Perang Gaza Tanpa Arah, Hamas Masih Berdiri, Israel Terjebak Dilema Politik

Perang Gaza Tanpa Arah, Hamas Masih Berdiri, Israel Terjebak Dilema Politik

Hamas Masih Bertahan, Israel Kian Tersudut dalam Perang yang Melelahkan. (Poto:ist/dok aljazeera.net)

GAZA, LINTASSRIWIJAYA.COM — Di tengah tekanan internasional yang semakin kuat, terutama dari Amerika Serikat (AS), agar Israel menyepakati gencatan senjata dan pertukaran tahanan, para analis di Israel justru melontarkan penilaian yang semakin suram: Hamas belum runtuh, bahkan masih memegang kendali atas Jalur Gaza.

Sudah hampir dua tahun sejak perang ini dimulai, namun tujuan utama Israel—menghancurkan kekuasaan Hamas—masih jauh dari kenyataan.

Baca Juga: Anak-anak Gaza Mati Kelaparan dan Bom, Dunia Masih Diam

Baca Juga: Gaza di Ambang Kehancuran: Tangisan Ibu dan Ratapan Anak Jadi Saksi Malnutrisi Terburuk dalam Sejarah

Kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS dan pertemuannya dengan Presiden Donald Trump justru memperjelas kekhawatiran Washington bahwa perang ini telah berubah menjadi konflik yang kehilangan arah.

AS mendesak Netanyahu—yang kini juga diburu Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza—untuk segera menyetujui gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Namun, Netanyahu masih bersikukuh menolak. Di mata sebagian besar publik Israel, menerima kesepakatan berarti menyerah—sebuah simbol kekalahan dan pengakuan bahwa Hamas tetap eksis dan memiliki daya tawar.

Hamas Masih Berdiri, Perang Belum Usai

Sejumlah lembaga strategi dan media di Israel menyebut bahwa tujuan utama perang belum tercapai. Bahkan, menurut beberapa dokumen yang bocor ke publik, militer Israel sendiri mengakui bahwa menggulingkan Hamas secara total akan memakan waktu bertahun-tahun—melalui pertempuran darat yang brutal dan operasi dari rumah ke rumah.

Kehadiran jaringan terowongan bawah tanah yang rumit serta kemampuan Hamas untuk terus menyusun ulang strategi membuat operasi ini semakin sulit. Israel terjebak dalam perang tanpa ujung.

Baca Juga: Khamenei Kecam Israel: Genosida Murahan Terjadi di Gaza

Baca Juga: 74 Warga Palestina Tewas, Israel Serang Pusat Medis di Gaza

Di Antara Tekanan Internasional dan Realitas Lapangan

Washington mendorong kesepakatan demi mengakhiri penderitaan warga sipil Gaza dan membebaskan para tawanan.

Tapi di Tel Aviv, para pengambil keputusan menghadapi dilema besar: tunduk pada tekanan internasional atau terus bertarung dalam perang yang kian tak menentu.

Militer Israel dilaporkan masih kesulitan menghancurkan jaringan terowongan yang jadi andalan Hamas. Jika Israel mundur sekarang, ada kekhawatiran Hamas akan kembali bangkit. Tapi jika pertempuran terus dilanjutkan, nasib para tahanan Israel semakin terancam.

Media-media besar Israel merangkum kondisi ini sebagai perang tanpa arah dan tanpa solusi politik yang jelas. Target-target awal kini terdengar seperti mimpi, hanya mungkin tercapai lewat perang panjang yang penuh pengorbanan.

Israel Tersandera oleh Politiknya Sendiri

Amos Harel, analis militer senior Haaretz, menyebut perang telah memasuki fase kompleks, di mana kebuntuan politik dalam negeri bertabrakan dengan tekanan komunitas internasional.

Baca Juga: Lima Tentara Cadangan Israel Tolak Bertugas, Tuduh Netanyahu Perpanjang Perang Gaza Demi Kekuasaan

Baca Juga: Pedro Sánchez Tuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza, Bandingkan Netanyahu dengan Putin

Menurut Harel, kunjungan Netanyahu ke Washington memperlihatkan sikap ambigu AS: mendukung Israel, namun juga mendesak kompromi. Hal ini dimanfaatkan Netanyahu untuk menunda keputusan strategis, terutama soal penarikan pasukan dari lokasi-lokasi kunci seperti Koridor Morag dan Rafah.

Di balik keputusan mempertahankan posisi militer di Rafah, terdapat kepentingan strategis: menciptakan zona aman dan mencegah Hamas bangkit kembali. Namun, sejumlah pihak menilai ini sebagai bentuk pemindahan paksa terselubung, dengan dalih keamanan.

Militer Israel Kelelahan, Perang Jadi Beban Mental

Harian Yedioth Ahronoth melaporkan dari garis depan Jalur Gaza. Dari medan pertempuran, mereka menggambarkan perang bawah tanah yang kompleks, lambat, dan penuh tekanan.

Letnan Kolonel “A”, komandan Batalion Granit 932, menggambarkan kondisi medan:

“Di atas tanah kami bisa mencapai laut dalam hitungan menit. Tapi di bawah kaki kami ada kota lain—labirin terowongan yang menakutkan. Dan waktu adalah musuh terbesar kami.”

Selama 21 bulan, militer Israel menghadapi perang yang seperti pertempuran Sisyphean—usaha tanpa ujung yang terus menguras tenaga.

Keterbatasan alat berat, bahan peledak, serta logistik memperlambat operasi penghancuran terowongan, sementara Hamas terus menyesuaikan taktik tempur mereka. Untuk menghancurkan satu kilometer jaringan terowongan saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu, dengan risiko disergap atau diculik.

Dilema Strategis di Ujung Perundingan

Yossi Yehoshua, analis militer Yedioth Ahronoth, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata bukan berarti akhir dari ancaman.

Jaringan terowongan yang masih aktif bisa digunakan untuk serangan dadakan atau penyanderaan. Hamas juga mampu menggunakan senjata hasil rampasan untuk membuat bom rakitan.

Jika Israel mundur dari wilayah-wilayah tertentu tanpa memastikan Hamas benar-benar lumpuh, maka potensi kebangkitan kembali sangat besar.

Baca Juga: Populasi Gaza Turun 10 Persen, Anak Muda Jadi Korban Terbanyak: Dunia Diam, Gaza Hancur Perlahan

Baca Juga: Bantuan Berdarah, 80% Korban di Gaza Adalah Anak Muda, Bukan Sembako yang Datang, Tapi Maut

Yehoshua menutup analisisnya dengan peringatan keras:

“Siapa pun yang berpikir Hamas bisa dihancurkan dalam waktu singkat tidak memahami skala tantangan yang sebenarnya. Gaza punya satu senjata paling berbahaya: waktu. Dan waktu, kali ini, tidak berpihak pada Israel.” pungkas Yehoshua. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *