LINTASSRIWIJAYA.COM – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa pembunuhan warga sipil Palestina yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, bahkan menyatakan bahwa ungkapan “tidak dapat diterima” terasa terlalu lemah untuk menggambarkan skala tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Hamas: Distribusi Bantuan oleh Israel-AS Tewaskan 454 Warga Gaza, Sebut Sebagai Jebakan Maut
Baca Juga: Di Tengah Konflik Israel-Iran, Serangan Mematikan di Gaza Terus Berlanjut
“Angka-angka tidak berbohong,” ujar Dujarric.
Ia merujuk pada terus bertambahnya jumlah korban jiwa setiap hari. Para korban, tegasnya, bukanlah kombatan, melainkan warga sipil yang hanya berusaha mendapatkan makanan demi kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.
Sejak dimulainya agresi militer Israel ke Jalur Gaza pada Oktober 2023, wilayah tersebut mengalami pengepungan total. Dalam tiga bulan terakhir, pembatasan semakin diperketat hingga hampir menutup sepenuhnya akses masuk bantuan kemanusiaan.
Saat ini, hanya sebagian kecil bantuan yang berhasil masuk, dan pendistribusiannya dilakukan oleh sebuah perusahaan swasta asal Amerika Serikat kepada sekitar 1,5 juta warga Gaza. Hal ini terjadi setelah badan-badan PBB, termasuk UNRWA, dilarang untuk mendistribusikan bantuan secara langsung.
Namun, alih-alih memperbaiki situasi, pendekatan baru ini justru memperburuk kondisi di lapangan. Setiap hari, warga Gaza yang mengantre bantuan kerap menjadi sasaran tembakan dari pasukan Israel.
Data dari rumah sakit di Gaza menunjukkan bahwa sejak Selasa dini hari, sedikitnya 80 warga Palestina tewas akibat serangan pasukan Israel. Dari jumlah tersebut, 56 orang tewas saat menunggu bantuan di wilayah Netzarim, Gaza Tengah, dan di Rafah, Gaza Selatan.
Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 86 Warga Palestina di Gaza, 56 di Titik Bantuan
Baca Juga: Serangan Udara Israel Gempur Gaza, 43 Warga Tewas—Al-Qassam Klaim Tewaskan Tiga Tentara Israel
Distribusi Bantuan yang Sarat Risiko
Dujarric menyoroti bahwa sistem distribusi saat ini sangat berisiko dan tidak menghasilkan dampak sebagaimana diharapkan. Ia menilai pendekatan perusahaan swasta asal AS tersebut tidak menghormati prinsip dasar kemanusiaan, bahkan menempatkan warga Gaza dalam posisi yang mematikan, “di depan laras senapan.”
Sejumlah organisasi hak asasi manusia juga mengkritik metode distribusi tersebut sebagai tindakan yang merendahkan martabat manusia dan membahayakan nyawa para penerima bantuan.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, termasuk tuduhan dari otoritas Israel bahwa PBB tidak netral dan berpihak, Dujarric menegaskan bahwa lembaga dunia itu tidak akan meninggalkan Gaza.
“Kami akan terus bekerja semampu kami, di tengah ruang gerak yang sangat sempit,” ujarnya.
Israel sendiri kerap melayangkan tuduhan terhadap badan-badan PBB, khususnya UNRWA, dengan menuding sejumlah stafnya memiliki keterkaitan dengan kelompok perlawanan Palestina. Mereka juga menuduh distribusi bantuan telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak bersenjata.
Baca Juga: Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr
Meski demikian, Dujarric menyatakan bahwa PBB tidak pernah mengklaim mampu menangani semua hal sendiri. Ia mendesak agar seluruh organisasi kemanusiaan yang relevan diberikan akses aman dan transparan untuk bekerja di Gaza.
“Cadangan makanan menipis, bahan bakar menipis, dan kebutuhan akan bantuan tambahan makin mendesak,” tegasnya.
PBB, kata Dujarric, ingin dapat menjangkau seluruh keluarga di Gaza secara langsung—tanpa perantara dan tanpa membahayakan nyawa warga yang mendatangi titik-titik distribusi. Pasalnya, lokasi distribusi bantuan kini kerap menjadi zona berbahaya tanpa alasan yang jelas.
Walau berbagai upaya diplomatik terus dilakukan, termasuk melalui kontak intensif dengan Israel, Amerika Serikat, dan organisasi kemanusiaan lainnya, Dujarric tidak menyembunyikan rasa pesimisnya. Ia menyebut situasi di Gaza sebagai sangat berat, dan mempertanyakan siapa yang sebenarnya mampu membawa perubahan nyata di lapangan.
Baca Juga: Gempuran Israel di Gaza Tewaskan 51 Warga Palestina dalam 24 Jam, Total Korban Tembus 187 Ribu
Fakta yang mencolok, menurut Dujarric, adalah bahwa satu-satunya waktu warga Gaza mendapatkan sedikit kebutuhan dasar seperti makanan dan bahan bakar adalah ketika berlangsung pertukaran tawanan antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina.
“Tidak ada jalan keluar dari penderitaan ini kecuali melalui penyelesaian diplomatik dan politik. Bukan melalui pembunuhan dan pengepungan,” pungkasnya. ***
