Pezeshkian Bicara Luka dan Harapan: ‘Kami Siap Berdamai, Tapi Siapa yang Bisa Percaya Amerika?

Pezeshkian Bicara Luka dan Harapan: ‘Kami Siap Berdamai, Tapi Siapa yang Bisa Percaya Amerika?

Pezeshkian Bicara Luka dan Harapan: ‘Kami Siap Berdamai, Tapi Siapa yang Bisa Percaya Amerika?. (Poto: ist/ist)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Di tengah reruntuhan harapan dan bayang-bayang perang yang terus membayangi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyuarakan sesuatu yang langka: niat untuk berdamai.

Ia menyatakan bahwa Iran tidak menutup pintu untuk melanjutkan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir negaranya.

Baca Juga: Ribuan Bayi Gaza Lapar dan Tak Punya Ibu: Setiap Menit Bisa Jadi Nafas Terakhir Mereka!

Baca Juga: Ini Bukan Film, Ini Gaza: 700.000 Ribu Warga Mengungsi, Gaza Terancam Kelaparan dan Blackout

Namun, di balik ucapannya, tersimpan getir. Pezeshkian meragukan niat baik Washington—bukan tanpa alasan. Dalam benaknya, tergambar jelas kehancuran yang ditinggalkan oleh serangan brutal Israel, yang disebut-sebut didukung oleh AS.

“Kami tidak keberatan duduk kembali di meja perundingan,” ujar Pezeshkian dengan nada datar, namun sarat luka, dalam wawancara dengan Tucker Carlson. “Tapi… bagaimana kami bisa kembali percaya pada Amerika Serikat?”

Pertanyaannya bukan sekadar soal diplomasi. Ini soal luka, soal trauma, dan soal kepercayaan yang telah berkali-kali dikhianati.

Presiden Pezeshkian mengungkapkan bahwa kepercayaan itu runtuh setiap kali Israel menjatuhkan bom, sementara Washington hanya diam atau bahkan ikut mendukung.

“Kami kembali ke meja perundingan… tapi bagaimana jika di tengah jalan, Israel kembali diberi izin untuk menyerang kami? Apa itu bentuk dari itikad baik?”

Dalam wawancara yang emosional itu, Pezeshkian bahkan ditanya langsung—apakah Israel pernah mencoba membunuhnya?

Baca Juga: Gaza Berdarah, 57.523 Tewas, Dunia Masih Bungkam

Baca Juga: Tangisan Gaza Tak Berujung: Lebih dari 57 Ribu Jiwa Terkorban dalam Serangan Brutal Israel

“Mereka memang mencoba,” jawabnya tenang. “Mereka bertindak, tapi gagal.”

Lalu ia menatap ke depan, matanya tak goyah, dan berkata:

“Sebagai orang beriman, saya percaya… hidup dan mati seseorang adalah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Usai wawancara, lewat akun media sosialnya di X (dulu Twitter), Pezeshkian menyampaikan pesan yang mengguncang dunia diplomasi:

“Saya katakan pada Tucker Carlson: Saat kami sedang bernegosiasi dengan itikad baik, atas permintaan Amerika Serikat, Netanyahu menjatuhkan bom—secara harfiah—ke atas diplomasi. Israel menghancurkan perundingan dan membunuh perdamaian. Dunia harus tahu siapa yang menggagalkan proses ini.”

Lebih lanjut, Pezeshkian menyampaikan pesan mengejutkan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei:

“Investor Amerika dipersilakan datang ke Iran.”

Namun, ia menambahkan dengan tajam:

“Bukan Iran yang menghalangi perdamaian. Netanyahu lah yang kembali menyeret kawasan ini ke jurang perang. Presiden AS bisa menghentikannya.”

Konflik antara Israel dan Iran meledak pada 13 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan serangan udara mematikan ke situs-situs militer, nuklir, dan sipil di Iran. 935 orang tewas, dan lebih dari 5.300 orang luka-luka. Angka yang tak hanya menunjukkan kerugian, tapi juga penderitaan manusia yang tak ternilai.

Baca Juga: Netanyahu Kunjungi AS Bahas Gencatan Senjata Gaza dan Pertukaran Tahanan

Baca Juga: GAZA KEHAUSAN: Krisis Air Bersih Mencapai Titik Nadir di Tengah Kepungan Perang

Sebagai balasan, Iran membalas dengan rentetan rudal dan drone yang menyebabkan 29 orang tewas dan lebih dari 3.400 orang terluka, menurut Universitas Ibrani Yerusalem.

Di tengah kobaran api konflik itu, Amerika Serikat turut menyerang tiga situs nuklir utama Iran—Fordo, Natanz, dan Isfahan. Serangan ini datang hanya beberapa hari menjelang putaran keenam perundingan nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington.

Dan akhirnya, pada 24 Juni 2025, sebuah gencatan senjata rapuh disponsori oleh AS. Tapi apakah itu cukup? Atau hanya sekadar jeda sebelum babak kehancuran berikutnya?. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *