Perang Iran-Israel Meningkat: Serangan Balasan Iran Guncang Strategi Netanyahu

Perang Iran-Israel Meningkat: Serangan Balasan Iran Guncang Strategi Netanyahu

Netanyahu (kiri) meninjau lokasi Institut Sains Weizmann yang terdampak serangan rudal Iran. (Poto: ist/dok Aljazeera.net)

Netanyahu (kiri) meninjau lokasi Institut Sains Weizmann yang terdampak serangan rudal Iran. (Poto: ist/dok Aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Serangan udara Amerika Serikat (AS) yang menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—sempat memicu euforia di Israel.

Para pemimpin militer dan politik, bersama sejumlah analis, menyambut gempuran itu dengan harapan tinggi. Namun kegembiraan tersebut tak berlangsung lama.

Baca Juga: Iran Bantah Sepakati Gencatan Senjata dengan Israel, Araghchi: Belum Ada Kesepakatan

Baca Juga: Iran Koordinasikan Serangan Rudal ke Pangkalan AS di Qatar, Beri Peringatan Dini untuk Hindari Korban

Iran melancarkan serangan balasan lebih cepat dari perkiraan, mengubah kegembiraan menjadi kecemasan yang nyata.

Dalam kolomnya di Haaretz, analis politik senior Gideon Levy menulis tajam:

“Orang Israel mencintai perang, terutama pada awalnya. Tak ada satu pun perang yang tidak disambut sorak-sorai. Namun, tak satu pun pula yang berakhir tanpa tangisan,” tulisnya.

Levy mengingatkan bagaimana mantan Perdana Menteri Menachem Begin memasuki Perang Lebanon dengan penuh semangat, namun keluar dalam kondisi depresi berat.

“Skenario serupa bisa terjadi dalam perang melawan Iran. Awalnya menggembirakan, namun berubah menjadi muram ketika sirene meraung, jutaan orang berlarian ke tempat perlindungan, dan kehancuran serta kematian mulai menghampiri,” lanjutnya.

Nafas Panjang Iran dan Strategi Israel yang Dipertanyakan

Mantan Perdana Menteri Ehud Barak dalam kolomnya di Haaretz menyebut euforia pasca-serangan sebagai ilusi awal.

“Kegembiraan di jalanan datang terlalu cepat, terlalu jauh dari realitas. Seperti disampaikan Kepala Staf Eyal Zamir, kita harus rendah hati dan membaca situasi dengan cermat. Ini adalah ujian panjang, sulit, dan menyakitkan,” tulisnya.

Di Yedioth Ahronoth, analis politik Nadav Eyal menegaskan bahwa yang terpenting dalam perang bukanlah bagaimana ia dimulai, melainkan bagaimana ia berakhir. Ia mendesak pemerintah untuk segera merumuskan strategi keluar.

Baca Juga: Serbia Hentikan Penjualan Amunisi ke Israel di Tengah Konflik Israel-Iran, Vucic Serukan Perdamaian

Baca Juga: Iran dan Israel Bungkam soal Gencatan Senjata yang Diumumkan Trump, Qatar Disebut Jadi Mediator

Analis lain, Ari Shavit, mempertanyakan risiko yang dihadapi Israel bila Iran melancarkan balasan besar-besaran.

“Kita berada di wilayah tak bertanda dalam peta sejarah,” ujarnya.

Sementara itu, analis militer Ron Ben-Yishai menyoroti pentingnya memahami pola balasan Iran: akankah Iran menyerang langsung Israel, mengancam Selat Hormuz, atau membuka peluang negosiasi?

“Semua ini akan menentukan durasi dan dampak perang,” tulisnya.

Anna Barsky dari Maariv menekankan bahwa setelah serangan AS, justru muncul banyak pertanyaan strategis: Apakah fasilitas nuklir Iran benar-benar lumpuh? Dan lebih penting, apakah Israel sedang menuju perang panjang yang berisiko lepas kendali?

Beberapa analis juga mempertanyakan efektivitas serangan AS dalam mencapai tujuan utama: memperlambat pengembangan program nuklir Iran.

Di Mana Strategi Keluar Israel?

Pertanyaan paling krusial—yang terus berulang—adalah: apakah Israel memiliki strategi keluar?

Nahum Barnea, kolumnis senior Yedioth Ahronoth, mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilainya kerap memulai konflik tanpa rencana penyelesaian.

“Baik di Gaza, soal wajib militer untuk kaum ultra-Ortodoks, maupun kini terhadap Iran, Netanyahu selalu memesan hidangan paling mahal, dengan harapan orang lain yang membayar,” sindirnya.

Kegelisahan serupa disampaikan Prof. Assaf Medani dari Universitas Oxford. Ia menyoroti kekhawatiran publik yang makin menguat.

“Semakin banyak yang bertanya: apa sebenarnya tujuan perang ini? Dan apa yang akan terjadi setelahnya?” ujarnya.

Bahkan, ketidakpercayaan itu merambah ke ranah politik. Danyella London Dekel menulis dengan nada tajam:

Baca Juga: Respon Iran: IRGC Peringatkan AS Akan Menyesal Jika Serang Iran Lagi, Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran

Baca Juga: Presiden Trump Umumkan Gencatan Senjata Total antara Israel dan Iran: Perang 12 Hari Resmi Berakhir

“Bagaimana kita bisa mempercayai kabinet yang dipenuhi koruptor, penjahat, dan manajer yang telah gagal dalam tugasnya?”

Analis Udi Segal menyebut perang ini sebagai hasil dari perpaduan tak biasa antara semangat pengorbanan, mistisisme, delusi kebesaran, dan kegilaan. Menurutnya, rakyat Israel menyambut perang seperti bangsa lain, namun dengan keyakinan bahwa ini adalah misi suci.

Perang yang Menggerus Kekuatan

Serangan militer AS ke Iran terjadi saat kondisi internal Israel mulai tergerus. AS bahkan memperingatkan bahwa cadangan rudal pencegat “Hetz” (Arrow) Israel hampir habis.

Seorang pejabat AS, dikutip The Wall Street Journal, menyebut bahwa rudal Hetz-3 bisa habis dalam hitungan minggu jika perang terus berlanjut.

Tak hanya Israel, AS pun mulai cemas akan cadangan rudal mereka sendiri. Yoav Zitun dari Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa alokasi rudal besar-besaran ke Timur Tengah melemahkan kesiapan AS menghadapi potensi konflik lain, seperti dengan Tiongkok.

“Jika situasi ini berlanjut, rudal SM-3 akan menipis dan mengurangi cadangan kami untuk pertempuran besar mendatang,” ujar seorang perwira AS.

Antara Dukungan dan Keraguan

Jajak pendapat INSS pada 17 Juni menunjukkan 73 persen warga Israel mendukung serangan terhadap Iran. Namun, hampir setengahnya—47 persen—meragukan bahwa pemerintah memiliki strategi jelas untuk mengakhiri konflik.

Pernyataan awal yang menyebut operasi hanya akan berlangsung beberapa hari kini terbantahkan oleh realitas. Panglima Militer Letjen Herzi Halevi bahkan meminta warga bersiap menghadapi kampanye militer “berkepanjangan”.

Iran sendiri mengklaim telah menyerang sejumlah target vital Israel, termasuk Bandara Ben Gurion, pusat riset biologi, serta pos komando militer. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara Israel belum sepenuhnya efektif menahan serangan.

Dr. Michael Milshtein dari Universitas Tel Aviv mengingatkan agar Israel tidak terjebak dalam ambisi menggulingkan rezim Iran. Fokus utama, katanya, seharusnya tetap pada isu nuklir.

Ketahanan Rezim dan Solidaritas Nasional Iran

Dr. Raz Zimmt dari INSS menyimpulkan bahwa Iran berhasil mempertahankan stabilitas internalnya. Meski program nuklir mereka terganggu, kerusakan belum mencapai tahap kritis. Fasilitas penting seperti Fordow dilaporkan masih utuh.

Tak ada tanda-tanda krisis legitimasi. Justru, serangan Israel memperkuat dukungan publik dan rasa solidaritas nasional di Iran. Pemerintah memanfaatkan narasi ini untuk membangun citra sebagai kekuatan yang mampu menahan tekanan asing.

Pakar Mamoun Abu Amer menilai bahwa menggulingkan rezim Iran tanpa intervensi darat besar-besaran hampir mustahil. Ia menyamakan kondisi ini dengan invasi AS ke Irak pada 2003.

“Upaya mengeksploitasi perpecahan etnis dan sektarian di Iran juga terbukti gagal,” katanya.

Senada, Mokhtar Haddad dari Al-Wefaq menyebut serangan Israel justru menyatukan elemen-elemen politik dalam negeri Iran.

Bayang-Bayang Bom Nuklir

Ketegangan berkepanjangan justru memicu kekhawatiran bahwa Iran akan secara terbuka menyatakan diri sebagai negara pemilik bom nuklir.

Ehud Barak menyebut bahwa keputusan AS di bawah Trump keluar dari perjanjian nuklir 2018—atas desakan Israel—hanya mempercepat program Iran.

“Saat itu, Iran masih 18 bulan dari bom nuklir. Sekarang mereka punya cukup bahan fisil untuk 10 bom, punya teknologinya, dan fasilitas generasi baru yang dibangun di kedalaman 800 meter,” jelasnya.

Baca Juga: Iran Serang Pangkalan Militer AS di Qatar, Ketegangan Meningkat

Baca Juga: Listrik Mati Terancam Gelap Gulita, Iran Hujani Israel dengan Rudal

Prof. Assaf Medani melontarkan pertanyaan menggugah:

“Bagaimana jika kita gagal menghancurkan program nuklir Iran? Bagaimana jika mereka telah melampaui ambang batas?”

Dr. Zimmt menegaskan bahwa bagi Teheran, kelangsungan rezim adalah prioritas mutlak, dan program nuklir adalah “polis asuransi” terhadap tekanan eksternal.

Pernyataan PM Netanyahu bahwa ancaman nuklir Iran telah “dihapus” dipandang sejumlah analis sebagai klaim tak berdasar.

Mokhtar Haddad bahkan menepis anggapan bahwa serangan berhasil melumpuhkan program nuklir Iran. Menurutnya, kekuatan utama program itu terletak pada sumber daya manusia yang telah menyiapkan skenario darurat jauh sebelum perang.

Mamoun Abu Amer menambahkan bahwa dalam kondisi ekstrem, Iran mungkin akan mengambil langkah drastis: membuka semua front perlawanan.

“Jika mereka merasa eksistensi negaranya terancam, mereka bisa menyerang bukan hanya Israel, tapi juga kepentingan AS di kawasan,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *