LINTASSRIWIJAYA.COM — Luka Palestina kembali menganga. Seorang pemuda Palestina, Lo’ay Faisal Mohammed Nasrallah, berusia 22 tahun, menghembuskan napas terakhir di balik jeruji besi Israel, Senin (1/7/2025).
Ia meninggal dunia di Pusat Medis Soroka, Israel selatan, setelah sebelumnya dipindahkan dari Penjara Negev tanpa penjelasan gamblang kepada keluarganya.
Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan
Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target
Nasrallah berasal dari Kota Jenin, Tepi Barat, dan telah ditahan sejak Maret 2024 tanpa dakwaan dan tanpa proses hukum—korban dari kebijakan penahanan administratif yang selama ini dikecam oleh komunitas hak asasi manusia internasional.
Kematian Nasrallah menambah panjang daftar duka rakyat Palestina. Sejak pecahnya agresi militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, sedikitnya 73 tahanan Palestina telah tewas dalam sistem penahanan Israel—sebuah angka yang mencerminkan penderitaan tak terlihat di balik tembok dan kawat berduri.
Menurut data Komisi Urusan Tahanan Palestina dan Masyarakat Tahanan Palestina, hingga kini lebih dari 10.100 warga Palestina masih berada dalam penahanan, termasuk 45 perempuan dan lebih dari 400 anak-anak. Mereka bukan sekadar angka, tetapi nyawa-nyawa yang menggantung dalam ketidakpastian.
Sementara itu, perang yang terus berkecamuk sejak 7 Oktober 2023 telah merenggut lebih dari 56.500 jiwa di Jalur Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak—sosok tak bersenjata yang menjadi bayang-bayang tragis dari konflik bersenjata yang brutal.
Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza
Baca Juga: Di Gaza, Mencari Tepung adalah Perjuangan Antara Hidup dan Mati
Baca Juga: Perlawanan Palestina Guncang Militer Israel, Analis: Medan Tempur Gaza Kian Terbuka
Atas tragedi yang terus berlangsung ini, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November 2024 telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Tak hanya itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tindakannya di Gaza—sebuah proses hukum yang bisa menjadi catatan sejarah peradaban tentang bagaimana penderitaan rakyat Palestina berujung pada pengadilan global.
Duka Palestina belum usai. Nama Nasrallah mungkin telah terukir dalam daftar syuhada di antara ribuan lainnya, namun jerit kesedihan dan panggilan keadilan terus menggema di dunia. Sampai kapan nyawa-nyawa ini akan terus terenggut tanpa kejelasan? ***

