LINTASSRIWIJAYA.COM – Ketegangan terbaru di Suriah kembali menyoroti komunitas Druze, menyusul pengumuman penarikan pasukan militer dan keamanan dari kota Suweida.
Langkah ini merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah dan tokoh-tokoh Druze, yang terjadi di tengah gelombang serangan udara Israel ke wilayah Suriah dengan dalih “melindungi kaum Druze”.
Baca Juga: Slovenia Nyatakan Dua Menteri Israel Sebagai Persona Non Grata Imbas Tragedi Gaza
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata Usai Serangan Israel ke Gereja Katolik di Gaza
Dalam lanskap politik Timur Tengah yang kompleks, kaum Druze memiliki posisi strategis. Mereka tersebar di wilayah perbatasan yang mencakup Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, hingga Dataran Tinggi Golan yang kini diduduki Israel.
Siapa Kaum Druze?
Druze adalah komunitas religius Arab dengan ikatan internal yang kuat. Mereka menganut ajaran keagamaan yang berkembang pada abad ke-11, memadukan unsur Islam dan filsafat lain, yang dijalankan secara tertutup.
Di Suriah, komunitas ini mayoritas bermukim di Provinsi Suweida, wilayah selatan yang berbatasan dengan Yordania, serta di sebagian wilayah Quneitra dekat Dataran Tinggi Golan. Di Damaskus, mereka juga dikenal menghuni kawasan Jaramana.
Sementara itu, di Israel, komunitas Druze tersebar di wilayah utara dan daerah Golan yang diduduki. Di Lebanon, mereka banyak ditemukan di wilayah pegunungan seperti Chouf, Aley, hingga Hasbaya di selatan negara tersebut.
Baca Juga: PM Italia: Serangan Israel ke Gereja Katolik Gaza Gak Bisa Ditolerir!
Baca Juga: Gereja Katolik Satu-satunya di Gaza Diserang Israel, 2 Tewas dan Pastor Terluka
Pengaruh Politik Regional
Meski populasinya relatif kecil, kaum Druze memiliki pengaruh signifikan dalam politik negara-negara tempat mereka tinggal.
Di Israel, jumlah mereka diperkirakan mencapai 150.000 jiwa. Banyak dari mereka yang bertugas di militer dan kepolisian, bahkan di medan konflik seperti Gaza. Beberapa tokoh Druze juga menduduki posisi penting di struktur militer dan pemerintahan, menjadikan suara komunitas ini cukup diperhitungkan di Tel Aviv.
Namun, tidak semua kaum Druze di Israel menerima status sebagai warga negara. Lebih dari 20.000 Druze yang tinggal di wilayah Dataran Tinggi Golan masih menyatakan loyalitas kepada Suriah, serta menjaga hubungan erat dengan keluarga di seberang perbatasan.
Seiring meningkatnya seruan dari kaum Druze di Israel untuk membantu saudara mereka di Suriah, para pemimpin Israel kerap menggunakan dalih “melindungi kaum Druze” untuk melancarkan serangan ke wilayah Suriah dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Distribusi Bantuan di Gaza Lumpuh Total, UNRWA Desak Sistem Lama Diaktifkan Kembali
Baca Juga: Penulis Israel: Perang Gaza Tak Boleh Berakhir, Israel Bisa Jadi Negara Terbuang
Situasi di Suriah
Di Suriah sendiri, populasi Druze diperkirakan mencapai satu juta jiwa. Mereka sempat terlibat dalam unjuk rasa menentang Presiden Bashar al-Assad pada tahun 2011. Namun, berbeda dengan kawasan Sunni, bentrokan langsung antara Druze dan pemerintah tidak banyak terekspos ke publik.
Sejak jatuhnya rezim Assad pada Desember tahun lalu, hubungan antara komunitas Druze dan pemerintahan baru di Damaskus mulai retak. Ketegangan bahkan sempat memicu bentrokan di beberapa wilayah.
Beberapa tokoh Druze menyerukan rekonsiliasi dengan pemerintah baru. Namun, tokoh berpengaruh seperti Syaikh Hikmat al-Hijri menyuarakan penolakan terbuka. Ia menyerukan perlawanan terhadap pasukan pemerintah dan meminta perlindungan internasional, termasuk kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pendekatan ini ditolak oleh tokoh Druze asal Lebanon, Walid Jumblatt. Ia menentang keras gagasan bahwa Israel dapat menjadi pelindung bagi Druze di Suriah.
Ia menegaskan, permintaan “perlindungan internasional” justru berisiko memperburuk situasi dan menyerukan persatuan nasional bagi seluruh rakyat Suriah.
Baca Juga: Kapal Hanzala Tiba di Italia, Siap Lanjutkan Misi Tembus Blokade Gaza
Baca Juga: Gaza di Ambang Kiamat Kemanusiaan: Rumah Sakit Kolaps, Anak-anak Terancam Nyawa
Motif Israel?
Serangan udara Israel ke Suriah bukan hal baru. Selama pemerintahan Bashar al-Assad, Israel kerap melancarkan serangan ke wilayah Suriah dengan alasan membendung pengaruh Iran dan milisi-milisi yang didukung Teheran.
Kini, pemerintahan baru Suriah dianggap Israel sebagai ancaman “jihadis”. Israel menolak kehadiran milisi baru di wilayah selatan Suriah, dan menyerukan agar kawasan dari Golan hingga Gunung Druze menjadi zona bebas senjata.
Sejak Desember lalu, Israel bahkan dilaporkan telah menguasai sebagian wilayah Suriah di dekat perbatasan Golan.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis (waktu setempat), Presiden Suriah Ahmad al-Shara menyatakan bahwa kaum Druze adalah bagian tak terpisahkan dari struktur bangsa Suriah.
“Entitas Israel selalu berusaha menciptakan ketidakstabilan dan memecah belah masyarakat kami. Kini, dengan dalih melindungi Druze, mereka ingin menjadikan tanah kami sebagai panggung kekacauan tanpa akhir,” ujar Shara. ***
