Tak Peduli Usia, Tentara Israel Seret Kakek 80 Tahun di Tengah Malam

Tak Peduli Usia, Tentara Israel Seret Kakek 80 Tahun di Tengah Malam

Tak Peduli Usia, Tentara Israel Seret Kakek 80 Tahun di Tengah Malam. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Seorang warga lanjut usia Palestina, Jamil Haribat (80), menjadi korban penyiksaan tentara Israel dalam sebuah penggerebekan brutal di rumahnya, Rabu dini hari (9/7), di kota al-Thabaqa, selatan Hebron, Tepi Barat yang diduduki.

Tanpa memedulikan usia renta dan kondisi kesehatannya, pasukan Israel menggiring Haribat keluar rumah dengan mata tertutup, tangan diborgol, dan tanpa alas kaki.

Baca Juga: Pedro Sánchez Tuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza, Bandingkan Netanyahu dengan Putin

Baca Juga: Populasi Gaza Turun 10 Persen, Anak Muda Jadi Korban Terbanyak: Dunia Diam, Gaza Hancur Perlahan

Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak ia hanya mengenakan pakaian tidur saat digelandang tentara bersenjata lengkap.

“Setelah mengobrak-abrik rumah saya dan rumah anak saya, mereka menyeret saya menuruni tangga dengan kasar, tak peduli saya sudah tua dan sakit-sakitan,” ujar Haribat kepada media lokal.

Penggerebekan terjadi sesaat sebelum fajar, saat puluhan tentara Israel yang didukung kendaraan lapis baja menerobos permukiman. Haribat dibawa ke pintu masuk desa dalam iring-iringan militer, di tengah teriakan dan ancaman.

Dalam interogasi, ia ditanyai soal identitas pemuda Palestina yang dituduh melempar batu ke arah pasukan Israel.

“Kalau kalian, tentara dan intelijen, tidak tahu siapa mereka, bagaimana saya bisa tahu? Saya cuma orang tua yang sakit,” kata Haribat.

Baca Juga: Bantuan Berdarah, 80% Korban di Gaza Adalah Anak Muda, Bukan Sembako yang Datang, Tapi Maut

Baca Juga: Anak-Anak Tertidur dalam Reruntuhan: 47 Nyawa Warga Gaza Direnggut Tanpa Ampun

Namun jawaban itu justru berujung ancaman. Seorang perwira militer memperingatkan bahwa rumahnya akan terus digerebek setiap minggu jika ia tak memberikan informasi yang diminta.

Penangkapan dan penyiksaan terhadap warga sipil, termasuk lansia, bukan hal baru di Tepi Barat. Militer Israel secara rutin melakukan penggerebekan malam hari dengan dalih memburu “tersangka”, yang sering kali tanpa proses hukum jelas.

Sejak 21 Januari 2025, Israel meningkatkan operasi militer berskala besar di wilayah utara Tepi Barat—dimulai dari Jenin, lalu meluas ke Tulkarm dan kamp pengungsi Nour Shams.

Seiring agresi brutal di Jalur Gaza, kekerasan oleh tentara Israel dan pemukim Yahudi bersenjata juga terus meningkat di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

Menurut data resmi Palestina, sejak Oktober 2023, setidaknya 994 warga Palestina tewas dan hampir 7.000 lainnya terluka di wilayah Tepi Barat.

Sementara itu, di Jalur Gaza, perang yang disebut sebagai bentuk genosida oleh sejumlah negara dan lembaga HAM internasional, terus berlanjut.

Baca Juga: Krisis Bahan Bakar Ancam Lumpuhkan RS Al-Shifa di Gaza: “Bukan Bom, Tapi Blokade yang Membunuh”

Baca Juga: Bayi Kembar Gaza Korban Kelaparan: Satu Tewas, Satu Bertahan Hidup

Serangan demi serangan—didukung penuh oleh Amerika Serikat—telah menewaskan dan melukai lebih dari 195.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Lebih dari 11.000 orang masih hilang, dan ratusan ribu lainnya hidup mengungsi dalam kondisi kelaparan dan penderitaan yang belum berakhir. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *