LINTASSRIWIJAYA.COM – Serangan pasukan dan drone militer Israel sejak Selasa dini hari (25/6/2025) menewaskan sedikitnya 86 warga Palestina, termasuk 56 orang yang tewas di sekitar titik distribusi bantuan di Jalur Gaza yang masih terkepung.
Informasi ini disampaikan oleh sumber medis dari sejumlah rumah sakit di wilayah tersebut.
Baca Juga: Serangan Udara Israel Gempur Gaza, 43 Warga Tewas—Al-Qassam Klaim Tewaskan Tiga Tentara Israel
Baca Juga: Kisah Noor Abu Aisha: Guru Relawan Gaza yang Selamat dari Serangan Rudal di Sekolah Al-Nasr
Di Kota Rafah, Gaza bagian selatan, sebanyak 27 warga yang sedang mengantre bantuan dilaporkan tewas akibat tembakan militer Israel.
Korban jiwa ini menambah panjang daftar kematian dalam gelombang kekerasan yang hampir terjadi setiap hari di sekitar titik distribusi bantuan.
Titik-titik ini mulai dibuka sejak akhir bulan lalu oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat.
Namun, Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyebut distribusi ini sebagai “jebakan maut”.
Menurut kantor berita Associated Press (AP), sedikitnya 25 orang tewas dan lebih dari 140 lainnya luka-luka—62 di antaranya dalam kondisi kritis—di Jalan Salah al-Din, wilayah selatan Wadi Gaza.
Baca Juga: Gempuran Israel di Gaza Tewaskan 51 Warga Palestina dalam 24 Jam, Total Korban Tembus 187 Ribu
Baca Juga: Lebih dari 55.000 Warga Palestina Tewas Sejak Oktober 2023, Serangan Israel Terus Berlanjut di Gaza
Rekaman video yang telah diverifikasi oleh Sanad, unit verifikasi Al Jazeera, menunjukkan jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat.
Kondisi serupa juga dilaporkan di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis dan Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza. Di beberapa lokasi, saksi mata menyatakan bahwa tentara Israel menembaki warga sipil yang mencoba mendekati truk-truk bantuan.
“Itu adalah pembantaian,” kata Ahmed Halawa, salah satu saksi mata, kepada AP. Ia mengungkapkan bahwa tank dan drone militer Israel menembaki warga “bahkan saat mereka mencoba melarikan diri.”
Militer Israel menyatakan sedang menyelidiki laporan jatuhnya korban di sekitar Koridor Netzarim yang dijaga ketat, setelah sekelompok warga dilaporkan mendekati posisi pasukan. Israel sebelumnya mengklaim bahwa serangan terhadap warga sipil di sekitar lokasi distribusi bantuan dipicu oleh kehadiran “tersangka”.
Namun, sejumlah kelompok kemanusiaan dan saksi mata menyebut bahwa sebagian besar penembakan terjadi tanpa peringatan.
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers menyoroti besarnya jumlah korban jiwa di titik-titik distribusi bantuan. Menurutnya, peristiwa tersebut mencerminkan “kengerian yang terjadi di Gaza.”
Baca Juga: Serangan Israel di Gaza: 70 Warga Palestina Gugur, Termasuk Anak-Anak dan Pengungsi
Baca Juga: Gelombang Protes di Eropa Desak Penghentian Serangan Israel ke Gaza
“Orang-orang tewas hanya karena mencoba mendapatkan makanan dari sistem distribusi bantuan yang termiliterisasi—sistem yang sama sekali tidak memenuhi prinsip kemanusiaan yang independen, adil, dan tidak memihak,” tegas Dujarric.
Ia menambahkan, “Sudah saatnya para pemimpin dari kedua pihak menunjukkan keberanian politik untuk menghentikan pertumpahan darah ini.” ***

