LINTASSRIWIJAYA.COM — Di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran serta konflik berkepanjangan di Gaza, muncul kembali spekulasi mengenai kemungkinan normalisasi hubungan diplomatik antara Suriah dan Israel.
Dua media terkemuka Israel, Israel Hayom dan Haaretz, baru-baru ini menyoroti potensi terobosan diplomatik antara kedua negara yang telah bermusuhan selama lebih dari setengah abad.
Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan
Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target
Keduanya juga mengulas sejumlah syarat dan tantangan besar yang mengiringi upaya tersebut.
Syarat dari Suriah
Mengutip laporan saluran berita Lebanon LBCI, Israel Hayom menyebutkan bahwa pemerintah baru Suriah di bawah Presiden Ahmad al-Sharaa—yang menggantikan Bashar al-Assad setelah jatuhnya rezim lama pada Desember 2024—telah mengajukan beberapa syarat untuk membuka pintu normalisasi.
Syarat utama itu antara lain:
Pengakuan resmi Israel terhadap pemerintahan Ahmad al-Sharaa,
Penarikan penuh Israel dari wilayah-wilayah yang didudukinya setelah kejatuhan Assad,
Penghentian total serangan udara Israel ke wilayah Suriah,
Pengaturan ulang sistem keamanan di wilayah selatan Suriah,
Jaminan dan dukungan politik dari Amerika Serikat terhadap pemerintahan baru Damaskus.
Sebagai imbal balik, Suriah disebut bersedia mempertimbangkan pengakuan permanen atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan—wilayah strategis yang dicaplok Israel pada 1967 dan dianeksasi secara sepihak.
Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza
Baca Juga: Di Gaza, Mencari Tepung adalah Perjuangan Antara Hidup dan Mati
Jika kesepakatan ini benar-benar tercapai, maka akan menjadi langkah diplomatik paling signifikan sejak permusuhan kedua negara dimulai pasca Perang Enam Hari.
Isyarat dari Washington
Tanda-tanda ke arah normalisasi muncul seiring dengan meningkatnya keterlibatan Amerika Serikat, terutama dalam upaya memperluas Abraham Accords, yang sebelumnya telah melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Dalam wawancara dengan CNBC, Utusan Timur Tengah Gedung Putih, Steven Witkoff, mengungkapkan bahwa “pengumuman besar” mengenai normalisasi diplomatik dari negara-negara yang selama ini dianggap mustahil menjalin hubungan dengan Israel akan segera diumumkan.
Mantan Presiden Donald Trump, dalam pernyataan kepada Fox News, juga tidak menampik kemungkinan Suriah masuk dalam gelombang normalisasi. Ia bahkan mengaku telah mencabut sebagian sanksi terhadap Damaskus atas permintaan sejumlah sekutu di kawasan.
Utusan khusus Trump untuk Suriah, Thomas Barrack, menyebut bahwa Presiden Ahmad al-Sharaa menunjukkan sinyal positif untuk menciptakan perdamaian di kawasan perbatasan, dengan menyebut bahwa pembicaraan awal akan dimulai dalam bentuk dialog tidak langsung.
Tantangan Berat
Meski demikian, jalan menuju normalisasi tidak mudah. Haaretz menekankan sejumlah hambatan besar, termasuk status Dataran Tinggi Golan yang menjadi titik sensitif dalam hubungan kedua negara.
Pengakuan Trump atas kedaulatan Israel di Golan selama masa kepresidenannya menjadi batu sandungan utama, karena bertentangan dengan klaim Suriah yang masih menganggap wilayah tersebut sebagai bagian sah dari negaranya.
Selain itu, kehadiran militer Israel di wilayah barat daya Suriah serta serangan udara ke Suriah, Lebanon, dan target-target Iran menunjukkan bahwa bagi Tel Aviv, aspek keamanan nasional tetap menjadi prioritas utama, meski berisiko menghambat peluang diplomatik.
Baca Juga: Survei Independen: Sekitar 84.000 Warga Tewas dalam Agresi Israel di Gaza
Baca Juga: Perlawanan Palestina Hambat Agresi Militer Israel di Gaza Selatan
Di tengah tekanan regional atas agresi Israel di Gaza dan ketegangan dalam negeri Suriah, perundingan tidak langsung antara kedua negara dikabarkan masih terus berlangsung.
Namun, Haaretz memperingatkan bahwa eksploitasi berlebihan oleh Israel terhadap kondisi geopolitik saat ini bisa menjadi bumerang. Tekanan eksternal yang terlalu kuat bisa mempersulit posisi Ahmad al-Sharaa dalam membujuk rakyat Suriah, yang masih trauma akibat konflik berkepanjangan dan pendudukan asing. ***

