Serangan Mematikan di Beit Hanoun Tewaskan 5 Tentara Israel, Perlawanan Palestina Meningkat

Serangan Mematikan di Beit Hanoun Tewaskan 5 Tentara Israel, Perlawanan Palestina Meningkat

Neraka di Beit Hanoun, Serangan Mematikan Palestina Bikin Pasukan Israel Kocar-Kacir!. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Malam mencekam kembali menyelimuti Jalur Gaza. Serangan terkoordinasi yang dilancarkan kelompok perlawanan Palestina di Beit Hanoun, Gaza utara, pada Senin malam (7/7), menewaskan sedikitnya lima tentara Israel dan melukai 14 lainnya. Media Israel menyebutnya sebagai salah satu insiden paling mematikan bagi pasukan mereka sejak awal agresi militer ke Gaza.

Menurut militer Israel dalam pernyataan Selasa pagi, serangan itu dimulai ketika alat peledak diledakkan tepat saat kendaraan lapis baja melintas di wilayah tersebut. Belum sempat pulih dari ledakan pertama, rudal antitank menghantam robot militer yang membawa amunisi, yang tengah dipersiapkan untuk operasi.

Serangan tak berhenti di situ. Kelompok perlawanan turut menargetkan tim penyelamat Israel yang dikirim ke lokasi. Ledakan besar mengguncang area sekitar dan bahkan terdengar hingga kota Ashkelon, mempertegas skala serangan ini.

Salah satu korban luka dilaporkan adalah seorang perwira tinggi. Laporan awal sempat menyebut beberapa tentara hilang, namun kemudian dipastikan bahwa jenazah mereka ditemukan dalam kondisi hangus terbakar.

Pasukan yang menjadi sasaran dalam serangan ini merupakan bagian dari unit teknik tempur elit Israel, Yahalom, yang dikenal kerap ditugaskan dalam operasi penghancuran rumah-rumah warga Palestina. Menurut koresponden Al Jazeera di Palestina, Najwan Samri, unit ini memainkan peran kunci dalam perusakan sistematis infrastruktur sipil Gaza.

Media Israel menggambarkan lokasi serangan sebagai “zona kekacauan total”, dengan kendaraan militer terbakar dan beberapa prajurit masih sempat dilaporkan hilang. Rangkaian serangan yang dilakukan menunjukkan tingkat perencanaan tinggi: satu ranjau meledak di bawah tank, ranjau kedua menyasar tim penyelamat, ranjau ketiga menyerang tim tambahan, dan ranjau keempat disertai tembakan senjata ringan ke arah korban yang sudah tergeletak.

Pasukan yang terlibat dalam operasi ini juga mencakup Batalion Netzah Yehuda, yang dikenal merekrut tentara dari komunitas Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi).

Helikopter militer segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban, sementara sejumlah rumah sakit bersiaga dengan titik pendaratan darurat untuk menerima tentara yang terluka. Penyelidikan resmi atas insiden ini telah dimulai oleh Komando Selatan Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu—yang saat kejadian sedang berada di Gedung Putih dan masih berstatus sebagai buronan Mahkamah Pidana Internasional—telah menerima laporan langsung mengenai insiden ini.

Gelombang Serangan yang Terus Meningkat

Menanggapi operasi tersebut, juru bicara sayap militer Hamas, Abu Ubaida, menegaskan bahwa “peti mati tentara Israel akan terus berdatangan” selama agresi ke Gaza belum dihentikan. Ia juga menyatakan bahwa kelompoknya berkomitmen untuk terus meruntuhkan wibawa militer Israel.

Serangan ini menjadi bagian dari pola eskalasi operasi perlawanan yang semakin efektif dalam beberapa pekan terakhir. Media Israel melaporkan bahwa bulan Juni 2025 merupakan bulan paling mematikan bagi pasukan mereka sejak perang dimulai, dengan sedikitnya 20 tentara dan perwira tewas.

Sekitar 10 hari lalu, Israel mengonfirmasi kematian satu perwira dan enam tentara dalam pertempuran di Gaza selatan. Pada waktu hampir bersamaan, empat tentara juga tewas dan 17 lainnya luka-luka dalam penyergapan di Khan Younis.

Minggu lalu, dalam waktu hanya tiga jam, kelompok perlawanan melancarkan tiga serangan terhadap Brigade 98 Israel di kawasan Shuja’iya, Gaza utara. Satu tentara tewas dan delapan lainnya luka-luka, termasuk tiga dalam kondisi kritis, dari unit elite Egoz. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *