NYT Dituding Berpihak pada Israel, Dokumen Ungkap Jaringan Internal Pro-Lobi Zionis

NYT Dituding Berpihak pada Israel, Dokumen Ungkap Jaringan Internal Pro-Lobi Zionis

NYT Dituding Berpihak pada Israel, Dokumen Ungkap Jaringan Internal Pro-Lobi Zionis. (Poto: ist/ist)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Sebuah dokumen terbaru yang dirilis oleh kelompok jurnalis dan pekerja media menuduh harian The New York Times (NYT) memiliki keberpihakan sistematis terhadap Israel dan bias terhadap Palestina. Laporan tersebut disampaikan oleh Middle East Eye, Sabtu (19/7/2025).

Dokumen itu menyebut bahwa hampir dua lusin jurnalis, editor, dan eksekutif senior NYT memiliki keterkaitan erat dengan kelompok lobi pro-Israel.

Baca Juga: Bayi Palestina Meninggal karena Kelaparan di RS Al-Shifa, 116 Tewas di Gaza

Baca Juga: Korban Tewas di Gaza Tembus 58 Ribu, Serangan Israel Berlanjut

Kelompok Writers Against the War on Gaza (WAWOG), dalam pernyataannya, menuding NYT sebagai “komplotan dalam genosida di Gaza” dan “corong imperialisme Amerika” yang membentuk opini elite terhadap kebijakan luar negeri AS.

Seperti sejumlah media arus utama lainnya, NYT mendapat sorotan tajam atas peliputannya terkait konflik di Gaza. Aktivis HAM dan sejumlah analis menilai media tersebut cenderung memberikan pembenaran terhadap dugaan kejahatan perang oleh Israel.

Dalam dokumen yang dirilis pada Rabu (17/7), WAWOG menyebut bahwa bias NYT dapat dijelaskan melalui relasi finansial, ideologis, dan material antara beberapa staf—baik yang masih aktif maupun yang telah berhenti—dengan negara dan militer Israel.

Larangan Penggunaan Istilah Sensitif

Dokumen tersebut juga mengungkap adanya instruksi internal dari redaksi NYT kepada para wartawan untuk menghindari istilah-istilah sensitif seperti “genosida”, “pembersihan etnis”, “wilayah pendudukan”, bahkan “Palestina”.

“Kajian kami sebelumnya menyoroti kaitan material dengan pendudukan dan apartheid. Kini, dimensi ideologis juga kami sertakan dalam pembaruan dokumen ini,” kata juru bicara WAWOG kepada Middle East Eye.

Baca Juga: Gempuran Israel Tewaskan 41 Warga Palestina, Gaza di Ambang Bencana Kelaparan

Baca Juga: 88 Persen Wilayah Gaza Hancur, Hampir 59.000 Tewas: Laporan 650 Hari Serangan Israel

Laporan ini disusun berdasarkan arsip dari Mondoweiss, The Electronic Intifada, serta wawancara dengan sejumlah jurnalis Palestina. Menurut WAWOG, kode etik NYT dijalankan secara tidak konsisten dan bersifat rasis.

Dugaan Pelanggaran Etika Jurnalistik

Dokumen juga menyingkap bahwa beberapa editor dan jurnalis NYT memiliki hubungan keluarga dekat dengan militer Israel, namun informasi itu tidak dicantumkan dalam profil resmi mereka di situs NYT.

WAWOG menyebut hal ini sebagai pelanggaran terhadap prinsip transparansi dan integritas jurnalistik.

Dalam sejumlah unjuk rasa yang digelar di luar dan dalam gedung NYT di Manhattan, kelompok ini menyebut NYT sebagai “The New York War Crimes”, menyusul serangan Israel ke Gaza pasca peristiwa 7 Oktober 2023.

Lebih dari 58.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel di Gaza. Sejumlah negara dan organisasi HAM internasional menyebut serangan tersebut mengandung unsur genosida.

Media Barat Dinilai Tutup Mata

Kelompok hak asasi dan pengamat media menilai media Barat turut andil dalam mendistorsi dan menghapus narasi tentang kejahatan perang Israel.

Baca Juga: UNRWA Desak Israel Cabut Larangan Media Internasional Masuk Gaza: Disinformasi Mengganas

Baca Juga: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 10 Warga, Termasuk Anak-Anak dan Ibu

Sebuah studi dari The Intercept pada Januari 2024 menunjukkan bahwa NYT, Washington Post, dan Los Angeles Times lebih banyak mengangkat isu antisemitisme ketimbang Islamofobia setelah peristiwa 7 Oktober.

Hal senada diungkapkan sejumlah jurnalis dari BBC dan CNN kepada program Listening Post milik Al Jazeera. Mereka, yang berbicara secara anonim, mengakui adanya tekanan internal agar tidak mengkritik Israel secara terbuka.

Pada Januari lalu, organisasi Quaker American Friends Service Committee (AFSC) bahkan membatalkan rencana pemasangan iklan di NYT setelah redaksi menolak kata “genosida” dalam konteks serangan Israel ke Gaza.

“Penolakan The New York Times terhadap iklan berbayar yang menyebut Israel melakukan genosida adalah bentuk penghindaran terang-terangan terhadap kebenaran,” ujar Sekjen AFSC, Joyce Ajlouny.

Respons dari NYT

Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara NYT menyebut dokumen itu sebagai “kampanye keji yang bertujuan mengintimidasi jurnalis dan eksekutif media karena liputan yang adil dan berimbang.”

Baca Juga: Satu Kelas Anak Hilang Tiap Hari di Gaza: Fakta Mengguncang Dunia dari PBB

Baca Juga: INH Kembali Kirim Bantuan ke Gaza, 600 Keluarga Dapat Paket Pangan

“Alih-alih mengkritisi substansi jurnalisme kami, kampanye ini justru melakukan serangan pribadi dan insinuasi berdasarkan agama atau relasi individu dengan kelompok atau negara tertentu. Sebagian informasi itu bersifat publik, sebagian lainnya tidak akurat. Ini adalah upaya terang-terangan untuk mendiskreditkan peliputan kami. Kelompok penulis seharusnya memahami etika lebih baik,” demikian pernyataan NYT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *