Tenda Pengungsi Jadi Kuburan: Genosida di Gaza Berlanjut, 78 Warga Palestina Tewas

Tenda Pengungsi Jadi Kuburan: Genosida di Gaza Berlanjut, 78 Warga Palestina Tewas

Tenda Pengungsi Jadi Kuburan: Genosida di Gaza Berlanjut, 78 Warga Palestina Tewas. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM — Langit Gaza kembali memerah oleh dentuman bom dan desing rudal. Dalam serangan brutal yang berlangsung sejak Sabtu malam hingga Ahad dini hari (6/7), lima warga Palestina gugur, menyusul puluhan lainnya yang tewas dalam serangan yang tak henti menghantam wilayah utara dan selatan Jalur Gaza.

Darah belum kering dari serangan di pagi hari, ketika ledakan lain mengguncang kota. Deretan jenazah kembali memenuhi lorong-lorong rumah sakit.

Baca Juga: Kesaksian Prajurit: Ketakutan dan Trauma di Balik Operasi Militer Israel di Gaza

Baca Juga: Pelapor Khusus PBB: Blokade Gaza Harus Diakhiri, Skema Bantuan Adalah Jebakan Sadistik

Tangisan dan jerit pilu pecah di setiap sudut — sebuah pemandangan kelam yang kini telah menjadi rutinitas di tanah terjajah itu.

Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza melaporkan, tiga nyawa tak berdosa melayang usai sebuah apartemen di kawasan At-Tuffah, Gaza timur, dihantam rudal Israel. Tak lama berselang, artileri dan drone tempur menyapu kawasan Syujaiyah dalam serangan bersamaan — mengguncang bumi dan memporak-porandakan sisa harapan.

Di bagian utara, lingkungan padat penduduk Syaikh Radwan ikut disapu api. Serangan mengguncang permukiman warga dan membawa luka serta duka yang kembali harus ditanggung Rumah Sakit Asy-Syifa, tempat para korban bergelut antara hidup dan mati.

Namun tragedi tak berhenti di sana. Di selatan Gaza, tenda-tenda pengungsi yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi kuburan massal. Serangan drone Israel menghancurkan tenda-tenda di Al-Mawasi, barat Khan Younis. Dua warga kembali gugur, sementara puluhan lainnya terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Nasser.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, 78 warga Palestina dilaporkan tewas, menjadikan hari itu sebagai salah satu hari paling berdarah dalam rentetan agresi yang tiada akhir. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, rumah sakit-rumah sakit kewalahan menerima 70 jenazah dan 332 korban luka hanya dalam sehari.

Baca Juga: Elite Arab Dinilai Gagal Tanggapi Genosida Gaza Secara Strategis

Baca Juga: Hamas Gelar Konsultasi Nasional Bahas Usulan Gencatan Senjata: “Demi Rakyat, Demi Gaza”

Sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober 2023, 57.338 orang telah kehilangan nyawa, dan 135.957 lainnya terluka — sebuah catatan kelam yang terus bertambah di tengah pekikan dunia yang makin sunyi.

Israel, di bawah bayang-bayang dukungan tanpa syarat dari Amerika Serikat, terus melanjutkan operasi militer yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida. Serangan membabi buta ini meliputi pembunuhan massal, pengepungan yang menyebabkan kelaparan, penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil, serta pengusiran paksa terhadap warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.

Baca Juga: Laporan PBB Ungkap 60 Perusahaan Dukung Genosida Gaza, Termasuk Microsoft dan Google

Baca Juga: Bom Buatan AS Tewaskan 33 Warga Gaza: Seorang Bayi, Seniman, dan Petinju Perempuan Jadi Korban

Semua ini berlangsung di hadapan dunia — dunia yang memilih diam, sementara perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikan kekerasan dibiarkan menguap tanpa tindakan.

Gaza kembali menangis, dan dunia kembali membisu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *