GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM — Militer Israel tengah dilanda badai krisis paling kelam dalam sejarahnya—bukan hanya karena tekanan di medan tempur, tetapi juga karena luka mendalam yang menggerogoti tubuh tentaranya sendiri.
Gelombang bunuh diri yang mencengangkan di kalangan prajurit, ditambah krisis kekurangan personel, membentuk potret suram kekuatan militer yang selama ini diklaim sebagai salah satu yang paling kuat di dunia.
Baca Juga: Haus yang Mematikan: Lebih dari 700 Warga Gaza Tewas Saat Ambil Air, Mayoritas Anak-anak
Baca Juga: Mental Tentara Israel Drop Parah, Publik Udah Nggak Percaya Lagi Sama Perang Gaza
15 Tentara Akhiri Hidup di 2025, Mayoritas Pasukan Cadangan
Menurut harian Haaretz, sejak awal tahun 2025 sedikitnya 15 tentara Israel mengakhiri hidup mereka. Angka ini mencatat lonjakan jika dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 21 kasus sepanjang tahun.
Mayoritas korban merupakan anggota pasukan cadangan yang ditugaskan secara aktif—banyak di antaranya menderita trauma berat akibat pengalaman langsung di Gaza dan Lebanon.
Dalam kurun waktu hanya 10 hari terakhir, tiga tentara dilaporkan bunuh diri. Salah satunya, dari Brigade Nahal, ditemukan tak bernyawa di sebuah pangkalan militer di Dataran Tinggi Golan.
Tentara tersebut diketahui baru saja kembali dari tugas panjang di Gaza selama lebih dari satu tahun.
Baca Juga: Rencana “Kota Kemanusiaan” di Gaza Tuai Kecaman: Disebut Mirip Kamp Konsentrasi
Tekanan Mental Setelah Interogasi dan Penarikan Senjata
Kasus lainnya menimpa seorang prajurit Brigade Golani yang menembak dirinya sendiri di pangkalan Sde Teiman, Gurun Negev, usai menjalani interogasi oleh Polisi Militer Israel.
Menurut laporan Yedioth Ahronoth, ia mengalami tekanan hebat setelah senjatanya ditarik karena alasan keamanan. Ia lalu mengambil senjata milik rekan dan mengakhiri hidupnya.
Sumber dari media Walla juga menyebutkan bahwa seorang tentara lain mengakhiri hidup setelah berbulan-bulan bergulat dengan trauma menyaksikan kekejaman perang di Gaza dan Lebanon.
Secara total, sejak perang Gaza meletus pada 7 Oktober 2023, media Israel mencatat sedikitnya 44 tentara telah bunuh diri karena tekanan psikologis berat.
Militer Kekurangan Pasukan, Unit Elit Dipaksa Jadi Infanteri
Di sisi lain, militer Israel juga sedang mengalami krisis kekurangan personel yang akut.
Baca Juga: Koalisi Terancam Retak, Netanyahu Temui Dua Menteri Sayap Kanan Bahas Gaza
Menurut laporan Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Angkatan Bersenjata Israel tengah membutuhkan puluhan ribu pasukan tambahan di tengah eskalasi pertempuran di banyak front.
Akibat kekosongan personel, unit-unit elit seperti Brigade Komando dalam Divisi 98 Pasukan Terjun Payung terpaksa dikerahkan untuk misi infanteri biasa—sebuah langkah yang dinilai tidak efisien dan menyimpang dari pelatihan dasar mereka.
Laporan Channel 12 mengungkapkan tekanan terhadap para tentara untuk memperpanjang masa dinas hingga setahun lebih lama, bahkan ada yang bertempur lebih dari 12 jam setiap hari.
Survei: Semangat Prajurit Runtuh karena Ketimpangan Wajib Militer
Survei nasional menunjukkan 71% warga Israel percaya bahwa pengecualian terhadap kelompok Yahudi ultraortodoks (Haredi) dari wajib militer meruntuhkan moral tentara.
Baca Juga: Olivia Rodrigo Anggap Krisis Gaza “Enggak Manusiawi”, Donasi Ke Unicef Buat Bantu Korban
Sebanyak 42% orang tua menyatakan tidak akan mendorong anak-anak mereka bergabung dengan militer selama sistem tersebut tidak adil.
Efek Domino: Motivasi Tempur Menurun, PTSD Meluas
Tekanan tempur berkepanjangan telah menimbulkan efek domino. Keluhan meningkat, semangat menyusut, dan kelelahan ekstrem menghantui barak-barak militer.
Data dari Radio Militer Israel menunjukkan lebih dari 890 tentara tewas dan 10.000 lainnya luka-luka sejak perang dimulai. Lebih mengejutkan lagi, Channel 12 melaporkan sekitar 20.000 tentara kini mengalami gejala PTSD akibat pertempuran intens di Gaza.
Akhir yang Belum Jelas
Para analis menilai bahwa kegagalan Israel dalam mengendalikan Gaza tidak hanya disebabkan oleh perlawanan dari kelompok bersenjata Palestina, tetapi juga karena kerapuhan internal: jumlah pasukan yang tidak mencukupi dan moral prajurit yang runtuh.
Kini, militer Israel dihadapkan pada pilihan sulit—melanjutkan perang dengan barisan prajurit yang terkuras jiwa dan raga, atau menata ulang strategi untuk mencegah keruntuhan dari dalam. ***
