Trump Tekan Israel, Sidang Netanyahu Dibatalkan | Upaya Spionase Iran Digagalkan Shin Bet

Trump Tekan Israel, Sidang Netanyahu Dibatalkan | Upaya Spionase Iran Digagalkan Shin Bet

Trump Tekan Israel, Sidang Netanyahu Dibatalkan | Upaya Spionase Iran Digagalkan Shin Bet. (Poto: ist/dok aljazeera.net)

LINTASSRIWIJAYA.COM – Sejumlah analis politik Israel mengecam pernyataan kontroversial mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai telah melewati “garis merah” karena secara terang-terangan menekan Israel untuk menghentikan proses hukum terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Dalam pernyataan publiknya, Trump mengancam akan menghentikan bantuan miliaran dolar yang selama ini diberikan Washington kepada Tel Aviv jika persidangan terhadap Netanyahu tetap dilanjutkan. Trump bahkan secara eksplisit meminta agar proses hukum itu dibatalkan.

Baca Juga: Spekulasi Normalisasi Suriah-Israel Menguat di Tengah Ketegangan Gaza dan Iran

Baca Juga: Gaza yang Menggantung: Ketika Kematian Tak Diakui, dan Kehidupan Tak Bisa Dilanjutkan

“Amerika Serikat menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk melindungi dan mendukung Israel, jauh lebih banyak dari negara mana pun. Kami tidak akan mentoleransi ini,” tegas Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kelanjutan kasus hukum yang menjerat Netanyahu, yang saat ini juga menjadi salah satu subjek penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Menanggapi tekanan Trump, saluran berita Israel Channel 12 melaporkan bahwa sidang Netanyahu yang dijadwalkan digelar pekan depan telah dibatalkan. Keputusan itu menyusul pertemuan tertutup Netanyahu dengan otoritas hukum di Pengadilan Distrik Yerusalem.

Koresponden urusan internasional Channel 12, Keren Betzalel, menyatakan bahwa komentar Trump menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelangsungan bantuan militer AS ke Israel yang selama ini bernilai miliaran dolar.

“Jika persidangan ini tidak dibatalkan, apa yang akan terjadi dengan dana bantuan itu?” ujar Betzalel.

Baca Juga: 97 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza, Sekolah Pengungsi Jadi Target

Baca Juga: Netanyahu Gelar Pertemuan Keamanan di Tengah Desakan Trump untuk Akhiri Perang Gaza

Ia menegaskan bahwa bantuan militer tersebut bukan ditujukan bagi kepentingan pribadi Netanyahu, melainkan untuk kepentingan keamanan nasional Israel.

Betzalel juga mengingatkan bahwa paket bantuan tersebut telah disepakati lintas partai—baik Demokrat maupun Republik—dan nilainya meningkat signifikan sejak era Presiden Barack Obama, terutama setelah penandatanganan kesepakatan nuklir dengan Iran satu dekade lalu.

Meski menyatakan terkejut atas campur tangan langsung Trump dalam sistem peradilan Israel, Betzalel mengaku kesulitan memahami logika yang mengaitkan proses hukum dengan keberlangsungan bantuan militer.

Upaya Spionase Iran di Jantung Israel

Dalam perkembangan lain, Channel 12 juga melaporkan terungkapnya upaya spionase Iran yang hampir saja berhasil di wilayah Israel. Insiden ini semakin mempertegas ancaman keamanan yang dihadapi negara tersebut.

Baca Juga: Di Gaza, Mencari Tepung adalah Perjuangan Antara Hidup dan Mati

Baca Juga: Perlawanan Palestina Guncang Militer Israel, Analis: Medan Tempur Gaza Kian Terbuka

Menurut laporan yang dikutip dari analis politik Dana Weiss, sebuah alat peledak ditemukan tertanam di dekat kediaman Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, di Kfar Haim. Bom itu diduga dirancang untuk meledak tepat saat menteri melintas.

Dua warga Israel, Rou’i Mazrahi dan rekannya Almog Atias, didakwa sebagai pelaku utama dalam skenario serangan tersebut. Keduanya disebut menerima imbalan besar untuk bergabung dalam jaringan mata-mata yang terhubung dengan Iran. Mereka juga menempatkan kamera pengintai serta bahan peledak di sekitar rumah Menteri Katz.

Lebih lanjut, laporan menyebut bahwa keduanya sempat berdebat mengenai kompensasi dari Iran untuk melaksanakan pembunuhan terhadap seorang ilmuwan di Institut Weizmann.

Aparat keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, berhasil menggagalkan rencana tersebut pada detik-detik terakhir. Kedua tersangka kini menghadapi dakwaan berat, termasuk berkolaborasi dengan agen asing. Khusus bagi Mazrahi, jaksa menambahkan pasal lebih serius yakni “membantu musuh selama masa perang.”

Baca Juga: Survei Independen: Sekitar 84.000 Warga Tewas dalam Agresi Israel di Gaza

Baca Juga: Houthi Lancarkan Serangan Rudal ke Israel, Klaim Balasan atas Aksi Militer di Gaza

Insiden ini menjadi peringatan keras akan tingkat kerentanan Israel terhadap infiltrasi asing, terutama di tengah meningkatnya ketegangan regional dan krisis politik internal yang belum mereda. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *