LINTASSRIWIJAYA.COM – Perlawanan bersenjata di Jalur Gaza dinilai semakin menunjukkan keunggulan taktis di medan tempur, mengguncang kekuatan militer Israel.
Penilaian ini disampaikan oleh akademisi dan analis militer-strategis, Ahmad al-Sharifi.
Baca Juga: Survei Independen: Sekitar 84.000 Warga Tewas dalam Agresi Israel di Gaza
Baca Juga: Serangan Israel Gempur Gaza: 68 Tewas, Termasuk Korban Saat Antre Bantuan
Ia menegaskan bahwa front pertempuran di Gaza kini semakin terbuka luas, dengan tekanan intens yang dialami pasukan Israel, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat.
Dalam beberapa hari terakhir, faksi-faksi perlawanan Palestina terus melancarkan serangan terhadap pasukan dan kendaraan militer Israel.
Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, melaporkan bahwa para pejuangnya di wilayah timur Khan Younis, Gaza selatan, telah menyerang empat unit alat berat militer Israel menggunakan roket antitank “Yasin 105”. Serangan tersebut diklaim menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel.
Sementara itu, Brigade al-Quds—sayap militer Jihad Islam—juga mengumumkan telah melakukan serangkaian serangan terhadap posisi pasukan Israel di berbagai titik di Jalur Gaza.
Baca Juga: Perlawanan Palestina Hambat Agresi Militer Israel di Gaza Selatan
Baca Juga: Houthi Lancarkan Serangan Rudal ke Israel, Klaim Balasan atas Aksi Militer di Gaza
Dalam analisisnya, Al-Sharifi menilai bahwa perlawanan Palestina menunjukkan keunggulan taktis meski hanya menggunakan persenjataan sederhana.
Ia menyebut kebingungan yang terjadi di tubuh militer Israel disebabkan oleh kegagalan dalam menetapkan tujuan strategis yang realistis sejak awal agresi.
“Ketidaktepatan tujuan itu berdampak langsung pada aspek militer, politik, bahkan situasi domestik di Israel,” ujarnya.
Al-Sharifi menambahkan, intensitas serangan yang terfokus di wilayah Khan Younis merupakan indikasi bahwa faksi perlawanan tengah berupaya memperluas medan pertempuran.
Menurutnya, taktik perlawanan saat ini terbagi ke dalam dua pendekatan utama: menyerang pasukan infanteri Israel menggunakan mortir, serta menghantam kendaraan lapis baja dengan peluru kendali “Yasin 105”, yang disebut sebagai versi pengembangan dari senjata RPG.
Ia juga memprediksi bahwa konflik di Gaza akan memasuki fase baru dalam waktu dekat.
“Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu—yang kini diburu Mahkamah Pidana Internasional—mungkin terpaksa mencari opsi lain. Bisa jadi tekanan dari dalam negeri Israel sendiri akan memaksanya menghentikan perang dan membuka jalan menuju penyelesaian politik,” jelas Al-Sharifi.
Dalam konteks ini, Al-Sharifi tidak menutup kemungkinan terjadinya intervensi langsung oleh Amerika Serikat (AS), baik atas inisiatif sendiri maupun atas permintaan Israel.
Baca Juga: Kelabakan, Militer Israel Bantah Pengakuan Tentara Soal Penembakan Warga Gaza yang Antre Bantuan
Baca Juga: Gaza Kecam Temuan Tablet Narkotika dalam Bantuan Tepung dari Pusat Bantuan AS-Israel
Sebelumnya, dalam konferensi pers pada Jumat lalu, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa gencatan senjata antara Israel dan faksi perlawanan Palestina dapat tercapai dalam waktu sepekan.
Di sisi lain, keluarga para sandera Israel yang masih ditahan di Gaza terus menggelar aksi protes di Yerusalem dan Tel Aviv. Mereka mendesak Presiden Trump untuk turut campur tangan demi menghentikan perang dan memulangkan para tawanan. ***

