LINTASSRIWIJAYA.COM – Di tengah meningkatnya ketegangan regional dan kekhawatiran atas campur tangan asing, militer Pakistan menyatakan sikap tegas terhadap apa yang disebut sebagai “konspirasi sistematis India” untuk menggoyahkan stabilitas nasional.
Militer Pakistan menuduh India mendukung kelompok separatis dan terlibat dalam serangkaian serangan terhadap personel militer serta target-target strategis di dalam negeri.
Baca Juga: Gaza Darurat! 50 Ribu Ibu Hamil Tak Makan, Bayi Mati dalam Kandungan
Baca Juga: 100 Tewas, Anak-Anak Jadi Korban: Gaza Kembali Dibombardir, Dunia Masih Diam
Tuduhan tersebut disampaikan setelah ledakan mematikan di Waziristan pada akhir Juni lalu yang menewaskan sedikitnya 16 tentara dan melukai lebih dari 20 orang, termasuk warga sipil.
Serangan itu diklaim oleh kelompok Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP). Pemerintah Islamabad secara terbuka menuding New Delhi sebagai aktor di balik insiden tersebut, termasuk dalam penyediaan dana dan logistik untuk operasi-operasi sabotase dan pemboman di wilayah Pakistan.
Pernyataan ini kembali menyoroti ketegangan abadi antara dua kekuatan nuklir Asia Selatan, serta dugaan keterlibatan India dalam memperburuk kondisi keamanan Pakistan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Net, Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry—Kepala Hubungan Masyarakat sekaligus juru bicara resmi Angkatan Bersenjata Pakistan—mengulas sejumlah istilah penting yang kini lazim digunakan dalam wacana militer Pakistan.
Baca Juga: Enam Mantan Tahanan Palestina Gugur dalam Serangan Israel di Gaza
Salah satu istilah tersebut adalah “khawarij,” yang digunakan untuk menyebut kelompok bersenjata seperti TTP yang dianggap memberontak terhadap negara.
Sementara itu, istilah baru “fitnah Hindustan” digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok bersenjata di Pakistan yang diduga kuat mendapatkan sokongan dari India, terutama di wilayah-wilayah sensitif seperti Balochistan.
Menurut Chaudhry, kelompok-kelompok tersebut menjalankan operasi terkoordinasi dengan tujuan mengguncang stabilitas nasional.
Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, terutama pasca meletusnya konflik antara Iran dan Israel, Pakistan kembali menegaskan dukungan politik dan diplomatiknya kepada Teheran.
Dukungan ini disebut sebagai bentuk solidaritas sesama negara Muslim serta respon terhadap setiap ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Namun pernyataan paling tegas datang saat Jenderal Chaudhry membahas isu keamanan strategis Pakistan. Ia menegaskan bahwa sistem pertahanan nuklir negaranya sepenuhnya aman dari ancaman luar.
Baca Juga: Tiga Tentara Cadangan Israel Gugat Pemerintah: Operasi di Gaza Langgar Hukum Internasional!
Baca Juga: 57.575 Warga Palestina Tewas, Dunia Masih Bungkam, Genosida di Gaza Terus Berlanjut
“Program nuklir kami sepenuhnya terlindungi. Tidak ada satu pihak pun—termasuk Israel—yang bisa menyentuhnya tanpa menghadapi balasan yang tegas,” ujarnya.
Dalam wawancara yang sama, Chaudhry membahas secara terbuka berbagai isu sensitif—mulai dari tuduhan langsung terhadap India sebagai dalang di balik jaringan teror domestik, hingga eksistensi sel-sel musuh di wilayah Pakistan.
Militer Pakistan menyatakan bahwa seluruh skenario ancaman telah dianalisis dan diantisipasi secara matang, baik melalui operasi militer langsung maupun strategi intelijen jangka panjang.
Baca Juga: Kapal Hanzala Siap Berlayar ke Gaza: Misi Kemanusiaan untuk Anak-anak yang Terluka
Baca Juga: Ini Bukan Film, Ini Gaza: 700.000 Ribu Warga Mengungsi, Gaza Terancam Kelaparan dan Blackout
Di tengah gejolak kawasan yang terus meningkat, Pakistan mengirimkan pesan jelas kepada dunia: garis merah keamanan nasional tidak akan pernah dibiarkan dilanggar. Dan senjata nuklirnya tetap menjadi elemen tak tergoyahkan dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas negara. ***

