Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Kehancuran Total, Wabah Penyakit Ancam Ribuan Pengungsi

Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Kehancuran Total, Wabah Penyakit Ancam Ribuan Pengungsi

Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Kehancuran Total, Wabah Penyakit Ancam Ribuan Pengungsi. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Sistem kesehatan di Jalur Gaza kini berada di ambang kehancuran total. Di tengah agresi militer Israel yang terus berlangsung, kelangkaan ekstrem obat-obatan dan peralatan medis membuat sebagian besar rumah sakit utama terancam berhenti beroperasi.

Direktur Rumah Sakit Lapangan Kementerian Kesehatan Gaza, dr. Marwan al-Hams, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, menggambarkan kondisi yang sangat kritis.

Baca Juga: Spekulasi Normalisasi Suriah-Israel Menguat di Tengah Ketegangan Gaza dan Iran

Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan

Ia menyebut bahwa sebagian besar pasien yang dibawa dari pusat-pusat distribusi bantuan mengalami luka parah dan membutuhkan perawatan intensif.

“Situasinya sangat mengerikan. Kami terpaksa membagi satu dosis obat untuk dua bahkan tiga pasien,” ungkap dr. al-Hams.

Ia menjelaskan bahwa unit perawatan intensif (ICU) penuh sesak, sementara banyak pasien mengalami cedera berat di bagian tubuh bagian atas—cerminan kekerasan brutal yang masih terus berlangsung.

Tak hanya sistem kesehatan yang lumpuh, Gaza kini juga menghadapi ancaman serius wabah penyakit.

Dr. al-Hams memperingatkan potensi merebaknya meningitis (radang selaput otak) di tengah kondisi pengungsian yang penuh sesak dan minim sanitasi.

Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target

Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza

Peringatan tersebut sejalan dengan laporan dari Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, yang mencatat sedikitnya 35 kasus meningitis pada anak-anak—angka tertinggi yang pernah tercatat di wilayah tersebut.

Para dokter menegaskan, penyakit ini bisa menyebabkan gangguan kognitif dan sensorik permanen jika tidak segera ditangani.

Buruknya sanitasi, kepadatan kamp pengungsi, dan lemahnya sistem imun anak-anak akibat malnutrisi memperburuk situasi. Gaza kini menghadapi kombinasi mematikan: perang, kelaparan, dan wabah penyakit.

Pemerintah Gaza mencatat bahwa sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 580 warga sipil tewas dan lebih dari 4.000 lainnya terluka saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan. Sebanyak 39 orang dilaporkan hilang.

Secara keseluruhan, jumlah korban jiwa dan luka akibat agresi tersebut telah mendekati 190.000 orang, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Baca Juga: Di Gaza, Mencari Tepung adalah Perjuangan Antara Hidup dan Mati

Baca Juga: Perlawanan Palestina Guncang Militer Israel, Analis: Medan Tempur Gaza Kian Terbuka

Lebih dari 11.000 warga lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, kelaparan akut telah merenggut banyak nyawa, termasuk puluhan anak-anak.

Meski dunia internasional telah mengeluarkan berbagai kecaman dan Mahkamah Internasional memerintahkan penghentian agresi, Israel tetap melanjutkan operasinya dengan dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat.

Dalam kondisi putus asa, warga Gaza terus menyerukan perhatian dan tindakan nyata dari dunia internasional.

“Kami tidak meminta peralatan canggih atau teknologi tinggi. Kami hanya butuh infus, antibiotik, dan tempat tidur untuk merawat yang terluka,” kata dr. al-Hams dengan nada haru. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *