Media Dunia Soroti Agresi Israel: Ambisi Jadi Penguasa Timur Tengah Picu Krisis Regional

Media Dunia Soroti Agresi Israel: Ambisi Jadi Penguasa Timur Tengah Picu Krisis Regional

Media Dunia Soroti Agresi Israel: Ambisi Jadi Penguasa Timur Tengah Picu Krisis Regional. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Sejumlah media internasional dan Israel menyoroti eskalasi terbaru di Suriah dan Gaza, sambil menyorot ambisi Israel yang dinilai tengah berupaya menempatkan diri sebagai penguasa tatanan baru di kawasan Timur Tengah.

Berbagai laporan mengkritik keterlibatan aktif Israel yang justru memperparah ketidakstabilan regional, terutama melalui kebijakan militer agresif dan intervensi yang dinilai melampaui batas-batas diplomasi.

Baca Juga: Gempuran Israel Tewaskan 41 Warga Palestina, Gaza di Ambang Bencana Kelaparan

Baca Juga: 88 Persen Wilayah Gaza Hancur, Hampir 59.000 Tewas: Laporan 650 Hari Serangan Israel

Dalam laporan utamanya, The Wall Street Journal (WSJ) menyoroti bagaimana “garis merah” yang ditetapkan Israel di Suriah malah menyeretnya lebih dalam ke konflik yang berlarut.

Media asal Amerika Serikat (AS) itu menuliskan bahwa Israel memanfaatkan keruntuhan pemerintahan Bashar al-Assad untuk melumpuhkan kekuatan militer Suriah.

Tak hanya itu, Israel juga memperluas tekanannya, termasuk dengan mendorong pembentukan zona bebas senjata di selatan Damaskus serta mengancam kemungkinan intervensi militer langsung.

Pendekatan semacam ini, menurut WSJ, justru berisiko menempatkan Israel dalam konfrontasi terbuka, tak hanya dengan Damaskus, tapi juga dengan aktor besar lainnya seperti Turki, yang tidak selalu sejalan dengan kebijakan Tel Aviv.

Sementara itu, harian Libération asal Prancis dalam tajuk analisisnya mempertanyakan keras situasi tersebut.
“Siapa yang bisa menghentikan Israel?” tulisnya.

Baca Juga: UNRWA Desak Israel Cabut Larangan Media Internasional Masuk Gaza: Disinformasi Mengganas

Baca Juga: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 10 Warga, Termasuk Anak-Anak dan Ibu

Media ini menyebut Israel sebagai aktor utama dalam menciptakan instabilitas kawasan dan menyayangkan sikap bungkam negara-negara Eropa, serta dukungan tak bersyarat dari AS.

Dalam sorotannya terhadap serangan udara ke Damaskus, Libération menilai bahwa Israel tengah berusaha menjadi satu-satunya penguasa regional di tengah kekacauan yang turut mereka desain.

Di sisi lain, lembaga analisis strategis Stratfor menyatakan bahwa AS kini kesulitan merumuskan strategi jangka panjang yang efektif di Suriah, pasca keruntuhan rezim Assad.

Washington, menurut mereka, masih terombang-ambing antara keterlibatan terbatas dan keinginan untuk menjauh dari konflik. Jika sikap ambigu ini terus berlanjut tanpa keterlibatan yang terukur, Stratfor memperingatkan bahwa dampaknya di lapangan bisa semakin tak terkendali.

Derita Tak Kunjung Usai di Gaza

Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza juga mendapat sorotan tajam dari media internasional.

Baca Juga: Satu Kelas Anak Hilang Tiap Hari di Gaza: Fakta Mengguncang Dunia dari PBB

Baca Juga: INH Kembali Kirim Bantuan ke Gaza, 600 Keluarga Dapat Paket Pangan

Majalah The Economist menggambarkan kondisi memilukan warga Palestina yang mempertaruhkan nyawa hanya demi bantuan kemanusiaan.

Dalam laporannya, disebutkan bahwa tentara Israel dan kontraktor keamanan kerap menutup paksa pusat distribusi bantuan, bahkan melepaskan tembakan jika mereka menilai adanya potensi gangguan keamanan. “Warga Palestina terus mati demi makanan,” tulis The Economist.

Meski demikian, Israel tetap mengklaim bahwa distribusi bantuan berjalan sesuai prosedur dan tidak ada pelanggaran.

Dari sisi kemanusiaan, The Guardian memuat tulisan seorang dokter asal Australia, Dr. Tien Minh Dinh, yang secara sukarela bekerja di Gaza. Ia membantah anggapan bahwa para relawan asing adalah pahlawan sesungguhnya.

“Pahlawan sejati adalah warga Gaza—anak-anak, tenaga medis, dan warga sipil—yang tetap datang bekerja setiap hari selama lebih dari 650 hari di tengah horor perang,” tulisnya.

Sementara itu, opini tajam dalam Haaretz menuduh bahwa Israel saat ini menjalankan dua agenda besar secara simultan: genosida di Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat.

Tulisan itu juga menyerukan agar perhatian dunia tak hanya terfokus pada Gaza, melainkan juga pada perlakuan sistematis Israel terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan lainnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *