupang dan ngerasa cantik banget, mending sering-sering doa ya, hehe. Siapa tau kamu the next Puyang Gadis. ***

