Masjid Al-Aqsa Diserbu Polisi Israel, Penjaga Ditangkap, Properti Dirusak

Masjid Al-Aqsa Diserbu Polisi Israel, Penjaga Ditangkap, Properti Dirusak

Masjid Al-Aqsa Diserbu Polisi Israel: Penjaga Ditangkap, Properti Dirusak. (Poto: ist/Aljazeera.net)

Masjid Al-Aqsa Diserbu Polisi Israel: Penjaga Ditangkap, Properti Dirusak. (Poto: ist/Aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Menjelang tengah malam Sabtu (21/6) hingga Ahad (22/6), aparat kepolisian Israel kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Dalam penggerebekan tersebut, mereka menggeledah sejumlah ruangan di area masjid, termasuk ruang pemadam kebakaran dan beberapa musala beratap. Polisi juga menangkap empat penjaga masjid, yang kemudian dibebaskan dengan syarat wajib hadir jika dipanggil untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Lebih dari 55.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023, Serangan Israel Terus Berlanjut di Gaza

Baca Juga: Serangan Israel di Gaza: 70 Warga Palestina Gugur, Termasuk Anak-Anak dan Pengungsi

Keempat penjaga yang dibebaskan adalah Ramzi Al-Za’anin, Basem Abu Jum’ah, Iyad Udeh, dan Muhammad Arbash. Mereka bertugas dalam shift malam dan berada di bawah naungan Waqf Islam, lembaga keagamaan Islam yang mengelola situs suci tersebut.

Pusat Informasi Wadi Hilweh di Yerusalem melaporkan bahwa pembebasan mereka bersifat bersyarat. Dalam proses penggeledahan, polisi Israel juga dilaporkan merusak sejumlah perlengkapan dan properti masjid, termasuk melempar mushaf Al-Qur’an ke lantai serta merusak lemari penyimpanan.

Foto-foto dari Musala Al-Qibli menunjukkan kondisi ruangan yang porak-poranda akibat tindakan yang oleh otoritas lokal digambarkan sebagai “brutal dan penuh pelanggaran.”

Eskalasi di Tengah Ketegangan Regional

Serbuan ini terjadi di tengah meningkatnya pengawasan keamanan di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, yang telah memasuki hari ke-10 sejak diberlakukannya pembatasan ketat. Pemerintah Israel mengklaim langkah tersebut merupakan bagian dari instruksi Komando Dalam Negeri militer dengan dalih keamanan, menyusul memanasnya konflik antara Israel dan Iran.

Baca Juga: Gelombang Protes di Eropa Desak Penghentian Serangan Israel ke Gaza

Baca Juga: Duka Mendalam di Gaza, Komedian dan Aktivis Kemanusiaan Mahmoud Khamis Sharab Gugur dalam Serangan Udara

Meskipun sempat ada pelonggaran pada Rabu malam lalu—di mana sekitar 450 jemaah diizinkan masuk ke kompleks Al-Aqsa—pengawasan kembali diperketat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas milik Iran pada malam Ahad.

Seluruh gerbang menuju masjid kembali ditutup, dan hanya penduduk tertentu yang diperbolehkan memasuki kawasan Kota Tua Yerusalem.

Kecaman dari Tokoh Agama

Sheikh Ikrimah Sabri, khatib Masjid Al-Aqsa sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Islam di Yerusalem, mengecam keras penggerebekan tersebut. Kepada Al Jazeera, ia menyatakan bahwa tindakan aparat Israel merupakan bentuk “penodaan terhadap kesucian tempat ibadah dan pelanggaran terhadap kewenangan Waqf Islam.”

“Ini langkah berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tujuannya jelas: menebar ketakutan dan melumpuhkan peran para penjaga malam yang seharusnya bebas menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa Israel memanfaatkan ketegangan regional sebagai dalih untuk menekan penduduk Yerusalem Timur serta mengisolasi kota itu dari wilayah Palestina lainnya. Pembatasan terhadap jumlah jemaah, khususnya pada hari Jumat, disebutnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap kebebasan beragama umat Muslim.

Dugaan Agenda Terselubung

Abdullah Marouf, akademisi dan mantan Kepala Humas Masjid Al-Aqsa, menyatakan kekhawatirannya bahwa penggerebekan tersebut merupakan bagian dari skenario yang lebih besar.

Ia menduga ada upaya sistematis untuk mengosongkan masjid dari para penjaga, sebagai langkah awal menuju tindakan yang lebih ekstrem. “Jumlah penjaga saat ini sangat minim karena otoritas Israel melarang penambahan personel. Kini, para penjaga yang tersisa pun terancam dilarang bertugas,” kata Marouf.

Ia juga menyoroti peran kelompok-kelompok ekstrem Zionis di dalam pemerintahan Israel yang diyakininya memanfaatkan konflik dengan Iran sebagai peluang untuk memperkuat cengkeraman atas Masjid Al-Aqsa.

“Ada obsesi terhadap mitos keagamaan seperti nubuwwah dan akhir zaman, yang kini coba diterapkan secara paksa di lokasi suci ini,” ujarnya.

Seruan Perlawanan Sipil

Menurut Marouf, tanggung jawab untuk melindungi Masjid Al-Aqsa kini berada di tangan masyarakat Yerusalem. Ia menyerukan kepada warga sipil untuk meningkatkan tekanan demi menggagalkan rencana-rencana yang dinilai membahayakan status quo situs suci tersebut.

Saat ini, Kota Tua Yerusalem praktis tertutup sepenuhnya sejak konflik antara Israel dan Iran mencuat. Hanya penduduk yang terdaftar yang diizinkan masuk, menyebabkan akses menuju Masjid Al-Aqsa nyaris terputus.

Baca Juga: Brigade al-Qassam Klaim Hancurkan Tank dan Drone Israel di Jalur Gaza

Baca Juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 34 Warga Palestina, Mayoritas Tengah Antre Bantuan

Masyarakat Palestina kian menyadari bahwa situs suci ini kerap menjadi alat politik dalam setiap eskalasi militer dan ketegangan di kawasan. Di sisi lain, kelompok Yahudi ekstrem yang mendorong pembangunan kembali “Bait Suci Ketiga” terus memanfaatkan situasi ini demi mewujudkan agenda mereka.

Dalam situasi yang semakin tidak menentu ini, masa depan salah satu situs tersuci umat Islam berada dalam ancaman serius. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *